Harga gas di Eropa melonjak hampir dua kali lipat setelah pasar energi global terguncang akibat serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran yang masih berlanjut.
"Hal ini memicu kekhawatiran langsung terhadap berkurangnya ketersediaan LNG di Eropa, yang mendorong lonjakan di pasar spot, dan peningkatan premi risiko," kata presiden London College of Energy Economics, Yousef M. Alshammari, dalam keterangannya dikutip dari Euronews, Kamis (5/3).
Kontrak gas acuan Eropa, Dutch TTF, melonjak di atas 60 euro per megawatt hour (MWh) sekitar pukul 12.30 waktu setempat pada Selasa (3/3), lonjakan signifikan dari angka rendah 30 euro pada akhir pekan lalu.
"Situasi tetap sangat fluktuatif, dengan pasar memperhitungkan ketidakpastian yang signifikan," kata Alshammari, menyoroti bahwa aliran LNG dari Qatar, pengiriman dari Selat Hormuz dan upaya diplomatik dapat secara signifikan mempengaruhi harga.
Bagi Eropa, ini bisa jadi masalah besar karena benua itu secara bertahap pulih dari krisis yang dipicu invasi Rusia ke Ukraina. Eropa mengurangi ketergantungan pada gas pipa Rusia dan menggantinya dengan LNG yang dikirim lewat jalur laut.
Pergeseran itu membantu Eropa menstabilkan pasokan. Namun, itu juga berarti Eropa lebih bergantung pada rute pengiriman global, kargo spot, dan terminal impor yang semuanya dapat dengan cepat menyempit ketika geopolitik memanas.
Qatar menjadi bagian penting dari hal itu, karena Qatar menyumbang sekitar 12-14 persen impor LNG Eropa. Para pedagang pun harus mengamati situasi di kawasan Teluk dan titik-titik rawannya untuk mencari tanda aliran pasokan dapat terhambat.
"Eropa jauh lebih sedikit bergantung pada minyak dan LNG Teluk dibandingkan China, India, Jepang atau Korea Selatan, tapi bukan berarti terlindungi sepenuhnya," kata laporan Bruegel, lembaga kajian ekonomi yang berbasis di Brussels.
Setiap penyumbatan di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga langsung di pasar minyak dan LNG global, yang akan menghantam Eropa terlepas dari impor langsungnya yang relatif terbatas dari Timur Tengah, karena blok itu bersaing dengan pembeli Asia untuk kargo fleksibel di pasar spot.
Bruegel juga memperingatkan lonjakan harga akan terjadi saat Eropa memulai tahun 2026 dengan tingkat penyimpanan gas yang lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Penyimpanan gas Uni Eropa saat ini sekitar 30 persen kapasitas, di bawah level tahun lalu. Persediaan Jerman sekitar 21,6 persen pada akhir Februari, dan penyimpanan gas Prancis juga berada di kisaran 20 persen.
Alshammari mengatakan lonjakan harga ritel yang signifikan tidak dapat dikesampingkan, tergantung pada durasi dan tingkat keparahan kendala pasokan.
"Jika gangguan saat ini berlanjut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, kita dapat melihat dampak yang signifikan pada tagihan energi ritel," ujarnya.
Namun, banyak rumah tangga dan usaha kecil yang menggunakan tarif tetap atau yang diatur menyesuaikan penundaan. Itu berarti setiap guncangan harga kemungkinan akan terjadi dalam beberapa bulan ke depan.
Dia juga memperingatkan harga yang terus menerus di atas 50-60 euro/MWh dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan pada tagihan listrik dan pemanas, terutama jika dikombinasikan dengan gelombang dingin yang terlambat atau tekanan baru untuk mengisi kembali penyimpanan jelang musim dingin berikutnya.
Negara di Eropa yang Paling Rentan dengan Lonjakan Harga GasPeriode harga tinggi yang berkepanjangan akan sangat membebani industri padat energi seperti industri kimia, pupuk, baja, kaca, dan kertas. Negara seperti Jerman, Italia, dan Belanda dapat mengalami penurunan daya saing, yang berpotensi mengakibatkan pengurangan produksi atau penutupan pabrik.
Sementara rumah tangga berpenghasilan rendah khususnya di Eropa Tengah dan Timur seperti Polandia, Ceko, dan Hungaria, juga di negara-negara di wilayah selatan seperti Italia dan Spanyol juga rentan karena ketergantungan yang tinggi akan gas untuk pemanas, memasak, serta perumahan yang kurang hemat energi.
Usaha kecil dan menengah (UMKM) di Eropa juga kemungkinan akan kesulitan, karena kurangnya kemampuan lindung nilai dan daya tawar perusahaan besar. Atas dasar itu, pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan kembali langkah-langkah dukungan yang ditargetkan untuk melindungi konsumen yang rentan.





