Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai muncul di sejumlah wilayah di tengah dominasi bencana hidrometeorologi basah yang masih berlangsung di berbagai daerah. Ancaman mulai terpantau di Sulawesi Selatan.
"Tepatnya di Kabupaten Luwu Timur pada Kamis, 5 Maret 2026," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dikutip dari Antara, Sabtu, 7 Maret 2026.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan, kebakaran tersebut menghanguskan lahan mineral seluas sekitar lima hektare di Luwu Timur. Sehingga memerlukan penanganan cepat oleh petugas gabungan guna mencegah api meluas ke kawasan perkebunan maupun hutan lindung di sekitarnya.
Baca Juga :
BMKG Prediksi Riau Lebih Kering pada 2026, Risiko Karhutla MeningkatDi sisi lain, Abdul menyebutkan penurunan curah hujan yang mulai terjadi di beberapa wilayah seperti di Riau dan Kalimantan Barat. Kondisi tersebut disebut meningkatkan potensi karhutla pada level moderat.
Oleh karena itu, BNPB terus memperkuat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai tingkatan. Hal itu dilakukan untuk memastikan percepatan penanganan darurat serta menjaga akurasi pendataan dampak kejadian di lapangan.
Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: BPBD Aceh Barat.
Selain itu, pemerintah juga menekankan pentingnya langkah pencegahan dini. Pencegahan yang dilakukan melalui pengawasan terhadap titik panas dan peningkatan kesiapsiagaan aparat di daerah rawan kebakaran.
BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dengan tujuan apa pun serta segera melaporkan kemunculan titik api sekecil apa pun kepada otoritas setempat guna mencegah terjadinya bencana asap yang lebih luas.




