Kesepakatan Rp253 Triliun, Bahlil Yakin Impor Migas dari AS Tetap Cuan

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meyakini Indonesia tetap meraih keuntungan dari pengalihan impor migas. Kebijakan ini diambil di tengah lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.

Realisasi impor merupakan bagian dari kesepakatan dagang terkait negosiasi tarif resiprokal dengan pemerintah Amerika Serikat. Nilai pembelian yang telah disepakati mencapai 15 miliar dolar AS atau setara Rp253 triliun.

Bahlil menyatakan tidak khawatir terhadap potensi pengurangan volume impor akibat tingginya harga komoditas global. Pembelian migas dari Amerika Serikat dipastikan tetap akan mengikuti mekanisme harga pasar.

Kementerian ESDM menilai PT Pertamina memiliki posisi tawar yang kuat dalam melakukan proses pengadaan. Negosiasi dilakukan untuk memastikan setiap transaksi memberikan manfaat maksimal bagi ketahanan energi nasional.

“Saya yakin teman-teman di Pertamina maupun di kami di internal, kami punya kemampuan lah untuk melakukan negosiasi dengan mencari harga yang lebih baik ya,” ujar Bahlil pada Rabu (4/3/2026).

Efisiensi biaya menjadi fokus utama pemerintah dalam menjalankan kesepakatan dagang dengan pihak Amerika Serikat. Upaya mencari harga terbaik dilakukan guna menjaga stabilitas beban belanja energi di dalam negeri.

Koordinasi antara pemerintah dan badan usaha milik negara terus diperkuat dalam menghadapi dinamika pasar. Langkah ini bertujuan untuk mengamankan pasokan migas tanpa memberatkan neraca perdagangan.

Infrastruktur pendukung distribusi migas juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan kesepakatan strategis ini. Pemerintah berkomitmen menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat meskipun situasi geopolitik dunia sedang bergejolak.

Baca Juga: Bahlil: Storage Minyak 3 Bulan di Sumatra Bakal Dibangun Swasta

Keberhasilan negosiasi diharapkan dapat menekan potensi kerugian akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia. Kementerian ESDM memantau secara berkala perkembangan kerja sama ini untuk kepentingan nasional.

Stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas utama di balik pengalihan sumber impor energi tersebut. Kerja sama ini diharapkan memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat di sektor energi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Liarnya Perang Iran-Amerika
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Anatomi Keputusasaan: Membedah Ledakan Timur Tengah dari Bangku Belakang Kelas
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Angin Duduk Itu Mitos, Dokter Tegaskan Itu Serangan Jantung
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
Lapangan Padel di Jakarta tak Ada yang Kantongi Sertifikat Laik Fungsi
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
MBG Banyak Tak Dihabiskan Siswa Jakarta, DPR Minta BGN Evaluasi SPPG
• 39 menit laluliputan6.com
Berhasil disimpan.