REPUBLIKA.CO.ID, TEHERA -- Iran tidak mau tunduk ultimatum Presiden AS Donald Trump. Para pejabat Iran menolak desakan Donald Trump untuk terlibat dalam pemilihan pemimpin negara berikutnya. Teheran menegaskan hanya rakyat Iran yang dapat menentukan masa depan negara mereka.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Jumat tampak mengejek pernyataan presiden AS bahwa ia ingin ikut campur dalam penunjukan pengganti Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
- Di Tengah Perintah Serang Iran, Dokumen Esptein Sebut Trump Dituduh Lecehkan Anak 13-15 Tahun
- Cara Menhub Antisipasi Penumpukan Arus Mudik di Merak-Bakauheni pada Lebaran 2026
- Jaksa Kalah, Delpedro Divonis Bebas, Yusril: Perkara Sudah Final, Pemerintah Menghormati
“Nasib Iran tercinta, yang lebih berharga daripada hidup, akan ditentukan semata-mata oleh bangsa Iran yang bangga, bukan oleh geng [Jeffrey] Epstein,” tulis Ghalibaf di X, merujuk pada mendiang pelaku kejahatan seksual yang memiliki hubungan dengan tokoh-tokoh kaya dan berpengaruh di AS, termasuk Trump.
Sebelumnya pada Jumat, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh mencatat bahwa di bawah sistem federal AS, Trump tidak memiliki wewenang atas pemilihan walikota di New York.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“Bisakah Anda bayangkan pendekatan kolonial ini – bahwa ia ingin melihat demokrasi di dalam negeri, tetapi ia ingin menggulingkan presiden Iran yang terpilih secara demokratis?” kata Khatibzadeh pada konferensi Dialog Raisina di New Delhi.
Dalam beberapa hari terakhir, presiden AS telah berulang kali mengatakan bahwa ia ingin skenario Venezuela terjadi di Iran. Skenario tersebut yakni dengan mempertahankan struktur pemerintahan, tetapi mengganti kepemimpinan dengan seseorang yang bersedia memenuhi tuntutan Washington.
“Yang saya katakan adalah harus ada seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Melakukan pekerjaan dengan baik. Memperlakukan Amerika Serikat dan Israel dengan baik, dan memperlakukan negara-negara lain di Timur Tengah dengan baik – mereka semua adalah mitra kita,” kata Trump kepada CNN pada Kamis.
Sehari sebelumnya, ia mengatakan kepada Axios bahwa ia harus terlibat dalam penunjukan" pemimpin tertinggi yang baru seperti halnya dalam pemilihan Presiden Venezuela Delcy Rodriguez setelah pasukan AS menculik pendahulunya, Nicolas Maduro, pada Januari.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)




