Toyota Indonesia Akui Ekspor ke Timur Tengah Terganggu, Rute Alternatif Sedang Dicari

wartaekonomi.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Produksi jalan terus, tapi kapalnya tidak bergerak. Itulah gambaran yang disampaikan Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Nandi Julyanto soal dampak gejolak geopolitik Timur Tengah terhadap operasional ekspor perusahaan, kondisi yang memaksa Toyota Indonesia menyiapkan area penampungan darurat bagi kendaraan yang sudah jadi tapi belum bisa dikirim.

"Sampai saat ini komitmen kami dengan importir tidak ada perubahan. Hanya masalahnya adalah logistik terganggu, sehingga kita tetap produksi normal sesuai dengan order, tapi shipping atau pengapalan melihat situasi," ujar Nandi dikutip dari ANTARA, Jumat (6/3/2026) malam.

TMMIN memilih tidak memangkas lini produksi meski jalur pengiriman ke Timur Tengah sementara terhenti. Kendaraan yang selesai diproduksi kini ditampung di stockyard sambil menunggu kondisi pengiriman kembali memungkinkan.

"Yang kita produksi tidak bisa shipping, jadi sekarang stop dulu. Tapi komitmen belum ada perubahan," kata Nandi.

Ketidakpastian ini tidak hanya soal hari ini, perusahaan pun mengaku belum bisa memperkirakan berapa lama penundaan akan berlangsung.

"Belum tahu, karena kapal sekarang tidak ada yang jalan ke sana," ujarnya.

Untuk mengurangi tekanan logistik, TMMIN tengah mempelajari kemungkinan penggunaan jalur pengiriman alternatif yang menghindari kawasan yang terdampak gangguan.

Sementara solusi jangka panjang itu digodok, pengiriman komponen dan suku cadang tetap berjalan lewat jalur udara sebagai solusi sementara yang lebih cepat dan tidak bergantung pada rute laut.

Di tengah situasi ini, TMMIN menegaskan ketergantungan mereka pada pasar Timur Tengah tidak sebesar yang mungkin dibayangkan. Kawasan itu menyumbang sekitar 17–20 persen dari total ekspor kendaraan Toyota Indonesia, angka yang signifikan tapi tidak dominan.

Baca Juga: Penjualan Mobil Hybrid Toyota Mulai Kalahkan Mobil Konvensional

Ekspor terbesar perusahaan justru mengalir ke kawasan ASEAN dan Amerika Latin, dua pasar yang hingga saat ini tidak terdampak gangguan logistik yang sama.

Dengan diversifikasi pasar yang sudah terbangun, gangguan di Timur Tengah belum menjadi krisis tapi stockyard yang terus terisi menjadi pengingat bahwa solusi logistik harus ditemukan sebelum kapasitas penampungan mencapai batasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hukum Adat Kalosara Masih Digunakan untuk Selesaikan Konflik Masyarakat Tolaki
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
[FULL] Menkeu Purbaya Bicara soal THR ASN, Anggaran MBG, hingga Laporan Fitch
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Rusia Diduga Beri Data Intelijen ke Iran, Pentagon Tak Khawatir
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Kode dari Purbaya soal Kapan Harga BBM akan Naik
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Bappenas dan Airbus Bahas Kolaborasi Dirgantara! Indonesia Mau Jadi Pemain, Bukan Hanya Pasar
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.