Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut jumlah nasabah bank emas atau bullion bank mencapai 5,7 juta orang sejak peluncuran tahun lalu.
Hal itu disampaikan oleh Airlangga pada acara Aksi Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan di Jakarta, Jumat (6/3/2026). "Bank Bullion itu di Februari tahun lalu jumlah nasabahnya 3,2 juta sekarang sudah mencapai 5,7 juta. Jadi itu meningkat dengan pesat," terangnya dikutip melalui siaran daring.
Sejalan dengan hal tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa jumlah pegadaian emasnya juga meningkat dari 94 ton menjadi 144,7 ton. Hal ini turut beriringan dengan pemanfaatan pinjaman yang sudah mencapai 38,5 ton atau senilai Rp102 triliun.
Peningkatan pemanfaatan pinjaman emas di bullion bank juga terlihat di PT Bank Syariah Indonesia Tbk. atau BSI (BRIS) yang mencapai 22 ton.
Di sisi lain, Airlangga mengungkap ketertarikan masyarakat terhadap investasi emas ini turut memicu inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan pada Februari 2026 juga dipicu oleh harga emas yang berlanjut mengalami inflasi sejak Februari 2022 lalu.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi kelompok perawatan jasa pribadi mengalami inflasi 16,66% (yoy) dengan andil 1,12%. Inflasi harga emas juga terlihat pada kelompok inflasi berdasarkan komponennya. Harga komoditas itu turut memicu kelompok inflasi inti sebesar 2,63% (yoy) dengan andil terhadap inflasi tahunan sebesar 1,72%.
Baca Juga
- Belum Setahun, Bisnis Bank Emas BSI (BRIS) Tembus 1 Ton
- DPR Ingin RI jadi Pusat Bullion (Bank Emas) Dunia, Soroti soal Penjaminan
- Kinerja Bank Emas Sentuh Rp 1 Triliun, OJK Undang 17 Bank KBMI III dan IV Jadi Bank Emas
"Memang salah satu dari [pemicu] inflasi akibat daripada pembelian emas dan memang harga emas pada saat peluncuran Bank Bullion itu masih di angka US$3.000 dan sekarang sudah US$5.000 ini, karena pengaruh perang, memang safe haven daripada ketidakpastian untuk simpanan salah satunya adalah emas," tuturnya.




