Industri Pengolahan dan Migas jadi Motor Ekonomi Kepri 2025

bisnis.com
16 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, BATAM — Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyatakan pertumbuhan ekonomi Kepri masih kuat ditopang investasi dan net ekspor, sementara kontribusi konsumsi rumah tangga dinilai belum cukup solid untuk menyeimbangkan struktur pertumbuhan daerah.

Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto mengatakan, gambaran tersebut tercermin dari struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) baik dari sisi pengeluaran maupun lapangan usaha.

“Data menunjukkan konsumsi rumah tangga di Kepri belum mampu mengimbangi pertumbuhan ekonomi daerah yang relatif tinggi. Kondisi ini berbeda dengan tren nasional, di mana konsumsi rumah tangga umumnya tumbuh sejalan dengan ekonomi,” kata Rony dalam kegiatan Bincang Bareng Media di Kantor BI Kepri, Batam, Selasa.

Menurut dia, sepanjang 2025 pertumbuhan ekonomi Kepri turut ditopang oleh kinerja sektor pertambangan, terutama setelah sejumlah proyek lapangan minyak dan gas (migas) memasuki fase produksi (onstream).

Sektor industri pengolahan dan pertambangan, lanjutnya, masih menjadi tulang punggung struktur ekonomi Kepri dan menunjukkan tren positif dalam beberapa periode terakhir.

Migas Menguat

BI mencatat sejumlah perkembangan strategis di sektor migas. Lapangan Forel dan Terubuk resmi beroperasi sejak 16 Mei 2025 dengan total produksi sekitar 20 ribu barel minyak per hari dan 60 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD). Lapangan tersebut ditargetkan mencapai kapasitas penuh pada akhir 2025.

Baca Juga

  • Kinerja Bank Perekonomian Kepri: Aset Tumbuh 17,07%, OJK Siapkan Merger 14 BPR
  • Industri Jasa Keuangan Kepri Solid, Kredit Melaju 25,85%

Selain itu, proyek pipa WNTS–Pemping ditargetkan rampung pada kuartal I 2026. West Natuna Exploration Ltd. membidik estimasi produksi pada akhir 2027, sementara KUFPEC Anambas menargetkan fase onstream pada kuartal I/2027.

Dengan perkembangan tersebut, BI memperkirakan sektor pertambangan dan industri pengolahan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Kepri dalam jangka menengah.

“Namun, penguatan konsumsi domestik tetap diperlukan agar struktur pertumbuhan ekonomi lebih seimbang dan berkelanjutan,” ujar Rony.

Di sisi lain, BI mencatat optimisme masyarakat Kepri meningkat pada awal 2026. Berdasarkan Survei Konsumen BI, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) triwulan I 2026 hingga Februari tercatat sebesar 137,00 atau berada pada level optimistis karena di atas 100.

Rony menjelaskan, peningkatan tersebut ditopang oleh menguatnya dua komponen utama, yakni Indeks Kondisi Ekonomi (IKE) sebesar 145,34 dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) sebesar 128,67.

“BI menilai kinerja IKK menunjukkan optimisme pascatriwulan II yang sebelumnya sempat melambat akibat penetapan tarif resiprokal dan kebijakan efisiensi anggaran,” katanya.

Momentum Hari Besar Keagamaan Nasional juga turut mendorong perbaikan persepsi dan ekspektasi konsumen sehingga tren keyakinan masyarakat kembali menguat pada awal tahun.

Survei tersebut melibatkan 200 rumah tangga responden dan menjadi salah satu indikator untuk memantau daya beli serta persepsi ekonomi masyarakat di Kepri.

“Ini menjadi sinyal positif, meski penguatan konsumsi rumah tangga tetap diperlukan untuk menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih merata,” kata Rony Widijarto.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar Menu Nusantara dan Isi Pidato 3 Jam Prabowo saat Kumpulkan Ulama di Istana
• 4 jam lalusuara.com
thumb
Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang Diduga Akibat Truk Rem Blong
• 12 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jasa Penukaran Uang Baru di Kawasan Jalan Bubutan Surabaya Mulai Bermunculan
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Daripada Tawuran dan Balap Liar, Pemuda Bisa Ikut Lomba Lari di Serpong Malam Ini
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Bosowa Transportation, Tulang Punggung Arus Barang dan Manusia
• 6 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.