Grid.ID – Panggilan kemanusiaan sering kali menuntut pengorbanan yang tidak sedikit, baik tenaga, waktu, hingga keselamatan nyawa. Hal inilah yang kini tengah dirasakan oleh seniman sekaligus aktivis, Chiki Fawzi. Putri dari musisi legendaris Ikang Fawzi ini menyatakan kemantapannya untuk kembali bergabung dalam misi pelayaran internasional menuju Gaza, Palestina, pada 12 April mendatang.
Keputusan Chiki ini nyatanya sempat mengejutkan pihak keluarga. Mengingat risiko tinggi yang membayangi wilayah Timur Tengah, Chiki mengaku sang ayah, Ikang Fawzi, sempat kaget saat pertama kali mendengar niat putrinya tersebut.
"Kaget banget, Mas. Ya kagetlah, (responsnya) macam-macam antara bapak dan anak," ujar Chiki Fawzi saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (4/3/2026).
Namun, melalui pendekatan yang perlahan, Chiki akhirnya berhasil mendapatkan restu dari sang ayah. Meski rasa khawatir adalah hal yang manusiawi bagi orang tua, Ikang Fawzi kini memberikan dukungan penuh bagi perjuangan putrinya.
"Sama Ayah didukung sih. Kalau khawatir pasti ada, namanya orang tua. Pesan Ayah cuma satu: jaga diri, jaga iman," tambah Chiki.
Keberangkatan Chiki kali ini tergabung dalam gerakan internasional bertajuk Global Summit Flotilla, yang di Indonesia bernaung di bawah Indonesia Global Peace Convoy. Misi ini bertujuan untuk membuka koridor kemanusiaan di Gaza melalui jalur laut.
Ini bukan kali pertama Chiki mencoba menembus Gaza. Beberapa bulan lalu, ia sempat tertahan di Tunisia karena situasi geopolitik yang memanas, termasuk adanya serangan di sekitar pelabuhan Sidi Bou Said yang dekat dengan pangkalan udara militer.
"Waktu itu tekanan internasionalnya luar biasa. Kondisi geopolitik sangat fluktuatif. Tapi insya Allah, kami sedang merencanakan pelayaran berikutnya. Targetnya kita akan berada di sana selama kurang lebih dua bulan untuk membersamai masyarakat di Gaza," jelasnya.
Saat ditanya mengapa ia bersikeras menempuh risiko sebesar itu, Chiki menjawab dengan emosional. Baginya, Palestina bukan sekadar isu politik, melainkan masalah kemanusiaan yang mendalam dan kewajiban spiritual.
"Hati saya di sana. Dari segi muslim, ini ada ujian akidah karena kita punya kewajiban memperjuangkan Baitul Maqdis. Dari segi kemanusiaan, apa yang terjadi di sana sudah benar-benar tidak manusiawi. Begitu banyak alasan saya untuk ikut berjuang," tegasnya.
Berbeda dengan tenaga medis yang bisa masuk melalui jalur darat yang legal namun terbatas, relawan seperti Chiki harus menempuh jalur laut yang penuh tantangan. Pelayaran non-kekerasan ini rencananya akan berangkat dari beberapa titik mulai dari Tunisia, Italia, hingga Turki.
Meski harus meninggalkan keluarga di Indonesia, Chiki merasa tenang karena kakaknya, Bella Fawzi, akan tetap berada di rumah. "Aku saja yang berangkat, harus ada yang jaga Ayah," pungkasnya.
Misi 12 April mendatang akan menjadi babak baru bagi Chiki Fawzi dalam menyuarakan perdamaian dunia, membawa harapan dari Indonesia untuk tanah Palestina yang masih terus bergejolak.(*)
Artikel Asli




