Grid.ID - Pelawak Akri Patrio mengungkapkan pandangannya mengenai masa depan anak-anaknya. Ia mengaku tidak ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya menjadi seorang pelawak.
Menurut Akri, setiap anak memiliki jalan hidup yang berbeda. Karena itu, ia lebih memilih membiarkan anak-anaknya menentukan pilihan mereka sendiri.
Ia bahkan secara tegas mengatakan bahwa dirinya melarang anak-anaknya menempuh profesi yang sama seperti dirinya. Baginya, ada banyak pilihan lain yang bisa dijalani oleh anak-anaknya.
“Saya larang, artinya kalau saya menjadi seorang pelawak, kalau anaknya menjadi seorang hafizah lebih menarik. Dia hafal Quran lebih menarik gitu ya. Jadi enggak harus sejalan dengan profesi bapaknya," ujarnya dikutip dari Youtube Insertlive pada Jumat (6/3/2026).
Pria kelahiran tahun 1969 ini kemudian menceritakan alasan dirinya dahulu memilih menjadi seorang pelawak. Keputusan tersebut diambil karena kondisi hidup yang tidak memberinya banyak pilihan.
“Bapaknya kenapa jadi pelawak? Karena memang mau menjadi apalagi. Duit enggak punya ya kan, modal usaha enggak ada, mau kuliah sarjana belum kelar, akhirnya menjadi seorang pelawak," jelasnya.
Seiring waktu, profesi tersebut justru melekat kuat pada dirinya hingga dikenal luas oleh masyarakat. Ia pun ingin anak-anaknya bisa menentukan pilihan hidup mereka sendiri tanpa harus mengikuti jejak sang ayah.
“Terbentuklah image-nya sebagai pelawak gitu. Masa anak-anak kita mau bentuk jadi pelawak juga. Biarkan mereka punya dunia masing-masing," katanya.
Akri menegaskan bahwa setiap anak berhak memiliki cerita hidup yang berbeda dari orang tuanya. Ia tidak ingin anak-anaknya merasa harus mengikuti jejak yang sama.
“Biarkan dia punya cerita masing-masing. Kita tidak berharap anak bapak ibu sama ceritanya dengan seorang bapak, enggak. Biarkan anak-anak itu punya ceritanya masing-masing,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, pria berusia 56 tahun ini menekankan bahwa hidup seseorang pada akhirnya tetap berada dalam kehendak Tuhan. Apapun jalan yang dipilih, yang terpenting adalah tetap menjalani kehidupan dengan nilai ibadah.
“Saya juga enggak ngikutin siapa-siapa gitu. Kalau sudah karunia Allah, kehendak Allah mau jadi apapun, siapa yang bisa ngelak? Yang penting jadi apapun kita tetap ada nilai ibadah,” tutupnya. (*)
Artikel Asli




