Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel berikut?
1. Seperti apa pengaruh Perang Iran Versus AS-Israel terhadap Indonesia?
2. Harga komoditas apa saja yang turut melonjak akibat konflik di Timur Tengah?
3. Mengapa Ekspor-Impor Indonesia turut terimbas konflik di Timur Tengah?
4. Komoditas ekspor apa saja dari daerah di Indonesia yang terdampak Perang Iran?
5. Mengapa sebagian pelaku usaha di Indonesia menghentikan ekspor ke Timur Tengah?
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi masih akan mengguncang pasar keuangan global dengan target serangan AS hingga beberapa pekan ke depan. Situasi ini mendorong investor di pasar saham mengantisipasi ketidakpastian ekonomi yang berpotensi berdampak ke perdagangan domestik.
Pada perdagangan Selasa (3/3/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di level 8.059, setelah perdagangan Senin (2/3/2026) merosot 2,65 persen ke level 8.016 imbas penjualan saham oleh investor asing dengan nilai bersih Rp 631 miliar. Pada Rabu (4/3/2026), IHSG bahkan terkoreksi tajam hingga 4 persen ke level 7.600 pada perdagangan sesi pertama.
Penurunan ini seiring meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada saat bersamaan, lembaga pemeringkat kredit global Fitch Ratings memberikan proyeksi negatif pada kondisi ekonomi Indonesia. Analis pasar menilai, rilis tersebut turut membebani IHSG.
Selain pasar saham, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga tertekan. Pada Kamis (5/3/2026) nilai tukar rupiah melemah hingga menembus Rp 16.896 per dolar AS. Bahkan, pada Rabu (4/3/2026) siang, nilai tukar rupiah sempat mencapai Rp 16.900 per dolar AS dalam perdagangan pasar spot. Tekanan ini terjadi semenjak pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran pada 28 Februari 2026.
Sejak kembali dibuka pada 2 Maret 2026, rupiah terus mengalami depresiasi. Selama tiga hari beruntun, rupiah melemah sebesar 0,77 persen. Secara tahun kalender berjalan, mata uang ”Garuda” telah terdepresiasi 1,42 persen.
Ekonom senior di Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, dalam kajian analisisnya menjelaskan, ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah mulai berdampak pada lanskap makro Indonesia, terutama melalui kenaikan harga minyak, gangguan pengiriman, dan kekhawatiran terhadap ketahanan energi.
Sejak serangan Israel yang didukung AS ke Iran pada Sabtu (28/2/2026), harga minyak terus merangkak naik. Awal pekan lalu, minyak mentah Brent masih dijual 71,24 dolar AS per barel. Pada Senin (2/3/2026), harga minyak di pasar Asia pada pembukaan perdagangan Brent naik menjadi 80 dolar AS per barel.
Sementara West Texas Intermediate, minyak mentah ringan yang diproduksi di AS, dijual sekitar 72 dolar AS per barel pada Senin pagi. Harga ini, menurut data dari grup CME, naik sekitar 7,3 persen dari harga perdagangan pada Jumat, yakni 67 dolar AS per barel.
Direktur Bagian Timur Tengah dan OPEC pada lembaga analis Kpler, Amena Bakr, memperkirakan, harga minyak mentah bisa terus naik hingga 99 dolar AS per barel.
Selain minyak, harga gas alam juga meroket. Di Eropa harga gas alam naik lebih dari 39 persen setelah perusahaan energi milik Qatar menyatakan menghentikan produksi gas alam cair.
Harga karet alam dunia juga tertekan akibat perang Iran versus AS-Israel. Harganya menurun meninggalkan level psikologis 200 sen dolar AS per kilogram hingga menyentuh 195 sen dolar AS per kilogram. Penurunan harga terjadi di tengah reli panjang kenaikan harga karet di pasar dunia sejak awal tahun.
”Pasar karet diwarnai sentimen meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk isu penutupan Selat Hormuz,” kata Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara Edy Irwansyah, Rabu (4/3/2026).
Edy mengatakan, sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran, harga karet di pasar dunia sedang mengalami tren kenaikan. Harga naik akibat semakin terbatasnya pasokan karet global. Harga karet jenis Technical Specified Rubber (TSR 20) pada awal Maret 2026 menyentuh 205 sen dolar AS per kilogram. Namun, setelah perang Timur Tengah pecah, harga karet terus terkoreksi.
Iran yang tengah berkonflik dengan Amerika Serikat dan Israel resmi menutup Selat Hormuz pada 28 Februari 2026. Penutupan selat itu berpotensi menghambat perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara yang berada di Selat Hormuz dan Timur Tengah.
Perdagangan itu mencakup sektor minyak dan gas bumi (migas) serta nonmigas. Dampak terbesarnya diperkirakan terjadi pada impor migas RI dari sejumlah negara itu. Ini mengingat Indonesia juga merupakan negara pengimpor neto atau net importer migas.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan, selama ini, perdagangan Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah, termasuk di kawasan Selat Hormuz, mencakup sektor migas dan nonmigas. Beberapa negara itu antara lain Iran, Oman, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Qatar.
”Namun, berapa persen yang mungkin akan terganggu akibat penutupan Selat Hormuz tentunya perlu dikaji lebih lanjut,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta, Senin (2/3/2026).
Kendati belum ada kajian dampaknya, Ateng memberikan gambaran mengenai perdagangan migas dan nonmigas Indonesia dengan beberapa negara tersebut. Di sektor migas, total impor migas Indonesia pada Januari 2026 sebesar 891,8 juta dolar AS atau sekitar Rp 150,25 triliun.
Dari total nilai itu, impor migas RI dari Iran hanya senilai 0,42 juta dolar AS. Selain itu, RI juga mengimpor migas dari Arab Saudi senilai 267,4 juta dolar AS, UEA 200,6 juta dolar AS, Qatar 1,8 juta dolar AS, dan Oman 67,9 juta dolar AS.
Ateng juga menunjukkan total nilai serta sejumlah komoditas ekspor dan impor nonmigas Indonesia dengan Iran, Oman, dan UEA pada 2025. Ekspor nonmigas RI ke Iran sebesar 249,1 juta dolar AS dengan komoditas utamanya adalah buah-buahan, kendaraan dan bagiannya, serta lemak dan minyak hewan/nabati.
Impor RI dari Iran senilai total 8,4 juta dolar AS. Komoditas impornya terutama buah-buahan, besi dan baja, serta mesin dan peralatan mekanis.
Perang AS-Israel versus Iran berpotensi berimbas pada aktivitas ekspor komoditas dari berbagai daerah di Indonesia. Jika berkepanjangan, gejolak geopolitik tersebut berpotensi memicu lonjakan biaya logistik sekaligus menekan peluang ekspor.
Salah satu yang terdampak adalah komoditas asal Lampung. Kepala Karantina Lampung Donni Muksydayan mengatakan, situasi konflik di Timur Tengah tentu berpotensi berdampak pada kinerja ekspor berbagai komoditas pertanian asal Lampung. Dia memperkirakan, dampaknya akan mulai terlihat pada Maret 2026.
Secara makro, kata Donni, volume dan nilai ekspor komoditas asal Lampung ke wilayah Timteng memang tidak terlalu besar. Saat ini, negara tujuan utama ekspor adalah China dan AS.
Berdasarkan data Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung, pada Januari-Februari 2026, ekspor komoditas pertanian dengan tujuan kawasan Timteng tercatat 162 kali. Volume ekspor komoditasnya mencapai 41.372,8 ton dengan nilai Rp 394,06 miliar.
Selama ini, komoditas pertanian asal Lampung yang rutin diekspor ke kawasan Timteng, antara lain nanas segar dan nanas irisan kaleng, pisang, kopi, kayu manis, hingga getah damar. Adapun negara tujuan ekspor, antara lain, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, Turki, dan Pakistan.
Selain Lampung, komoditas ekspor dari Jatim juga turut terpengaruh. Berdasarkan analisis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, konflik Timur Tengah akan berdampak secara langsung terhadap hubungan dagang Jatim dengan pelaku usaha di kawasan tersebut.
Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Tommy Kaihatu mengatakan, dari sisi perdagangan luar negeri konflik di Timur Tengah berpotensi menghambat kinerja ekspor Jatim meskipun saat ini kondisinya masih tergolong solid.
”Nilai ekspor Jawa Timur mencapai sekitar 30 miliar dolar AS dengan surplus perdagangan lebih dari 800 juta dolar AS. Sekitar 10 persen dari ekspor tersebut ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah,” ujar Tommy, Selasa (3/3/2026).
Perang Iran menghadapi AS-Israel berimbas pada sektor ekonomi karena meningkatnya harga minyak global. Di Jawa Barat, ekspor produk kopi arabika untuk sementara tertunda.
Wanoja Coffe, salah satu pelaku usaha produksi green bean atau biji kopi mentah arabika di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memutuskan untuk sementara menghentikan ekspor ke kawasan Timur Tengah.
”Kami memutuskan menunda ekspor ke kawasan Timur Tengah sambil memantau kondisi keamanan akibat konflik Iran kontra AS-Israel,” kata Direktur Wanoja Coffee Satrea Amambi saat diwawancarai Kompas, Rabu (4/3/2026).
Satrea menuturkan, kenaikan harga minyak dunia akan berpengaruh pada melonjaknya biaya logistik untuk ekspor yang signifikan. Hal ini juga akan memengaruhi jumlah permintaan dari konsumen.
Sebelum terjadi konflik, lanjut Satrea, Wanoja Coffee biasanya mengeluarkan biaya logistik 3.000-3.500 dolar AS atau Rp 50 juta hingga Rp 59 juta untuk satu kontainer ukuran 20 feet. Diduga, akibat konflik, biaya logistik bakal lebih mahal dari sebelumnya.
Adapun Wanoja Coffee mengekspor 60 ton kopi sepanjang tahun 2025. Sejumlah negara tujuan ekspor kopi arabika Kamojang antara lain Jepang, Belanda, Jerman, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.





