Perempuan Mau Kuliah di India? Wajib Baca Ini!

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Sering sekali masuk ke pesan pribadi saya. “Mas, aman nggak sih kalau perempuan kuliah di India?” atau “Orang tua saya masih ragu soal keamanan di sana.”

Pertanyaan ini wajar. Terlebih jika yang bertanya adalah orang tua yang akan melepas anak perempuannya jauh ribuan kilometer dari rumah. Kekhawatiran biasanya muncul karena pemberitaan media tentang kasus kekerasan seksual di India yang cukup sering dikutip di Indonesia.

Namun sebagai seseorang yang telah berkuliah di India sejak 2013 hingga awal 2026, berinteraksi dengan mahasiswi lokal maupun mahasiswa Indonesia, saya belajar satu hal penting: keamanan tidak pernah sesederhana label “aman” atau “tidak aman”.

Keamanan selalu kontekstual

India adalah negara yang sangat besar dan beragam. Jumlah penduduknya lebih dari 1,4 miliar. Ia bukan satu wajah tunggal, melainkan mozaik budaya, bahasa, agama, dan tingkat modernisasi yang berbeda-beda. Menggeneralisasi India sebagai “berbahaya” sama tidak adilnya dengan menyebut seluruh Indonesia “aman” tanpa pengecualian.

Saat ini, terdapat sekitar 100–150 mahasiswa Indonesia di India. Sekitar separuh—bahkan mungkin lebih—adalah perempuan. Banyak di antara mereka adalah penerima beasiswa pemerintah India melalui ICCR (Indian Council for Cultural Relations), program beasiswa penuh yang semakin diminati mahasiswa Indonesia untuk jenjang S1, S2, dan S3.

Pertanyaannya kemudian: bagaimana agar studi di India tetap aman dan nyaman bagi perempuan?

1. Kenali Kota dan Negara Bagiannya

Seperti Indonesia, India memiliki kota metropolitan yang kosmopolitan dan wilayah yang lebih konservatif. Delhi, Mumbai, Bengaluru, Hyderabad, dan Kolkata tentu berbeda karakternya dengan kota-kota kecil di negara bagian yang jauh dari pusat ekonomi.

Kota besar umumnya lebih heterogen, lebih terbiasa dengan mahasiswa internasional, serta memiliki fasilitas transportasi dan keamanan yang relatif lebih baik. Namun kehidupan di kota besar juga lebih cepat dan dinamis. Memahami karakter kota sebelum berangkat adalah langkah pertama membangun rasa aman.

2. Pilih Tempat Tinggal yang Tepat

Saya sering mengatakan: 50% rasa aman datang dari tempat tinggal.

Asrama kampus—khususnya asrama putri—di India umumnya memiliki sistem keamanan yang ketat. Ada penjaga, akses terbatas, dan penghuni yang terdaftar resmi sebagai mahasiswa. Ini membuat lingkungan relatif steril.

Jika memilih tinggal di luar kampus, pastikan tempat tersebut memiliki penjaga atau sistem keamanan yang jelas. Kasus kehilangan barang seperti laptop dan ponsel lebih sering terjadi karena lemahnya pengamanan tempat tinggal, bukan semata-mata karena faktor gender.

3. Pahami Budaya Setempat

India sangat beragam, tetapi secara umum norma berpakaian perempuan cenderung lebih tertutup, khususnya di India Utara. Pakaian yang terlalu terbuka atau ketat bisa mengundang tatapan yang tidak nyaman.

Ini bukan soal menyalahkan korban, melainkan soal membaca konteks sosial. Adaptasi budaya adalah bentuk kecerdasan sosial.

Begitu pula dengan kebiasaan keluar malam. Di kota besar yang ramai, situasinya tentu berbeda dengan wilayah yang lebih sepi. Bagi mahasiswi yang baru datang, sebaiknya menghindari keluar sendirian larut malam sampai benar-benar memahami ritme kota tersebut.

4. Jangan Mudah Percaya

Orang Indonesia dikenal ramah, mudah tersenyum, dan hangat dalam berinteraksi. Namun dalam konteks lintas budaya, sikap ini kadang bisa disalahartikan.

Di beberapa situasi, senyum atau keramahan yang menurut kita biasa saja bisa ditafsirkan berbeda. Karena itu, bersikap tegas dan menjaga batas personal adalah hal yang penting. Tidak mudah percaya pada orang yang baru dikenal juga menjadi prinsip dasar keamanan di mana pun, bukan hanya di India.

5. Jaga Lingkar Pertemanan

Lingkungan pergaulan sangat menentukan pengalaman studi.

Pergaulan lintas gender adalah hal biasa di kampus India, sebagaimana di Indonesia. Namun menjaga batas dan prinsip tetap penting. Fokus utama tetaplah studi.

Mahasiswa Indonesia di India umumnya memiliki solidaritas yang cukup kuat. Banyak mahasiswi yang membangun pertemanan sehat, saling menjaga, dan saling mengingatkan.

6. Terhubung dengan KBRI dan PPI India

Peran Kedutaan Besar Republik Indonesia di New Delhi dan KJRI Mumbai sangat penting. Setiap mahasiswa dianjurkan melakukan lapor diri agar terdata secara resmi bisa secara online atau bisa langsung ke KBRI (pada jam kerja).

Selain itu, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di berbagai kota di India menjadi ruang solidaritas dan dukungan. Grup komunikasi yang aktif memungkinkan informasi cepat tersebar jika ada situasi darurat.

Saya pernah menyaksikan langsung bagaimana KBRI dan PPI India membantu mahasiswa yang sakit dan sendirian. Solidaritas itu nyata.

7. Manfaatkan Teknologi

Berbagi lokasi (share location), memberi kabar ketika bepergian, dan memanfaatkan teknologi komunikasi adalah langkah sederhana namun efektif. Keamanan hari ini tidak hanya soal fisik, tetapi juga soal manajemen informasi.

Lalu, kembali ke pertanyaan awal: amankah perempuan kuliah di India?

Jawaban saya: bisa aman, sangat mungkin aman.

India memiliki jutaan mahasiswi yang setiap hari belajar, bekerja, dan beraktivitas seperti biasa. Tantangan memang ada, sebagaimana di negara mana pun, termasuk Indonesia.

Kuncinya bukan pada rasa takut yang berlebihan, melainkan pada kesiapan, kecerdasan membaca situasi, dan kemampuan beradaptasi.

Studi di luar negeri selalu membawa risiko dan peluang. India menawarkan pengalaman akademik, budaya, dan intelektual yang sangat kaya. Dengan strategi yang tepat, perempuan Indonesia tidak hanya bisa belajar dengan aman di sana—tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan matang.

Dan mungkin, yang terpenting, bukan soal apakah negaranya aman atau tidak. Melainkan apakah kita siap dan cerdas dalam menjalaninya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bacaan Doa Sahur Puasa Ramadhan: Arab, Latin dan Arti
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Ledakan Dahsyat yang Rusak 2 Rumah di Sumenep Diduga dari Petasan Rakit
• 2 jam laludetik.com
thumb
Korban ledakan petasan Ponorogo meninggal setelah empat hari dirawat
• 3 jam laluantaranews.com
thumb
Pengamat Apresiasi BHR Berbasis Kinerja dari Aplikator: Sejalan Prinsip Kemitraan
• 23 jam laludisway.id
thumb
Jemaah Indonesia di Makkah: Rombongan Iran Mendadak Tak Terlihat
• 21 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.