JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Agus Suryonugroho menyebutkan, pengamanan kawasan wisata menjadi salah satu fokus utama dalam pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 di Bali.
“Tempat wisata juga menjadi perhatian karena Bali merupakan salah satu tujuan wisata utama masyarakat saat libur Lebaran,” kata Agus saat audiensi dengan Gubernur Bali I Wayan Koster di kantor Gubernur Bali, Kamis (5/3/2026), dikutip dari siaran pers.
Agus menuturkan, Operasi Ketupat tidak hanya berfokus pada pengamanan arus lalu lintas selama mudik dan arus balik Lebaran, melainkan juga pengamanan berbagai aktivitas sosial masyarakat.
Baca juga: Polri Gelar Operasi Ketupat 13-25 Maret 2026
“Operasi Ketupat adalah operasi kemanusiaan. Jadi bukan hanya di bidang lalu lintas, bukan hanya mengamankan arus mudik dan arus balik, tetapi negara hadir dalam rangka mengamankan momentum sosial masyarakat,” kata Kakorlantas.
Ia menjelaskan, pengamanan dalam Operasi Ketupat akan dilakukan pada sejumlah klaster penting, mulai dari jalur tol, jalan arteri, pelabuhan penyeberangan hingga tempat ibadah.
Selain itu, pelabuhan penyeberangan juga menjadi perhatian khusus, terutama jalur penyeberangan Gilimanuk-Ketapang yang menghubungkan Bali dan Jawa.
Agus memastikan pengaturan operasional penyeberangan di Pelabuhan Gilimanuk telah disiapkan untuk menyesuaikan pelaksanaan Hari Raya Nyepi.
Baca juga: Operasi Ketupat 2026, Polri Amankan 185.608 Objek dan Siapkan 2.746 Posko
“Penyeberangan Gilimanuk sudah diatur jam berapa dibuka dan jam berapa ditutup, termasuk dari Ketapang ke Gilimanuk. Kami juga sudah mendapat laporan dari Dirlantas Polda Bali,” kata dia.
Sementara itu, Koster menegaskan Pemerintah Provinsi Bali siap mendukung program pengamanan yang dilakukan Polri karena berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat.
“Saya sebagai Gubernur tentu harus ikut berkontribusi mendukung apa yang menjadi rencana Bapak Kakorlantas, karena ini adalah program Bapak Kapolri yang harus kita sukseskan secara bersama-sama,” ujar dia.
Koster juga menepis isu yang berkembang di media sosial mengenai kemungkinan benturan antara perayaan Hari Raya Nyepi dan Idulfitri di Bali.
Baca juga: Operasi Ketupat 2026, Korlantas Bagi Pengamanan ke 4 Klaster
Menurut dia, kedua hari besar tersebut tidak berlangsung pada waktu yang sama.
“Tidak berhimpit sebenarnya. Nyepi pada 19 Maret, kemudian Ngembak Geni tanggal 20 pagi. Sore harinya baru malam takbiran, karena Idulfitri diperkirakan tanggal 21. Jadi tidak beririsan sebenarnya,” ujar Koster menjelaskan.
Ia menambahkan, pemerintah daerah bersama tokoh agama telah menyepakati pengaturan kegiatan keagamaan melalui surat edaran bersama dengan seluruh majelis umat beragama di Bali, termasuk Majelis Ulama Indonesia.
“Kami sudah membuat surat edaran bersama dengan semua majelis umat beragama di Bali, terutama dengan Majelis Ulama Indonesia. Jadi semuanya sudah clear dan tidak ada masalah,” kata Koster.
Baca juga: Nyepi, Lebaran, dan 143 Juta Perjalanan: Ujian Besar Transportasi Mudik 2026
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




