Entah sudah berapa lama waktu yang kamu habiskan di sana, di tempat yang tak seorang pun berharap untuk tinggal, bahkan hanya untuk satu hari. Tapi kamu masih tetap tinggal, meski aku tahu jiwa mu tidak pernah sabar. Aku tahu kamu begitu ingin untuk pergi dan berlari.
Kamu telah habiskan malam-malam panjang yang terasa begitu kelam. Malam yang tak pernah disinggahi sinar rembulan. Bukan karena bulan bersembunyi di balik awan. Tetapi karena ragamu tak diberi waktu untuk datang menatap bulan yang menggantung anggun di langit malam.
Aku tahu jika kamu tak sepenuhnya punya kendali lagi atas ragamu. Kamu telah dipaksa untuk tinggal di balik dinding yang terasa begitu dingin dan tak punya rasa belas kasihan. Dinding yang telah merenggut kebebasanmu, memisahkanmu dengan mereka yang pernah berbagi cerita yang penuh warna dan cinta.
Aku tahu jika jiwamu kini begitu sunyi, jiwamu kosong. Kamu habiskan hari tanpa mereka yang bisa menghadirkan cinta. Kamu tuliskan kisah hidupmu tanpa ada lagi warna sempurna yang ditorehkan oleh tangan mungil buah cinta kamu dengan kekasihmu. Dan kamu lalui malam tanpa pelukan kasih sayang. Hari yang kamu jalani terasa sepi, dan malam mu berlalu dalam sunyi.
Jika aku mampu, aku begitu ingin membebaskanmu. Ingin kusingkirkan dinding angkuh yang selama ini membatasimu; dinding yang mengurungmu tanpa belas kasih. Tapi dinding itu adalah takdirmu, dan aku sadar jika aku tak mungkin mampu mengubah takdir yang melingkupi dirimu. Siapalah aku.
Tapi aku juga tahu, selama kamu menelusuri jalan hidup ditempat itu, di balik dinding itu, kamu telah mulai menuliskan cerita lain di setiap lembar cerita hidupmu. Kamu berikhtiar untuk menjadikan yang kelam agar menjadi terang. Kamu bisikkan doa mu ke bumi, berharap langit mendengar dan mengobati lukamu.
Aku tahu, tidak mudah untuk menjadi tegar, karena di sana – di balik dinding itu – tidak banyak tangan yang berupaya mengajakmu untuk menatap hidup di masa depan. Akan lebih banyak bisikan agar kamu tetap tinggal di masa lalu, masa di mana kamu pernah tersungkur dan jatuh. Begitu banyak jiwa yang terus mengajak untuk kamu kembali menyusuri jalan gelap. Dan aku tahu, kamu tetap teguh, jiwamu tak runtuh. Aku berharap kamu tetap tegar.
Kamu adalah sahabatku. Sebagai sahabat, aku ingin kamu tak lagi jatuh; aku ingin kamu bangkit berdiri. Ada tangan mungil yang menunggumu, ada cinta yang mengharapkanmu hadir untuk menyempurnakannya. Tetaplah tangguh di antara jiwa yang rapuh, tetaplah tegar meski terkadang dinding itu begitu sombong dan ingin menghancurkan rasa tegarmu. Jangan lagi kamu kalah, apalagi menyerah, agar suatu saat nanti kamu bisa meninggalkan dinding itu dengan penuh rasa bangga, seperti kstaria yang berjalan tegak meninggalkan medan perang yang berhasil dia tundukkan.
Aku tahu itu tidak mudah, tapi aku percaya kamu bisa melewati semua. Karena aku tahu, jiwa mu telah tumbuh jauh lebih tangguh. Bukan karena aku. Tapi karena ada mereka yang menunggumu dengan setia di luar sana; Ayah ibumu, Istri, dan anak-anakmu. Kepulanganmu-kembalimu dari balik dinding-akan membuat cinta mereka menjadi sempurna.
Semoga …





