Harga Pakan Turun, Efisiensi Peternak Meningkat

tvrinews.com
21 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Redaksi TVRINews

TVRINews – Jakarta

Kementerian Pertanian mencatat penurunan harga pakan unggas di tingkat produsen guna menjaga stabilitas sektor peternakan nasional.

Tren penurunan harga pakan ternak mulai terlihat di pasar domestik Indonesia pada periode Februari hingga awal Maret 2026. 

Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan pergerakan harga ini diharapkan mampu meringankan beban biaya operasional para peternak, khususnya di sektor perunggasan yang sangat bergantung pada pasokan pakan pabrikan.

Data yang dihimpun melalui Sistem Informasi Produksi dan Harga Pakan (SPORA) menunjukkan bahwa koreksi harga terjadi secara variatif pada berbagai lini produk pakan, mulai dari fase starter hingga masa produksi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyatakan bahwa perkembangan ini merupakan sinyal positif bagi keberlanjutan industri protein hewani di tanah air.

"Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena akan membantu menurunkan biaya produksi," ujar Agung di kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis 5 Maret 2026.

Ia menambahkan bahwa efisiensi ini krusial untuk menjaga stabilitas harga produk peternakan di tingkat konsumen.

Detail Penurunan Harga

Berdasarkan laporan resmi Kementan, penurunan paling signifikan terjadi pada pakan ayam pedaging (broiler) fase starter (BR1). 

Tercatat, rata-rata harga turun sebesar Rp112 per kilogram, bahkan beberapa produsen melakukan penyesuaian hingga Rp600 per kilogram.

Saat ini, rata-rata harga produsen untuk jenis ini berada di kisaran Rp8.010 per kilogram.
Jenis pakan lainnya juga mengikuti tren serupa:

•     Pakan Broiler Pre-Starter (BR0) : Turun rata-rata Rp82 menjadi Rp8.451 per kilogram.
•     Pakan Broiler Finisher (BR2) : Turun rata-rata Rp89 menjadi Rp7.967 per kilogram.
•     Pakan Layer Masa Produksi (P3) : Turun rata-rata Rp86 menjadi Rp6.803 per kilogram.
•     Konsentrat Layer (KP3) : Turun rata-rata Rp74 menjadi Rp7.735 per kilogram.

Meski demikian, penyesuaian harga ini belum dilakukan secara serentak oleh seluruh pelaku industri. Dari 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 38 persen atau 33 pabrik yang telah menurunkan harga mereka.

Optimalisasi Bahan Baku Lokal

Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, mengungkapkan bahwa industri terus berupaya melakukan efisiensi agar harga tetap kompetitif di tengah dinamika pasar. 

"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif," tuturnya.

Langkah ini sejalan dengan kebijakan penguatan produksi jagung nasional yang ditekankan oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Pemerintah menegaskan fokus pada swasembada bahan baku lokal untuk mengurangi ketergantungan luar negeri.

Dalam tinjauan sebelumnya di Bekasi, Menteri Amran menyoroti keberhasilan Indonesia dalam menghentikan impor jagung pakan dan justru mulai melakukan ekspor ke negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina. Strategi ini merupakan bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto untuk menekan harga pangan nasional melalui penguatan sektor hulu.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cuan Gede, Investor Kakap Ini Jual 2 Miliar Saham BNBR di Harga Rp184
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Video: Nasib IHSG dan Rupiah Di Tengah Perang Iran - Selat Hormuz Tutup
• 20 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Wapres Minta Daerah Jaga Stabilitas Pasokan Pangan Jelang Lebaran
• 10 jam lalumediaindonesia.com
thumb
ELPI Bakal Terbitkan 2,11 Miliar Saham Lewat Rights Issue, Dananya Buat Ini
• 21 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Makin Panas, Iran Ancam Serang Reaktor Nuklir Israel!
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.