Bisnis.com, JAKARTA – Mirae Asset Sekuritas Indonesia menurunkan target harga saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) selepas raksasa FMCG itu gencar melepas dua unit bisnisnya belakangan.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Yodhita Maureen Romindo, menilai bahwa kendati pelepasan unit bisnis es krim dan Sariwangi diprediksi memberikan dorong positif terhadap fokus bisnis dan neraca keuangan, tetapi bersifat dilutif terhadap laba dalam jangka pendek.
Untuk itu, Mirae kini tengah menanti upaya pemulihan volume penjualan yang lebih pasti selepas aksi divestasi ini. Dus, target harga saham Unilever diturunkan ke level Rp2.200 per saham dengan rekomendasi trading buy. Target tersebut didasarkan pada proyeksi pertumbuhan EPS inti pada 2026 sebesar 7% dan P/E sebesar 22 kali.
”Kami memilih untuk menunggu bukti yang lebih jelas bahwa pemulihan volume, produktivitas, dan perubahan komposisi produk kecantikan/perawatan tubuh dapat mendorong pertumbuhan EPS yang lebih berkelanjutan,” katanya dalam riset yang dipublikasikan Kamis (5/3/2026).
Baca Juga
- Operasi Besar OJK di Saham 'Sultan Subang' Asep Sulaeman (IPPE-BEBS)
- Harga Emas Antam Hari Ini Kamis (5/3) Naik Rp4.000 per Gram
- Biaya Pengiriman Minyak AS ke Asia Melonjak Tajam
Mirae Asset memprediksi bahwa pada tahun ini, Unilever mampu membukukan pendapatan yang bertumbuh menjadi Rp33,06 triliun, dengan operating profit senilai Rp4,89 triliun. Artinya, kendati proyeksi ini mencerminkan revisi, Unilever diprediksi mampu membuktikan pemulihan volume penjualan selepas divestasi tersebut.
Meskipun begitu, Unilever Indonesia dinilai masih memiliki sejumlah risiko utama, seperti pemulihan 2026 yang cenderung lambat, daya beli yang lemah, lonjakan biaya input atau volatilitas kurs, hingga persaingan dengan FMCG yang meningkat.
Pasalnya, pada tahun lalu, Mirae mencatat margin kotor Unilever turun lantaran tekanan kurs dan biaya bahan baku CPO.
”Tanpa operasi yang dihentikan, bisnis kini berpijak pada platform yang lebih ramping dengan posisi kas bersih, biaya SG&A yang secara struktural lebih rendah, serta portofolio yang lebih terfokus seiring transisi perusahaan menuju laba pasca-divestasi,” katanya.
Secara umum, Mirae menilai bahwa aksi divestasi tersebut membuat UNVR menjadi raksasa FMCG yang lebih berfokus pada produk bermargin tinggi dalam skala bisnis yang lebih kecil. Analis menyebut, laba perseroan ke depan akan semakin didorong oleh bisnis inti Home & Personal Care dan Food & Refreshment.
Sepanjang 2026, Mirae mencatat bahwa Unilever mengekspektasikan pertumbuhan penjualan sedikit di atas rata-rata pasar. Hal itu terutama didukung oleh pemulihan yang berkelanjutan di berbagai kanal penjualan perseroan. Namun, UNVR memprediksi kinerja kuartal I/2026 akan cenderung lemah lantaran pergeseran waktu Ramadhan/Lebaran.
Sementara terkait keuntungan, UNVR disebut hanya memberikan panduan berupa perbaikan margin yang moderat, yang didorong oleh operating leverage, disiplin biaya yang berkelanjutan, hingga keuntungan dari struktur perusahaan yang ramping selepas divestasi.
”Secara keseluruhan, fokus perusahaan tetap pada pelaksanaan strategi ’merek utama plus produktivitas’ untuk membangun kembali kualitas laba secara bertahap, daripada menjanjikan target pendapatan atau margin yang agresif,” kata Yodhita.
Berdasarkan laporan keuangan, penjualan bersih UNVR tercatat Rp31,94 triliun, tumbuh 4,31% yoy dari Rp30,62 triliun pada tahun sebelumnya. Kontributor terbesar masih berasal dari segmen kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh yang menyumbang Rp23,35 triliun atau naik 4,16% yoy.
Sementara itu, segmen makanan dan minuman mencatatkan penjualan Rp8,58 triliun, meningkat 4,74% yoy. Dari sisi geografis, penjualan domestik tumbuh 3,98% yoy menjadi Rp31 triliun. Adapun penjualan ekspor melonjak 16,48% yoy menjadi Rp942,13 miliar.
Unilever sekaligus membukukan lonjakan laba bersih sepanjang 2025. Emiten barang konsumsi itu meraih laba Rp7,64 triliun, melonjak 126,83% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Rp3,36 triliun pada 2024. Torehan itu termasuk laba dari penjualan bisnis es krim.
Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap, menerangkan bahwa keberhasilan Unilever keluar dari jerat laba yang terkoreksi, bersumber dari upaya pemulihan yang belakangan gencar dilakukan perusahaan yang berinduk ke Inggris ini.
"Hasil kinerja kami sepanjang tahun menunjukkan bahwa momentum pemulihan yang telah kami bangun, terus menguat. Langkah-langkah disiplin dan perubahan struktural yang kami terapkan telah memberikan dampak yang berkelanjutan, tercermin dari pertumbuhan dan peningkatan profitabilitas," katanya dalam keterangan resmi, Kamis (12/2/2026).





