Berebut Pasokan dengan Industri, PLTU Cirebon Terancam Kekurangan Batu Bara

bisnis.com
12 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, CIREBON —  Stok batu bara di sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di wilayah Cirebon, Jawa Barat dilaporkan mulai menipis. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap keandalan pasokan listrik nasional jika suplai bahan bakar tidak segera ditingkatkan.

Wakil Direktur Cirebon Power, Joseph Pangalila, mengatakan cadangan batu bara di beberapa pembangkit saat ini berada pada level yang bervariasi. Sebagian pembangkit masih memiliki stok di atas 10 hari operasi, tetapi sebagian lainnya telah turun hingga di bawah batas tersebut.

“Stok batu bara sekarang ada yang sebagian di atas 10 hari, ada juga yang sebagian kurang dari 10 hari,” ujar Joseph saat ditemui di Cirebon, Kamis (5/3/2026) malam.

Menurut dia, kondisi itu perlu mendapat perhatian karena pasokan batu bara merupakan faktor utama yang menentukan keberlangsungan operasional pembangkit listrik berbasis batu bara. Joseph menjelaskan menipisnya stok batu bara di sejumlah pembangkit tidak lepas dari kebijakan harga dalam skema domestic market obligation (DMO) batubara Indonesia. 

Dalam kebijakan tersebut, harga batu bara untuk pembangkit listrik dipatok lebih rendah dibanding sektor industri lain. Harga batu bara untuk pembangkit listrik ditetapkan sekitar US$70 per ton. Angka ini jauh di bawah harga yang berlaku untuk sektor industri lain seperti semen yang dapat mencapai sekitar US$90 per ton. 

Sementara untuk industri smelter, harga batu bara mengikuti harga pasar. Perbedaan harga tersebut membuat pemasok batu bara cenderung memprioritaskan penjualan ke sektor dengan harga lebih tinggi.

Baca Juga

  • Emiten Grup Sinarmas GEMS Catatkan Produksi Batu Bara 54,9 Juta Ton 2025
  • Saham Batu Bara ITMG, PTBA Cs Memanas Terpantik Konflik AS-Iran
  • Sentimen Pemanas Harga Batu Bara

“Karena harga DMO untuk listrik paling rendah, tentu prioritas dari supplier biasanya ke sektor lain terlebih dahulu,” katanya.

Akibatnya, pasokan batu bara ke pembangkit listrik sering kali menjadi prioritas terakhir dalam distribusi.

Menurut Joseph, situasi ini telah mulai terasa sejak tahun lalu ketika beberapa pembangkit mulai mengalami penurunan stok yang cukup signifikan. “Sebetulnya kondisi ini sudah kami rasakan sejak tahun lalu,” ujarnya.

Untuk mengatasi potensi gangguan pasokan tersebut, pihak pembangkit meminta pemerintah memberikan dukungan agar suplai batu bara untuk sektor kelistrikan mendapat prioritas yang lebih kuat. Pemerintah pun saat ini tengah melakukan komunikasi dengan perusahaan tambang batu bara untuk meningkatkan pengiriman ke pembangkit listrik.

Joseph mengatakan, langkah tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan bahan bakar di pembangkit sehingga operasi pembangkit listrik tidak terganggu. Baginya, sektor kelistrikan memiliki peran vital karena berkaitan langsung dengan stabilitas sistem energi nasional.

Joseph juga menegaskan pembangkit listrik tenaga uap tidak memiliki alternatif bahan bakar pengganti dalam jangka pendek. Setiap PLTU dirancang untuk menggunakan jenis batu bara dengan spesifikasi tertentu, mulai dari nilai kalor hingga kandungan kimia di dalamnya.

“PLTU itu didesain untuk memakai batu bara. Bahkan mengganti dengan batu bara jenis lain pun tidak mudah. Kami tidak punya opsi lain dalam jangka pendek selain memastikan pasokan batu bara tetap tersedia,” katanya.

Meski stok batu bara di sejumlah pembangkit mulai menipis, Joseph memastikan pasokan listrik menjelang Lebaran masih dalam kondisi aman. Konsumsi listrik nasional biasanya menurun selama periode libur Lebaran karena banyak industri dan pabrik menghentikan operasional sementara.

Penurunan aktivitas industri tersebut secara otomatis mengurangi beban listrik nasional. “Biasanya menjelang Lebaran banyak pabrik tutup sehingga kebutuhan listrik turun. Jadi untuk periode ini masih aman,” ujarnya.

Namun demikian, ia menekankan pentingnya memastikan pasokan batu bara tetap stabil agar keandalan sistem kelistrikan nasional tidak terganggu dalam jangka panjang. Joseph menilai saat ini sistem listrik Indonesia masih sangat bergantung pada pembangkit berbasis batu bara yang menjadi tulang punggung pasokan listrik.

“Kalau melihat keandalan suplai listrik saat ini, memang masih bertumpu pada batu bara. Kami berharap pemerintah dapat memastikan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik tetap terjaga agar stabilitas pasokan listrik nasional tidak terganggu di tengah kebutuhan energi yang terus meningkat," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nurdin Halid Tekankan Pertamina, Angkasa Pura, ASDP, Pelni untuk Siaga Penuh Pastikan Mudik Lebaran Lancar
• 4 jam laluharianfajar
thumb
Jaga Pasokan BBM dan LPG saat Mudik, Pertamina Patra Niaga Siapkan 345 Kapal
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Student Loan untuk Mahasiswa: Peluang Akses atau Beban Jangka Panjang?
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Sinopsis Drama China Touch, Kisah Cinta Rumit Cai Wenjing dan Chen Jingke yang Berawal dari Kesempatan Kedua
• 10 jam lalugrid.id
thumb
Pelatih Arema Evaluasi Performa Pemain Usai Ditumbangkan Bali United
• 4 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.