Pantau - Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa Iran menolak tawaran mediasi dari sejumlah negara untuk meredakan eskalasi konflik di Timur Tengah karena Teheran tidak akan berunding dengan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut disampaikan Mohammad Boroujerdi saat ditemui di kediamannya di Jakarta pada Kamis.
Pernyataan itu merujuk pada sikap Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang sebelumnya menyatakan Indonesia siap memfasilitasi dialog guna menciptakan kembali kondisi keamanan dan kondusif di kawasan.
Pemerintah Indonesia juga menyampaikan kesiapan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator dalam konflik tersebut.
Mohammad Boroujerdi menyampaikan, "Usulan dari pemerintah Indonesia, kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi."
Iran Klaim Negosiasi dengan Amerika Serikat Selalu Berakhir dengan PelanggaranMohammad Boroujerdi menegaskan bahwa Iran tidak lagi mempercayai proses negosiasi dengan Amerika Serikat.
Ia menyatakan Iran telah tiga kali melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat dan setiap kali berakhir dengan pelanggaran perjanjian atau serangan dari pihak Washington.
Negosiasi pertama berkaitan dengan isu nuklir yang menghasilkan kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action pada tahun 2015 antara Iran dan sejumlah negara besar dunia.
Setelah kesepakatan tersebut tercapai, Amerika Serikat kemudian menarik diri dari perjanjian tersebut.
Negosiasi kedua berlangsung dalam lima putaran pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat.
Mohammad Boroujerdi menyatakan, "Negosiasi kedua adalah lima putaran kami melakukan negosiasi dengan mereka dan di tengah-tengah negosiasi mereka telah menyerang negara kami."
Pernyataan tersebut merujuk pada serangan yang terjadi pada Juni 2025.
Negosiasi Ketiga Terhenti Akibat Operasi MiliterNegosiasi ketiga berlangsung dengan Oman bertindak sebagai mediator antara Iran dan Amerika Serikat.
Delegasi Iran dan Amerika Serikat saat itu sedang menjalani negosiasi tidak langsung putaran ketiga di Jenewa, Swiss.
Proses negosiasi tersebut akhirnya terhenti setelah operasi militer antara Amerika Serikat dan Iran dilancarkan.
Berdasarkan pengalaman negosiasi yang berakhir tanpa hasil tersebut, Iran menyatakan tidak akan kembali membuka ruang negosiasi.
Mohammad Boroujerdi menyatakan, "Ini berkaitan dengan komitmen terhadap sebuah negosiasi dan jaminan akan berlangsungnya sebuah negosiasi sampai pencapaian hasil. Untuk kali ini kami tidak akan menerima bentuk negosiasi apapun dan kami akan mengejar perang ini sampai kemenangan Iran".
Selain Indonesia, Presiden Rusia Vladimir Putin juga menyampaikan kesiapan untuk menjadi mediator dalam konflik tersebut.
Berdasarkan pernyataan Kremlin, Vladimir Putin menawarkan diri menjadi perantara dengan menyampaikan keluhan Uni Emirat Arab mengenai serangan tersebut kepada Iran.
Tawaran tersebut disampaikan Vladimir Putin saat melakukan panggilan telepon dengan Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan.




