REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di tengah gelombang ketegangan geopolitik yang kembali mengguncang pasar energi dunia, minyak mentah sekali lagi menjadi komoditas yang tak sekadar soal ekonomi. Ia menjelma menjadi simbol tarik-menarik kekuatan global, antara sanksi, perang, dan kebutuhan energi yang tak bisa ditunda.
Di Washington, pemerintah Amerika Serikat mulai menimbang langkah yang sebelumnya terasa tabu: membuka kembali sebagian aliran minyak Rusia yang selama ini dibekukan oleh sanksi. Pertimbangan itu muncul bukan tanpa alasan. Pasar energi global tengah mengalami tekanan serius, dipicu oleh memanasnya situasi di Timur Tengah dan terganggunya jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
- Ini Bukan Kapal Ini Disneyland Berjalan
- Tornado Raksasa Terjang AS: Rumah-Rumah Beterbangan, Empat Nyawa Melayang dalam Hitungan Menit
- Teknologi Injeksi Presisi Dorong Efektivitas Skinbooster
Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, dalam wawancaranya dengan Fox News pada Jumat (6/3), mengisyaratkan kemungkinan tersebut. Ia mengatakan pemerintah sedang mempertimbangkan pencabutan sebagian sanksi terhadap pengiriman minyak mentah Rusia guna meredakan kekurangan pasokan global, setidaknya untuk sementara waktu.
Langkah awal telah terlihat. Washington sebelumnya memberikan pengecualian sementara selama 30 hari yang memungkinkan kilang-kilang minyak di India kembali membeli minyak Rusia. Kebijakan ini diambil demi menjaga stabilitas pasokan energi dunia yang mulai menunjukkan gejala kekurangan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}“India selama ini menjadi pihak yang sangat kooperatif,” kata Bessent. Ia menjelaskan bahwa Amerika Serikat sebelumnya telah meminta India menghentikan pembelian minyak Rusia yang terkena sanksi pada musim gugur lalu, dan New Delhi mematuhinya.
Pada saat itu, India bahkan berencana mengganti pasokan tersebut dengan minyak mentah dari Amerika Serikat. Namun situasi pasar energi yang kian rapuh membuat Departemen Keuangan AS mengambil keputusan berbeda: memberikan izin sementara bagi India untuk kembali mengimpor minyak Rusia.
Menurut Bessent, pemerintah AS kini sedang meninjau kemungkinan membuka kembali lebih banyak pengiriman minyak Rusia yang selama ini terjebak dalam rezim sanksi.
“Ada ratusan juta barel minyak mentah yang dikenai sanksi berada di laut,” ujarnya. “Dengan mencabut sanksi tersebut, Departemen Keuangan dapat menciptakan pasokan.”
Pernyataan ini mencerminkan realitas yang tak mudah dihindari: ketika geopolitik dan kebutuhan energi bertemu, idealisme sering kali harus bernegosiasi dengan kenyataan pasar.
Apalagi, ketegangan di Timur Tengah terus memburuk. Jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, urat nadi perdagangan energi global, mengalami perlambatan tajam setelah rangkaian serangan antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan dari Teheran. Ketidakpastian ini mendorong harga minyak naik dan memicu kekhawatiran baru mengenai stabilitas pasokan energi dunia.
Namun di sisi lain, tekanan terhadap Rusia belum benar-benar mengendur. Di London, pemerintah Inggris justru mengambil langkah berlawanan dengan mengumumkan hampir 300 sanksi baru terhadap Moskow, yang disebut sebagai paket sanksi terbesar mereka dalam beberapa tahun terakhir.




