Workaholic Bukan Pahlawan, Quiet Quitting Bukan Malas: 2 Sisi Eksploitasi Kerja

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Kita hidup di era yang penuh paradoks. Di satu sisi, kita memuja mereka yang rela begadang, lembur tanpa komplain, dan menjadikan kantor sebagai rumah kedua. Mereka kita sebut pekerja keras, dedikatif, bahkan pahlawan perusahaan. Di sisi lain, kita menghina mereka yang pulang tepat waktu, menolak membalas email di luar jam kerja, dan bekerja sesuai jobdesc. Mereka kita cap malas, tidak loyal, atau menggunakan istilah yang sedang viral yaitu quiet quitters. Tapi pernahkah kita bertanya: siapa sebenarnya yang bermasalah di sini? Apakah mereka yang bekerja melebihi batas kewajaran, atau mereka yang memilih untuk tetap waras di tengah gila kerja? Workaholic bukan pahlawan, dan quiet quitting bukan kemalasan. Mereka adalah dua sisi mata uang yang sama: korban dan pelawan dari eksploitasi tenaga kerja yang dibungkus romantisme "budaya kerja".

Membongkar Mitos Workaholic: Antara Dedikasi dan Tipu Daya

Mari kita mulai dari yang paling diagungkan, workaholic. Mereka yang datang paling pagi, pulang paling malam, dan selalu siap sedia 24/7 untuk kepentingan perusahaan, Dalam budaya corporate Indonesia, mereka sering dijadikan teladan. Cerita tentang karyawan yang rela lembur tanpa dibayar demi mengejar deadline sering dipajang sebagai inspirasi di majalah internal perusahaan. Tapi coba kita bedah dengan pisau analisis yang lebih tajam. Seorang workaholic sejatinya adalah korban dari apa yang disebut sosiolog sebagai "the labor of love fallacy" di mana keyakinan keliru bahwa jika kita mencintai pekerjaan kita, kita harus rela berkorban apa pun, termasuk waktu istirahat, kesehatan mental, dan hubungan personal. Perusahaan dengan licik memelihara narasi ini karena menguntungkan: mereka mendapatkan tenaga ekstra tanpa harus membayar kompensasi yang layak. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa keluhan terkait upah lembur yang tidak dibayar masih mendominasi laporan pekerja di Indonesia. Ironisnya, banyak pekerja yang mengalami hal ini justru bangga menyebut diri mereka "workaholic". Mereka tidak sadar bahwa yang mereka alami bukan dedikasi, melainkan eksploitasi yang telah dinaturalisasi atau dieksploitasi tapi dibuat merasa itu pilihan sukarela. Seorang workaholic bukan pahlawan. Mereka adalah korban dari sistem yang berhasil membujuk mereka bahwa harga diri ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang mereka korbankan untuk orang lain.

Quiet Quitting: Bukan Malas, Tapi Batasan yang Sehat

Sekarang mari bicara tentang musuh baru para bos dan HRD: quiet quitting. Fenomena ini tiba-tiba menjadi momok menakutkan bagi perusahaan. Gen Z dan milenial dituduh lembek, tidak tahan banting, dan kurang loyal karena berani menarik garis tegas antara hidup dan kerja. Tapi benarkah quiet quitting adalah kemalasan? Mari kita definisikan ulang. Quiet quitting bukan berarti berhenti bekerja atau bekerja setengah hati. Quiet quitting adalah bekerja sesuai kontrak. Datang tepat waktu, mengerjakan tugas sesuai jobdesc, dan pulang saat waktunya pulang. Tidak lebih, tidak kurang. Jika kita pikirkan, bukankah ini seharusnya normal? Sejak kapan bekerja sesuai perjanjian dianggap sebagai bentuk perlawanan? Sejak kapan melakukan apa yang tertulis di kontrak dianggap diam-diam berhenti? Quiet quitting lahir bukan karena generasi muda tiba-tiba malas. Ia lahir karena generasi muda lelah melihat orang tua mereka yaitu para workaholic yang dipuja itu pulang dalam keadaan hancur, sakit di usia produktif, atau bahkan meninggal karena burnout, hanya untuk mendapat sertifikat penghargaan dan jam tangan emas di masa pensiun. Mereka melihat sendiri bagaimana loyalitas dan dedikasi orang tua mereka tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan. Mereka melihat bagaimana kerja lembur tanpa batas hanya membuat orang tua mereka kehilangan waktu bersama anak, kehilangan kesehatan, dan pada akhirnya ketika tidak lagi produktif ditinggalkan perusahaan dengan "terima kasih" yang hambar. Quiet quitting adalah respons rasional terhadap realitas pahit itu. Ini bukan kemalasan, ini perlawanan sunyi terhadap budaya yang memuja pengorbanan tanpa kompensasi yang adil.

Akar Masalah: Gaji Lembur yang Tak Dibayar

Perhatikan benang merah dari dua fenomena ini. Baik workaholic yang "dipuja" maupun quiet quitter yang "dihina", sebenarnya sedang berbicara tentang hal yang sama yaitu hubungan antara tenaga yang dikeluarkan dan imbalan yang diterima.

Workaholic adalah mereka yang telah dibujuk untuk mengeluarkan tenaga lebih tanpa menuntut imbalan lebih dimana mereka dijanjikan jenjang karier, pengalaman, atau sekadar pujian. Mereka adalah korban dari janji-janji manis yang tidak pernah ditagih.

Quiet quitter adalah mereka yang memutuskan untuk hanya mengeluarkan tenaga sebesar yang dijanjikan dalam kontrak, karena mereka sudah tidak percaya pada janji-janji itu. Mereka menolak menjadi korban selanjutnya. Keduanya adalah respons terhadap satu penyakit yang sama: eksploitasi gaji lembur yang tak dibayar.

Data menunjukkan bahwa pelanggaran terhadap hak lembur masih marak terjadi. Alih-alih membayar lembur sesuai ketentuan, banyak perusahaan memilih membangun "budaya kerja" di mana lembur dianggap sebagai bentuk loyalitas sukarela. Dengan cara ini, mereka mendapatkan tenaga gratis sambil membuat pekerja merasa bersalah jika menuntut haknya.

Merayakan yang Salah, Menghina yang Benar

Inilah ironi terbesar dari budaya kerja kita. Kita merayakan mereka yang dieksploitasi. Kita menjadikan workaholic sebagai teladan, padahal mereka sedang membakar dirinya sendiri untuk kepentingan orang lain. Kita memuji dedikasi yang sebenarnya adalah ketidakmampuan untuk menetapkan batasan.

Dan kita menghina mereka yang menetapkan batasan. Kita menyebut quiet quitting sebagai tidak loyal, padahal mereka justru sedang melindungi diri dari eksploitasi. Kita menstigma generasi muda sebagai "lembek", padahal mereka mungkin generasi paling rasional dalam memandang hubungan kerja.

Saya ingat kata-kata seorang teman: "Dulu bapakku kerja 12 jam sehari, pulang larut malam, sakit maag kronis, dan meninggal. Waktu pemakamannya, PT tempat bapakku mengirim karangan bunga dan surat belasungkawa yang menyebutnya 'karyawan teladan'. Aku tidak ingin karangan bunga. Aku ingin bapakku ada di kehidupanku."

Mungkin itu intinya. Di balik semua perdebatan tentang workaholic dan quiet quitting, tentang loyalitas dan kemalasan, ada pertanyaan mendasar: untuk apa sebenarnya kita bekerja?

Menuju Definisi Baru Profesionalisme

Sudah saatnya kita mendefinisikan ulang apa artinya menjadi pekerja yang baik. Pekerja yang baik bukanlah mereka yang paling lama duduk di kantor. Pekerja yang baik adalah mereka yang menyelesaikan tanggung jawabnya dengan efektif dan efisien, lalu memiliki kehidupan di luar pekerjaan.

Loyalitas bukanlah ketersediaan 24 jam tanpa kompensasi. Loyalitas adalah hubungan timbal balik yang adil antara pemberi kerja dan pekerja.

Dan profesionalisme bukanlah tentang berapa banyak waktu yang kamu korbankan, tapi tentang seberapa baik kamu melakukan pekerjaanmu dalam waktu yang telah disepakati.

Sudah saatnya kita berhenti memuja workaholic. Mereka butuh diselamatkan dari eksploitasi yang mereka sendiri tidak sadari.

Sudah saatnya kita berhenti menghina quiet quitting. Mereka sedang menunjukkan jalan menuju hubungan kerja yang lebih sehat dan bermartabat.

Karena pada akhirnya, kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Dan tidak ada jumlah lembur tak berbayar yang layak mengorbankan hal sesederhana itu.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tren Hijab Lebaran 2026: Pashmina Printed hingga Cashmere Jadi Favorit
• 1 jam lalugrid.id
thumb
Bukan Fitch dan Moodys, Purbaya Ungkap Yield SBN Naik Gegara Perang
• 14 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
14.796 Jamaah Umrah Berhasil Kembali ke Tanah Air Sejak Konflik AS-Israel dan Iran
• 20 menit laluidxchannel.com
thumb
Dwi Sasetyaningtyas Ngotot Tak Bersalah, Alumni LPDP Itu Jawab Tegas: Negara Gak Ngasih ke Saya
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Jadwal Buka Puasa Ambon Hari Ini 6 Maret 2026, Lengkap Panduan dan Doa Berbuka
• 18 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.