Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menegaskan kesiapan pemerintah menggelontorkan program stabilisasi pasar senilai 100 triliun won atau sekitar US$68,2 miliar untuk meredam volatilitas pasar keuangan yang meningkat akibat eskalasi perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Melansir Bloomberg, Kamis (5/5/2026) langkah tersebut disampaikan Lee dalam rapat kabinet pada hari ini di tengah gejolak tajam pasar saham domestik yang dipicu aksi jual global seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Asia Barat.
Indeks acuan Kospi sempat melonjak hingga 12% pada perdagangan Kamis (5/3/2026), mencatat kenaikan intraday terbesar sejak Oktober 2008. Lonjakan ini terjadi setelah indeks tersebut sehari sebelumnya merosot sekitar 12%, mencerminkan volatilitas ekstrem yang terjadi sepanjang pekan ini.
Lee meminta para pejabat untuk mengelola program stabilisasi pasar tersebut secara tepat dan cepat guna mencegah gangguan di pasar uang. Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak akan melakukan intervensi langsung untuk menopang indeks saham.
“Kami tidak mendukung indeks ekuitas secara langsung. Dana ini digunakan untuk mencegah abnormalitas sementara di pasar, bukan untuk memaksa penyesuaian harga,” ujar Lee, dikutip Bloomberg, Kamis (5/5/2026).
Program stabilisasi pasar tersebut pertama kali digunakan pada 2022 saat Korea Selatan menghadapi krisis utang yang dipicu proyek pengembangan Legoland. Skema tersebut mencakup dana stabilisasi pasar kredit untuk mendukung obligasi korporasi serta dukungan pembiayaan proyek properti guna memastikan proses penyesuaian berjalan lebih mulus.
Baca Juga
- Korea Selatan di Puncak IQ Tertinggi Dunia 2026, Bagaimana Indonesia?
- Usai Rontok 12%, Bursa Saham Korea Hari Ini Kembali Bangkit
Dalam kondisi normal, dana tersebut tetap tersedia sebagai mekanisme penyangga, tetapi pemerintah dapat memperbesar kapasitasnya jika tekanan pasar meningkat.
Ketua Komisi Jasa Keuangan Korea Selatan Lee Eog-weon mengatakan pemerintah siap meningkatkan ukuran dana tersebut apabila diperlukan.
Otoritas sebelumnya juga telah berulang kali merujuk dana stabilisasi tersebut sebagai bantalan pasar setelah saham domestik mencatat kerugian besar dalam beberapa hari terakhir. Bahkan, nilai tukar won sempat melemah ke level yang terakhir terlihat pada masa krisis keuangan global.
Meski demikian, Presiden Lee menilai pasar saham Korea Selatan kini mulai bergerak menuju proses normalisasi.
“Ini tentang mereformasi sistem ekonomi secara tepat dan menghilangkan ketidakadilan di pasar. Fakta bahwa pasar saham Korea undervalued sudah diketahui, dan saat ini sedang melalui proses normalisasi,” ujarnya.





