Jakarta, tvOnenews.com - Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, angkat bicara terkait fenomena ujaran rasisme yang kembali menjadi sorotan dalam sepak bola Indonesia. Ia bahkan bersikap keras terhadap sejumlah insiden yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Arya menilai praktik rasisme tidak sejalan dengan nilai dasar yang dijunjung tinggi dalam dunia sepak bola. Menurutnya, olahraga ini sejak lama dikenal sebagai ajang yang menjunjung tinggi sportivitas dan semangat kebersamaan.
Ia menyebut bahwa sepak bola seharusnya menjadi ruang yang mempromosikan fair play. Karena itu, munculnya ujaran rasis dari sebagian pihak justru sangat disayangkan.
"Itu yang kita cukup sedih. Sebenarnya di dunia ini sepak bola fair play-nya kuat. Sepak bola itu fair play. Dan, anti-rasisme itu sudah jadi gerakan di sepak bola," ujar Arya di Lapangan C Senayan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
"Jadi, sampai kenapa kita terlalu gampang tangan kita untuk menulis ataupun omongan kita terlalu gampang untuk rasis," tambahnya.
Arya menilai perilaku rasis kerap muncul karena orang terlalu mudah menuliskan komentar tanpa mempertimbangkan dampaknya. Ia berharap seluruh pihak, termasuk suporter, dapat lebih bijak dalam bersikap dan bertutur.
Ia juga mengajak semua elemen sepak bola untuk bersama-sama membangun kesadaran agar praktik diskriminatif tidak lagi muncul. Menurutnya, perubahan sikap harus dimulai dari diri masing-masing.
"Jadi, kita harapkan ada kesadaran baru di teman-teman untuk jangan ada ungkapan-ungkapan seperti itu dan sangat tidak sehat untuk sepak bola kita. Jadi, jangan terlalu gampang untuk menulis tanpa berpikir," kata Arya.
- tvOnenews.com - Ilham Giovanni
"Ini gampang sekali kita menulis tanpa berpikir, ini yang saya harap teman-teman PSSI Pers bisa bantu kita untuk memberikan kesadaran itu," lanjutnya.
Dalam beberapa waktu terakhir, kasus rasisme memang kembali mencuat di kompetisi sepak bola nasional. Beberapa pemain dilaporkan menjadi korban pelecehan rasial, baik yang terjadi langsung di stadion maupun melalui media sosial.
Situasi tersebut dinilai menjadi pekerjaan rumah besar bagi seluruh pihak yang terlibat dalam sepak bola Indonesia. Upaya bersama diperlukan agar kejadian serupa tidak terus terulang di masa mendatang.




