Ramadan memasuki fase paling sunyi sekaligus paling menentukan. Malam-malam ganjil telah tiba. Kita memasuki wilayah Lailatul Qadar wilayah pengampunan, wilayah penentuan takdir.
Namun sebelum berbicara tentang langit, kita perlu melihat ke bumi. Sebelum mencari cahaya malam, kita perlu membersihkan bara dalam dada.
Puasa Kedua Puluh Satu mengajak kita merenungkan salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam: Perang Shiffin. Sebuah tragedi yang bukan hanya soal pedang dan tombak, melainkan juga tentang perbedaan visi, tafsir, kepemimpinan, dan akhirnya perpecahan umat.
Luka yang Belum SembuhSegalanya bermula dari tragedi pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan. Ketidakpuasan sosial dan politik yang menumpuk akhirnya meledak. Darah tertumpah. Kepemimpinan kosong. Umat berada dalam kebingungan.
Ali bin Abi Thalib diangkat sebagai khalifah dalam situasi yang tidak stabil. Di sisi lain, Muawiyah bin Abi Sufyan—Gubernur Syam sekaligus kerabat Utsman—menuntut penegakan hukum atas pembunuhan tersebut sebelum baiat diberikan.
Di sinilah dua pendekatan bertemu.
Ali menilai stabilitas dan persatuan harus dipulihkan terlebih dahulu sebelum menghukum para pelaku. Muawiyah menilai keadilan atas darah Utsman adalah prioritas sebelum legitimasi kepemimpinan diakui.
Keduanya memiliki argumentasi. Keduanya memiliki basis pendukung. Keduanya tokoh besar. Namun ketika dialog gagal, konflik menjadi tak terhindarkan.
Puasa Kedua Puluh Satu mengingatkan: tidak semua perbedaan lahir dari niat buruk. Kadang perpecahan bermula dari cara pandang yang berbeda terhadap prioritas.
Ketika Mushaf Diangkat di Ujung TombakPertempuran di Shiffin berlangsung sengit. Korban berjatuhan. Pada titik kritis, pasukan Muawiyah mengangkat mushaf Al-Qur’an di ujung tombak sebagai seruan agar perselisihan diselesaikan melalui tahkim (arbitrase) berdasarkan Kitabullah.
Sebagian pasukan Ali tergerak. Mereka menilai menolak ajakan itu berarti menolak Al-Qur’an. Ali sendiri memahami bahwa langkah tersebut memiliki dimensi politik yang kompleks, tetapi tekanan dari internal pasukan membuatnya menerima proses arbitrase. Di sinilah ironi sejarah terjadi.
Al-Qur’an yang seharusnya menjadi pemersatu, dalam situasi tertentu justru menjadi simbol tarik-menarik politik. Puasa mengajarkan kita agar tidak menjadikan ayat sebagai alat pembenaran ego. Menjadikan agama sebagai simbol tanpa ruh keadilan adalah awal keretakan.
Allah berfirman,
Ayat ini bukan sekadar seruan persatuan, melainkan juga peringatan bahwa perpecahan sering kali dimulai dari cara kita memegang kebenaran.
Dari Tahkim ke Tiga ArahProses arbitrase tidak membawa penyelesaian tuntas. Sebaliknya, ia melahirkan tiga arus besar dalam tubuh umat.
Sebagian tetap mendukung Ali. Sebagian mengikuti Muawiyah. Sebagian lain keluar dari barisan Ali karena menilai menerima arbitrase adalah kesalahan besar. Kelompok terakhir ini dikenal sebagai Khawarij.
Sejarah mencatat lahirnya tiga kutub besar yang kemudian berkembang menjadi tradisi pemikiran berbeda: Sunni, Syiah, dan Khawarij. Perbedaan teologis dan politik perlahan mengeras menjadi identitas permanen.
Puasa Kedua Puluh Satu mengajak kita bertanya: Apakah kita memelihara perbedaan sebagai kekayaan, atau membiarkannya menjadi jurang?
Perbedaan adalah keniscayaan. Perpecahan adalah pilihan’.
Kepemimpinan dan Beban AmanahAli bin Abi Thalib dikenal dengan idealisme, keberanian, dan keadilan. Kepemimpinannya berbasis amanah. Ia hidup sederhana. Ia menolak manipulasi politik demi stabilitas sesaat.
Muawiyah dikenal sebagai administrator ulung, pragmatis, dan strategis. Ia piawai dalam mengelola wilayah luas dengan stabilitas relatif kuat.
Dua gaya kepemimpinan bertemu dalam momentum sejarah yang sulit.
Puasa Kedua Puluh Satu mengingatkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal kemampuan, melainkan juga konteks.
Rasulullah SAW bersabda,
Namun, sejarah menunjukkan bahwa tidak semua situasi memungkinkan cinta yang utuh. Terkadang, pemimpin harus memilih antara dua risiko. Di sinilah pentingnya kejernihan hati.
Bahaya FanatismeSetelah Shiffin, fanatisme menguat. Khawarij mengkafirkan pihak-pihak yang berbeda. Polarisasi tajam terjadi. Bahasa menjadi keras. Labelisasi berkembang.
Fanatisme adalah api yang sulit dipadamkan. Puasa hadir untuk memadamkan api itu.
Puasa tidak hanya menahan lapar, tetapi juga menahan dorongan merasa paling benar. Puasa tidak hanya menahan dahaga, tetapi juga menahan keinginan menghakimi.
Allah berfirman,
Ayat ini tidak meniadakan konflik, tetapi memerintahkan rekonsiliasi.
Ramadan dan Rekonsiliasi BatinKita kini berada pada malam-malam ganjil. Ini adalah momentum refleksi terdalam. Jika sejarah Shiffin menunjukkan betapa mahalnya harga perpecahan, Ramadan menawarkan jalan pemulihan.
Rekonsiliasi tidak selalu berarti sepakat. Rekonsiliasi berarti mengakui kemanusiaan orang lain. Puasa Kedua Puluh Satu mengajarkan:
Menahan lisan sebelum menuduh.
Menunda vonis sebelum memahami.
Memilih persaudaraan sebelum kemenangan argumentasi.
Karena sejarah menunjukkan bahwa kemenangan politik sering kali meninggalkan luka panjang.
Ali akhirnya gugur. Muawiyah melanjutkan kepemimpinan. Dinamika terus berjalan. Namun, perpecahan yang lahir dari periode itu membekas berabad-abad. Ramadan ingin memutus mata rantai itu, setidaknya dalam lingkup diri kita.
Mengubah Arah Sejarah PribadiSetiap manusia memiliki “Shiffin”-nya sendiri, baik itu pada konflik keluarga, perbedaan organisasi, perselisihan akademik, ataupun perdebatan keagamaan.
Pertanyaannya: Apakah kita memilih jalan pedang atau jalan kebijaksanaan?
Puasa Kedua Puluh Satu hadir sebagai penyejuk. Ia melatih kita menahan reaksi. Ia mengajarkan kita memprioritaskan maslahat. Ia mengajak kita mengukur dampak jangka panjang, bukan sekadar kepuasan sesaat.
Karena satu keputusan emosional bisa melahirkan perpecahan panjang. Sebaliknya, satu langkah bijak bisa menyelamatkan generasi.
Lailatul Qadar dan Kejernihan HatiKita memasuki fase pencarian malam kemuliaan. Lailatul Qadar bukan hanya malam turunnya Al-Qur’an, melainkan juga malam di mana takdir ditetapkan.
Takdir umat pernah berubah di Shiffin. Takdir peradaban berubah karena keputusan-keputusan manusia. Kini, Ramadan memberi kita kesempatan mengubah takdir pribadi.
Membersihkan hati dari fanatisme. Menjernihkan niat dari ambisi sempit. Melembutkan lisan dari kebencian.
Puasa Kedua Puluh Satu bukan tentang menyalahkan masa lalu. Ia tentang mengambil pelajaran agar kita tidak mengulang kesalahan yang sama.
Menjaga Persaudaraan di Tengah PerbedaanSejarah Islam kaya dengan dinamika. Ia bukan cerita hitam putih. Ia penuh kompleksitas manusia. Namun, terdapat satu pelajaran paling kuat dari Shiffin: Perbedaan yang tidak dikelola dengan kebijaksanaan akan berubah menjadi perpecahan.
Ramadan datang untuk mengelola hati. Ramadan datang untuk merawat persaudaraan. Ramadan datang untuk memadamkan api sebelum ia membakar segalanya.
Puasa Kedua Puluh Satu mengajak kita semua: Jangan jadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan. Jangan jadikan agama sebagai alat pembenaran ego. Jangan jadikan sejarah sebagai bahan kebencian.
Jadikan ia pelajaran. Jadikan ia cermin. Jadikan ia pengingat bahwa persatuan lebih mahal daripada kemenangan sesaat. Karena di hadapan Allah kelak, yang ditanya bukan "Di kubu mana kita berdiri?" melainkan "Apakah kita menjaga persaudaraan, atau memperdalam luka?"
Ramadan masih memberi kesempatan. Mari memilih jalan yang mempersatukan.





