Bisnis.com, JAKARTA — Pasar saham dinilai masih volatil. Tekanan pasar yang disebabkan sentimen negatif Amerika Serikat membuat laju indeks harga saham gabungan (IHSG) terhambat, meski mulai rebound. Dalam kondisi ini, investor ritel diminta berhati-hati membuat langkah investasi.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan bahwa IHSG sejauh ini mulai stabil, meskipun mulai dari batas terendah setelah penurunan dalam kemarin.
Fokus utamanya adalah menjaga agar IHSG untuk tidak turun di bawah 7.500. Pada penutupan pasar Kamis (5/3), IHSG menguat 1,76% ke 7.710.
"Meskipun kenaikan saat ini masih terbatas, tetapi kami melihat sentimen masih menghantui, terutama dari tensi geopolitik yang menyebabkan tingginya volatilitas pasar saat ini," ujar Nico kepada Bisnis, dikutip pada Jumat (6/3/2026).
Seperti diketahui, serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) membuat IHSG terus tertekan sejak perdagangan Senin (2/3/2026). Mulanya, kondisi tersebut memberi berkah pada sejumlah saham energi, membuat indeks saham energi (IDXENERGY) menjadi satu-satunya sektor yang menguat pada perdagangan Selasa (3/3/2026).
Namun demikian, pada perdagangan Rabu (4/3/2026), seluruh indeks saham sektoral ditutup di zona merah, mencerminkan risk-off pelaku pasar merespons ketidakpastian ekonomi global akibat konflik AS-Israel vs Iran.
Baca Juga
- Rebound IHSG di Tengah Volatilitas, Ini Sinyalnya
- Rekomendasi Saham dan Pergerakan IHSG Hari Ini, Jumat 6 Maret 2026
"Selain itu, tarif baru yang diberikan oleh Trump yang berlaku pekan ini juga memberikan tekanan kepada pelaku pasar dan investor untuk lebih berhati-hati sebelum masuk ke dalam pasar saham. Volatilitas masih tinggi, kita harus berhati-hati agar tidak terkena gocek," ujarnya.
IHSG memang rebound dengan ditutup menguat pada Kamis (5/3/2026), dengan indeks sektoral IDXTRANS menjadi satu-satunya sektor yang ditutup di zona merah. Walau pasar mulai membaik, Nico melihat potensi terkoreksi masih terbuka.
"Cepat atau lambat, hari ini atau nanti, pasar akan menerima [merespons] perang antara Amerika dan Iran. Asalkan dengan catatan, perang tersebut tidak memberikan dampak terhadap negara Timur Tengah yang lain.
Masalahnya, lanjut dia, negara Timur Tengah yang lain juga terkena dampaknya, sehingga pelaku pasar dan investor cenderung diliputi dengan kecemasan yang membuat mereka menahan untuk masuk ke aset-aset yang berisiko. Nico menilai strategi wait and see menjadi pilihan bijak saat ini, sambil menungganggi volatilitas menjadi sebuah kesempatan.
"Sektor energi dan kesehatan masih terlihat menarik saat ini. Selain itu sektor yang berbasis emas dapat diperhatikan," tandasnya.





