Di tengah eskalasi militer besar antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, satu suara tegas dari Eropa menonjol: Spanyol. Pemerintahan di bawah Perdana Menteri Pedro Sánchez menolak keras perang dan bahkan menolak memberikan dukungan militer, termasuk penggunaan pangkalan negara itu untuk operasi militer terhadap Iran—sebuah langkah yang mencerminkan garis politik luar negeri pemerintah kiri Madrid yang konsisten selama bertahun-tahun.
Pemerintah Spanyol secara resmi menyampaikan posisi itu beberapa kali kepada media domestik dan internasional. Dalam pidatonya, seperti dirilis Euronews, Sánchez menegaskan bahwa keputusan Madrid bisa diringkas sebagai “no to the war”—penolakan terhadap intervensi militer yang dianggap melanggar hukum internasional dan berpotensi memicu konflik berkepanjangan.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa Spanyol tetap berpegang pada prinsip multilateral dan supremasi hukum internasional.
Penolakan Penggunaan Pangkalan MiliterDalam konflik yang sedemikian besar—melibatkan serangan udara dan respons balasan dari Iran—negara-negara Sekutu Barat seperti Inggris dan Prancis cenderung membuka akses fasilitas militer mereka untuk operasi militer, sekurang-kurangnya untuk “aksi defensif”.
Namun, Spanyol mengambil jalan berbeda. Pemerintah menolak permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer Rota dan Morón di selatan Spanyol sebagai basis logistik atau peluncuran serangan ke Iran.
Keputusan ini berarti pesawat tanker militer AS KC-135T dan KC-135R yang semula berada di Morón dan Rota dialihkan ke lokasi lain, setelah Madrid menolak penggunaan pangkalan dalam operasi yang dianggap di luar kerangka hukum internasional dan kesepakatan bilateral dengan Washington (EL PAÍS).
Menteri Luar Negeri, José Manuel Albares, kembali menegaskan bahwa Madrid tidak mengubah posisi resmi itu, bahkan ketika juru bicara Gedung Putih sempat menyatakan sebaliknya.
Ia mendesak agar “not a single comma” dari kebijakan Spanyol berubah terkait penggunaan pangkalan atau dukungan perang. Seperti dirilis Al Jazeera, pernyataan ini muncul setelah klaim dari White House yang menyatakan sebaliknya—sebuah klaim yang langsung dibantah Madrid dengan tegas.
Pertentangan dengan Washington: Ancaman Ekonomi dan DiplomatikPenolakan keras Spanyol terhadap perang tersebut tak luput dari reaksi Washington. Presiden Donald Trump mengecam Madrid, menyebutnya “terrible” karena menolak membantu operasi militer terhadap Iran.
Dicatat oleh TIME, ia bahkan mengancam akan “memutus semua hubungan perdagangan dengan Spanyol” sebagai bentuk sanksi atas penolakan tersebut—sebuah langkah yang mencerminkan ketegangan serius dalam hubungan transatlantik saat ini.
Trump juga menyatakan secara terbuka bahwa jika Spanyol tetap menolak penggunaan pangkalan, AS bisa saja “menggunakannya tanpa izin”, menunjukkan eskalasi retorik dalam hubungan bilateral. Pernyataan ini menambah ketegangan, mengingat Spanyol merupakan salah satu sekutu NATO dan mitra lama dalam kerja sama militer Atlantik.
Madrid pun balik menegaskan bahwa AS perlu menghormati hukum internasional dan perjanjian perdagangan bilateral antara Uni Eropa dan AS, menunjukkan bahwa ancaman embargo atau pemutusan hubungan dagang tidak akan mengubah posisi pemerintah. Pemerintah Spanyol bahkan mengatakan bahwa negaranya memiliki kapasitas untuk menahan dampak embargo perdagangan jika benar-benar dilakukan oleh AS (Al Jazeera).
Konteks Politik Dalam Negeri: Akar Ideologis PenolakanPenolakan Spanyol untuk mendukung konflik serupa ini tidak terlepas dari identitas politik pemerintahan saat ini, yang berasal dari koalisi kiri pro-multilateralisme dan sosial-demokrat.
Sejak menjabat, Sánchez dan partainya telah menempatkan penegakan hukum internasional, perlindungan hak asasi manusia, dan diplomasi damai di garis depan kebijakan luar negeri. Bahkan dalam konflik seputar Palestina dan Gaza sebelumnya, Madrid bersikap kritis terhadap operasi militer yang dianggap brutal atau melanggar hukum internasional.
Dalam pidatonya, Sánchez bahkan mengutip pengalaman Spanyol di era perang Irak dan Afghanistan, mencatat bahwa intervensi militer—yang tidak disetujui oleh komunitas internasional serta membawa dampak besar dan berkepanjangan—sering kali tidak membawa perdamaian atau keamanan yang diharapkan. Ia menegaskan bahwa pemerintah Spanyol menolak “menjadi complices” (ikut serta) dalam apa yang dianggap “disaster” melalui agresi militer yang tidak adil.
Politik luar negeri seperti ini mencerminkan dukungan kuat dari basis pemilih progresif Spanyol. Sebuah studi tentang dinamika sentimen politik di Spanyol menunjukkan bahwa partai kiri seperti Partai Sosialis (PSOE) sering mengangkat isu multilateral, perlindungan hak asasi manusia, dan penentangan terhadap militerisasi sebagai bagian dari narasi kampanye mereka.
Hal ini semakin menguatkan solidaritas publik terhadap penolakan perang unilateral dan penekanan pada penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Europa, NATO, dan Tatanan Global yang RetakLangkah Spanyol juga memperlihatkan celah dalam kesatuan kebijakan luar negeri Eropa. Sementara beberapa anggota Uni Eropa menyatakan keprihatinan terhadap konflik Iran dan menyerukan de-eskalasi tanpa serta-merta menolak keterlibatan AS atau Israel, Madrid mengambil sikap paling keras di antara negara Eropa besar.
Hubungan Spanyol dengan sekutu Eropa lainnya—seperti Prancis, Jerman, dan Inggris—menunjukkan perbedaan fokus dalam respons terhadap konflik. EL PAÍS mencatat, sementara beberapa negara Eropa menyatakan kesediaan mengambil “aksi defensif” terhadap ancaman rudal Iran dalam koordinasi dengan NATO dan AS, Spanyol justru menekankan pentingnya penegakan hukum internasional dan mengutamakan diplomasi.
Penolakan ini menimbulkan pertanyaan lebih luas tentang masa depan kerja sama militer Atlantik, terutama ketika satu negara anggota NATO memilih agenda yang berbeda dari aliansi secara keseluruhan. Ini juga mencerminkan bagaimana konflik global saat ini dapat mengekspos dinamika geopolitik yang lebih kompleks di dalam aliansi yang tampaknya solid.
Di balik perseteruan politik, posisi Spanyol sering kali disertai pesan kemanusiaan. Pemerintah Madrid berulang kali menekankan bahwa bukan berarti mereka mendukung rezim yang dikritik seperti Iran, tetapi bahwa perang bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah geopolitik yang kompleks.
Dalam pidatonya, Sánchez menegaskan pentingnya dialog dan diplomasi dalam menyelesaikan krisis dunia, dengan mengingatkan bahwa korban sipil dari konflik besar sering kali tidak terhitung dan berdampak panjang pada generasi berikutnya.
Sikap Spanyol ini juga mendapatkan dukungan dari sejumlah pihak di luar negeri, termasuk pujian dari pejabat Iran yang melihat posisi Madrid sebagai bukti bahwa etika dan kesadaran moral masih ada dalam dunia Barat yang sering menghadapi dilema geopolitik (Al Jazeera).
Pada akhirnya, keputusan Spanyol untuk menolak langsung mendukung serangan militer terhadap Iran merupakan cerminan dari politik luar negeri kiri yang konsisten, sikap pro-multilateralisme, dan penekanan kuat pada hukum internasional.
Walaupun menimbulkan ketegangan dengan sekutu lama seperti Amerika Serikat, langkah ini mempertegas keinginan Madrid untuk tidak hanya menjadi bagian dari aliansi militer, tetapi juga menjadi suara berbasis akal sehat yang mendorong penyelesaian damai atas konflik dunia yang semakin kompleks dan berbahaya.





