Bintang Radio, Pelopor Ajang Pencarian Bakat Penyanyi di Indonesia 

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Tanggal 9 Maret diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Hal ini sebagai momentum untuk menghargai perjalanan panjang musik dalam kehidupan bangsa. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa musik memiliki peran penting dalam membentuk identitas budaya serta memperkuat persatuan bangsa.

Tanggal tersebut dipilih bertepatan dengan hari lahir Wage Rudolf Supratman. WR Supratman merupakan tokoh penting dalam sejarah musik nasional. Ia dikenal sebagai pencipta lagu ”Indonesia Raya”. Lagu ini pertama kali diperdengarkan pada Kongres Pemuda II pada 1928 yang mencetuskan Sumpah Pemuda. Lagu ”Indonesia Raya” kemudian menjadi simbol kebanggaan serta perjuangan bangsa Indonesia.

Dalam perkembangannya, musik Indonesia bertransformasi mengikuti zaman. Dinamika yang mengiringinya membawa musik Indonesia menjadi saksi sejarah perjalanan bangsa.

Salah satu ajang musik yang patut dicatat dalam sejarah perjalanan musik di Tanah Air adalah ajang kompetisi menyanyi se-Nusantara yang dinamai Pemilihan Bintang Radio se-Indonesia.

Radio Republik Indonesia (RRI) memberi sumbangan besar pada perkembangan musik di negeri ini dengan menggelar ajang Pemilihan Bintang Radio (selanjutnya disebut Bintang Radio) yang digelar sejak 1951. Dari acara lomba menyanyi ini muncul penyanyi-penyanyi legendaris Indonesia, seperti Sam Saimun, Bing Slamet, Pranajaya, sampai Titiek Puspa. Selain itu, Bintang Radio juga melahirkan bintang-bintang seperti Hetty Koes Endang, Eddy Silitonga, Harvey Malaiholo, Rafika Duri, Rita Effendy, dan Titi DJ.

Bintang Radio pertama kali digelar tahun 1951 bertepatan dengan perayaan Hari Radio pada 11 September. Awalnya, hanya lagu-lagu keroncong yang dilombakan pada lomba pencarian bakat tertua di Indonesia itu. Namun, sejak tahun 1955, kategori seriosa dan hiburan mulai dilombakan untuk menarik lebih banyak peserta dan pendengar. Pada saat itu, musik pop kerap disebut sebagai musik hiburan. Beberapa tahun kemudian, perusahaan rekaman negara Lokananta turut merekam karya para pemenang Bintang Radio.

Elemen utama yang menjadi penilaian Bintang Radio adalah kemampuan vokal secara prima dan ekspresi bernyanyi. Saat itu kemampuan menyanyi secara golden voice adalah tuntutan utama dan mutlak. Tak heran jika kualitas vokal para penyanyi tempo dulu sangat unggul dan bernas.

Kompetisi yang diikuti ratusan peserta dari daerah-daerah itu diadakan setiap tahun. Biasanya, waktu final kompetisi diadakan berdekatan dengan hari ulang tahun (HUT) RRI. Namun, karena berbagai hal, setelah tahun 1962, kompetisi ini sempat terhenti. Pada tahun 1965, Bintang Radio kembali diadakan, tetapi setelah itu penyelenggaraannya tak lagi teratur setiap tahun.

Meski sempat terhenti, saat kompetisi ini kembali diadakan, animo peserta tetap tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah peserta yang mendaftar, seperti di RRI Bandung 218 peserta, di RRI Yogyakarta 187 peserta, dan RRI Padang 212 peserta. Setelah dilakukan seleksi di setiap kota, terpilih 29 peserta dari 14 studio RRI se-Tanah Air yang berlaga pada tingkat final di Jakarta. Sebagian dari pemenang Bintang Radio kemudian meraih popularitas dan masuk dapur rekaman, (Kompas, 10 April 2017).

Seperti diberitakan Kompas terbitan Juni dan Agustus 1965, ajang Bintang Radio memilih juara dari beberapa kategori, seperti penyanyi hiburan, seriosa, dan keroncong. Para peserta diharuskan melantunkan lagu wajib yang ditentukan panitia. Tahun 1965, misalnya, lagu wajib untuk kategori hiburan berjudul ”Pengawal Pertiwi” (ciptaan Sidik Nurtjahja) untuk wanita dan ”Bung Bangsa” (Sugiarto) untuk penyanyi pria. Sementara lagu wajib jenis seriosa wanita sopran adalah ”Nyala Hati” (Sudharnoto), ”Pesan Kartini” (Ibenzani Usman) untuk mezzo sopran, dan ”Surat dari Perbatasan” (Sudharnoto) untuk alto. Lagu wajib keroncong pria adalah ”Keroncong Sapulidi” dan untuk penyanyi wanita adalah ”Keroncong Telomoyo”.

Pada 1965 yang menjadi juara, antara lain, Waldjinah (dari studio Surakarta) untuk kategori keroncong wanita, Deddy Damhudy (Bandung) menjadi juara 3 kategori hiburan pria, mezzo sopran seriosa wanita adalah Pranawengrum (Yogyakarta), dan Rose Pandanwangi (Jakarta) sebagai juara ke-2.

Pada 1974, ketika siaran stadiun televisi milik pemerintah, TVRI, semakin luas jangkauannya, Bintang Radio diselenggarakan bekerja sama dengan TVRI. Nama acara pun berubah menjadi Bintang Radio dan Televisi (BRTV). Peminatnya pun kian membeludak dan menjadi ajang lomba paling populer saat itu. Bahkan di tahun 1976, ajang ini semakin meluaskan jangkauan peminatnya dengan mengadakan Pemilihan Bintang Radio dan Televisi Remaja yang kemudian menghasilkan nama-nama peraih juara, seperti Harvey Malaiholo, Rafika Duri, Sundari Soekotjo, Binu N Dalip, Lex’s Trio, Pahama, Soraya Togas, dan Nouval Trio.

Acara kompetisi vokal ini terus berlanjut hingga ke era 1980-an yang menghasilkan para juara, seperti Sandro Tobing, Ricky Johannes, Trio Libels, dan masih sederet panjang lainnya. Pada era 1990-an hingga 2000-an, popularitas Bintang Radio mulai meredup. Hal itu seiring munculnya ajang serupa di stasiun TV swasta yang mulai bermunculan sebagai media alternatif selain TVRI dan RRI. Misalnya acara Asia Bagus, Cipta Pesona Bintang, Akademi Fantasi Indosiar, Indonesian Idol, X Factor, hingga The Voice. Acara kompetisi menyanyi itu berkonsep keterlibatan penonton dalam acaranya melalui pemilihan via SMS. Selain itu, acara dibumbui drama reality show sehingga mampu menyedot perhatian publik.

Namun, Bintang Radio adalah pionir sebagai ajang pencari bakat menyanyi di Tanah Air yang menjadi pintu gerbang seorang penyanyi yang ingin mengembangkan karier dalam industri rekaman di berbagai perusahaan rekaman. Hal yang kelak kemudian diikuti dengan munculnya acara-acara serupa di berbagai TV swasta hingga kini.

Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Wajah Penerbangan Perintis di Tanah Papua
Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Memori Belanja di Golden Truly
Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Indonesia Air Show 86
Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia
Baca JugaArsip Foto ”Kompas”: Habis Manis, Bemo Dilarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Presiden Berikan Tambahan TKD Rp10,6 Triliun kepada Tiga Provinsi Terdampak Bencana
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Hippindo Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Logistik Ritel
• 16 jam lalukatadata.co.id
thumb
Optimisme Suriname Melaju ke Piala Dunia 2026
• 5 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemerintah Resmi Nonaktifkan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Mulai Akhir Maret 2026
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Wakil Indonesia Berguguran di Babak 8 Besar All England 2026
• 17 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.