Bisnis.com, PALEMBANG— Tekanan inflasi di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) diperkirakan masih berlanjut seiring dengan sejumlah catatan peristiwa dalam beberapa bulan ke depan.
Berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik, pada Februari 2026 inflasi Sumsel tercatat sebesar 0,58% (month to month/mtm), meningkat dibandingkan Januari 2026 yang hanya 0,05% (mtm). Secara tahunan, inflasi Sumsel juga mengalami kenaikan menjadi 4,36% (year on year/yoy) dari sebelumnya 2,91% (yoy).
Peningkatan inflasi terutama dipengaruhi oleh normalisasi diskon tarif listrik yang sempat berlaku pada 2025 sehingga menimbulkan lower base effect pada tahun ini.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumsel Bambang Pramono mengatakan inflasi juga didorong oleh kenaikan sejumlah komoditas, antara lain emas perhiasan, cabai merah, daging ayam ras, tomat, dan telur ayam ras.
Selain itu dipicu juga dengan kenaikan harga emas, seiring meningkatnya permintaan masyarakat terhadap instrumen safe-haven di tengah dinamika ekonomi global.
“Sementara itu, kenaikan harga komoditas pangan seperti daging ayam dan telur ayam ras dipengaruhi oleh meningkatnya konsumsi pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) seperti Imlek dan Ramadan. Selain itu, harga komoditas hortikultura turut mengalami kenaikan akibat terbatasnya pasokan lantaran gangguan cuaca,” jelasnya, Jumat (6/3/2026).
Baca Juga
- Inflasi Sumut Menanjak Jadi 4,71% pada Februari 2026, Dipicu Tarif Listrik dan Emas
- 660 SPPG di Sumsel Berpotensi Picu Inflasi, KPPG Keluarkan Aturan Belanja
- BPS: Inflasi Kepri 2,98% pada Januari, Batam Relatif Paling Stabil
Dengan begitu, Bambang mengatakan, tekanan inflasi diperkirakan juga masih akan berlanjut. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri di tahun ini.
“Terlebih harga emas perhiasan diperkirakan masih bertahan pada level tinggi, sehingga berpotensi kembali mendorong kenaikan inflasi inti,” tuturnya.
Namun demikian, tekanan inflasi diprakirakan masih dapat tertahan sejalan dengan puncak panen raya padi di Sumsel, yang berlangsung dari Februari hingga Maret 2026.
Sehingga diproyeksikan dari sisi pasokan ketahanan pangan dapat lebih kuat dan menjaga inflasi melaju lebih tinggi.
“TPID Sumsel juga masih menjalankan upaya pengendalian inflasi melalui 4K ( keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif), dan hingga akhir Februari 2026, tercatat telah dilaksanakan 47 kegiatan operasi pasar murah, Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Sumsel,” ujarnya.
Bambang menambahkan, menjelang Idulfitri, pihaknya bersama TPID Kota Palembang juga melakukan sidak di Pasar Lemabang dan Lotte Grosir Palembang guna memastikan distribusi barang tetap lancar dan harga tetap stabil.
“Upaya stabilisasi harga juga dilakukan melalui pemberian subsidi harga dan subsidi ongkos angkut, termasuk pelaksanaan GPM di Desa Gasing, Kabupaten Banyuasin, dengan dukungan subsidi ongkos angkut untuk sembilan komoditas utama dengan total berat sekitar ±4 ton,” tutupnya.




