Penulis: Fityan
TVRINews - Teheran
Serangan udara besar-besaran menyasar Tehran sementara ketegangan di kawasan Teluk mencapai titik kritis.
Eskalasi militer di Timur Tengah memasuki fase baru kamis 5 Maret 2026, setelah Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke infrastruktur militer di Tehran.
Di saat yang sama, militer Amerika Serikat mengonfirmasi penghancuran kapal perang Iran di Samudra Hindia, memicu kekhawatiran global akan perang terbuka yang lebih luas.
Operasi Militer di Jantung Iran
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan telah memulai "gelombang serangan" baru yang menargetkan pusat-pusat strategis di ibu kota Iran.
Laporan lapangan menunjukkan suara ledakan terdengar hingga ke Yerusalem, menyusul peluncuran rudal balistik tambahan dari pihak Iran yang mengarah ke wilayah Israel.
Kondisi di dalam kota Tehran digambarkan dalam suasana mencekam. Kepada BBC, sejumlah warga sipil mengungkapkan bahwa jalanan di ibu kota kini "terasa kosong." Salah seorang penduduk menyatakan keinginan kolektif untuk mengakhiri konflik, dengan mengatakan bahwa rakyat "berhak mendapatkan kehidupan yang normal."
Insiden Maritim dan Korban Jiwa
Di perairan internasional, Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, mengonfirmasi bahwa kapal selam Amerika Serikat telah menenggelamkan kapal perang Iran, Iris Dena, di Samudra Hindia. Departemen Pertahanan (Pentagon) juga telah merilis rekaman video terkait operasi tersebut.
Insiden ini mengakibatkan kerugian nyawa yang signifikan. Dari sekitar 180 personel yang diyakini berada di atas kapal:
• 32 orang berhasil diselamatkan.
• 80 jenazah telah ditemukan oleh otoritas Sri Lanka.
• Operasi pencarian masih terus berlangsung untuk sisa awak kapal lainnya.
Dinamika Politik di Washington
Di tengah meningkatnya aksi militer, dinamika politik di Amerika Serikat justru menunjukkan dukungan terhadap keleluasaan operasional eksekutif. Anggota parlemen AS dilaporkan memberikan suara menentang langkah pembatasan kekuasaan perang (war powers measure).
Keputusan ini secara efektif mempertahankan kemampuan Presiden Donald Trump untuk memerintahkan tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran tanpa hambatan legislatif yang ketat.
Namun, operasi ini bukan tanpa bayaran bagi pihak AS. Militer Amerika Serikat telah mengidentifikasi dua personel tambahan yang diyakini tewas dalam serangan pesawat nirawak (drone) di Kuwait, menambah daftar kerugian personel di pangkalan luar negeri.
Editor: Redaksi TVRINews





