jpnn.com - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) masih berharap pada Board of Peace atau Dewan Perdamaian yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Gus Yahya menilai Indonesia perlu memanfaatkan seluruh instrumen yang dimiliki untuk mendorong terciptanya perdamaian di tengah eskalasi konflik global.
BACA JUGA: Diskusi Buku Menggugat Republik di ITB yang Dihadiri Dasco Digeruduk Mahasiswa
Hal itu disampaikan Gus Yahya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, menanggapi posisi Indonesia di BoP dalam mengawal perdamaian di Palestina.
"Kita cari caranya memanfaatkan BoP untuk upaya perdamaian itu," kata dia saat memenuhi undangan buka puasa bersama Presiden Prabowo Subianto.
BACA JUGA: Fadia A Rafiq Tersangka Korupsi, KPK Ungkap Modus dan Peran Keluarga, Hmmm
Gus Yahya mengatakan berbagai mekanisme yang tersedia harus digunakan secara maksimal untuk mendukung upaya perdamaian.
Dia mengibaratkan upaya tersebut seperti seseorang yang harus menggali lubang tetapi tidak memiliki sekop.
BACA JUGA: Penjelasan Menlu Era Megawati dan SBY soal Pertemuan dengan Prabowo, Nasib BoP
Menurutnya, jika yang tersedia hanya sendok, maka sendok itulah yang harus digunakan.
"Kalau kita butuh menggali lubang dan tidak ada sekop, punyanya sendok, kita gali pakai sendok, begitu. Kira-kira begitulah," katanya mengumpamakan.
Gus Yahya menegaskan bahwa pendekatan tersebut menggambarkan pentingnya memanfaatkan instrumen apa pun yang ada, untuk tujuan yang lebih besar, yakni menghentikan konflik dan mewujudkan perdamaian.
Menurutnya, sesuatu yang tampak kecil atau lemah sekalipun tidak boleh diabaikan jika masih dapat digunakan untuk membantu proses perdamaian.
"Kita gunakan apa pun karena kepentingan untuk perdamaian itu absolut," katanya.
Dia menekankan bahwa semua pihak perlu memaksimalkan setiap peluang dan instrumen yang tersedia demi menghentikan perang.
Diketahui, ketegangan di Timur Tengah terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.(ant/fat/jpnn)
Simak! Video Pilihan Redaksi:
Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam




