Militer Israel baru-baru ini meningkatkan operasi militernya terhadap Iran dengan menargetkan fasilitas militer dan kepolisian di Teheran. Pada Rabu (4 Maret), pihak militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah menjatuhkan ratusan amunisi yang diarahkan pada mesin “negara polisi” Iran yang selama ini digunakan untuk menindas aksi protes. Serangan itu juga membombardir markas lembaga keamanan seperti Garda Revolusi Iran, yang disebut-sebut bertujuan membuka jalan bagi pemberontakan rakyat Iran.
EtIndonesia. Militer Israel pada Rabu (4/3/2026) menyatakan bahwa mereka telah melaksanakan serangan besar-besaran terhadap sebuah fasilitas militer di Teheran.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa di dalam fasilitas tersebut terdapat markas berbagai lembaga keamanan Iran, termasuk markas Garda Revolusi Iran serta badan intelijen.
Menurut laporan The Times of Israel, seorang pejabat militer mengatakan bahwa Israel mengerahkan lebih dari 100 pesawat tempur angkatan udara dan menjatuhkan lebih dari 250 amunisi.
Target serangan tersebut meliputi:
- Markas Garda Revolusi Islam Iran (IRGC)
- Pasukan Quds
- Badan Intelijen Iran
- Milisi Basij
- Pasukan siber Iran
- Pasukan keamanan dalam negeri Iran
- Unit khusus pasukan keamanan dalam negeri
- Serta sebuah unit yang bertanggung jawab menekan aksi protes rakyat.
Militer Israel menyatakan bahwa saat serangan terjadi, para pejabat rezim Iran yang bertanggung jawab memimpin operasi militer, mendorong rencana teror terhadap Israel dan negara-negara kawasan, serta menindas warga sipil Iran sedang berada di dalam fasilitas tersebut.
Selain itu, militer Israel juga baru-baru ini melancarkan serangan udara terhadap sebuah kantor polisi di Teheran.
Saat ini, sejumlah laporan menyebutkan bahwa kemungkinan penerus rezim Iran adalah Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran, yang memicu perdebatan luas.
Pihak Gedung Putih menyatakan bahwa badan intelijen Amerika Serikat sedang memantau situasi tersebut dengan cermat.
Juru bicara Gedung Putih Leavitt mengatakan: “Sebanyak 49 pemimpin tinggi rezim Iran, termasuk pemimpin tertinggi, telah dieliminasi, dan jumlahnya masih terus bertambah.”
“Kami juga melihat laporan-laporan ini, dan lembaga intelijen kami sedang memantau serta menelitinya dengan sangat ketat. Kami berada dalam kesiapsiagaan tinggi.”
Leavitt menegaskan kembali bahwa Gedung Putih tidak akan mentolerir rezim Iran yang tanpa ragu menjadikan warga sipil sebagai sasaran serangan.
Ia juga menambahkan : “Amerika Serikat berharap rakyat Iran memperoleh kebebasan. Itu adalah hal yang baik, dan pada akhirnya kami berharap kebebasan berada di tangan mereka sendiri.”
Ketidakpuasan rakyat Iran telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Faktor-faktor seperti masalah ekonomi, penolakan lama terhadap aturan politik dan sosial Republik Islam, serta kemarahan atas kematian para demonstran pada Januari lalu telah memperburuk situasi.
Organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists in Iran, mengkonfirmasi bahwa tindakan penindasan tersebut telah menyebabkan lebih dari 7.000 warga sipil tewas.
Gedung Putih juga menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump sedang aktif berdiskusi dengan tim keamanan nasional mengenai kemungkinan peran Amerika Serikat dalam urusan Iran setelah operasi militer berakhir. Namun untuk saat ini, prioritas utama tetap memastikan keberhasilan operasi militer.
Laporan oleh wartawan New Tang Dynasty Television, Wang Ziyi dari Amerika Serikat.





