Tren Kenaikan Emas Masih Lanjut, Berpotensi Uji Level USD5.400 Pekan Depan

metrotvnews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi bergerak menguat pada pekan depan seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya permintaan terhadap aset safe haven. Kondisi geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah, ditambah dengan dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, menjadi faktor utama yang mendorong volatilitas pergerakan logam mulia tersebut. 

Berdasarkan analisis Dupoin Futures, emas saat ini masih berada dalam tren bullish meskipun sempat mengalami koreksi setelah reli tajam dalam beberapa waktu terakhir. Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menjelaskan bahwa secara teknikal pada timeframe H4, harga emas sebelumnya sempat melonjak hingga mendekati level USD5.400 per troy ounce. 

"Kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mendorong investor global beralih ke aset lindung nilai seperti emas," kata dia dalam keterangan tertulisnya, Sabtu, 7 Maret 2026.

Ia mengungkapkan, ketegangan geopolitik secara historis memang sering memicu peningkatan permintaan terhadap emas karena dianggap sebagai instrumen yang relatif aman ketika pasar keuangan berada dalam kondisi tidak stabil.

Baca Juga :

Harga Emas UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Turun, Simak Rinciannya di Sini!


(Ilustrasi. Foto: Freepik)
  Emas sempat terkoreksi Namun setelah mencatatkan lonjakan tajam, harga emas sempat mengalami fase koreksi atau pullback sekitar lima persen. Koreksi ini terutama dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

Ketika dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik, daya tarik emas biasanya menurun karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian investor melakukan aksi profit taking setelah reli harga yang cukup signifikan.

"Meski demikian, dari sisi fundamental, permintaan terhadap emas masih didukung oleh sentimen risk-off di pasar global. Lonjakan harga energi yang terjadi akibat konflik geopolitik turut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi global," ujarnya.

Dalam situasi seperti ini, emas sering dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, sehingga minat investor terhadap logam mulia cenderung meningkat. Selain itu, ketidakpastian ekonomi global juga membuat sebagian pelaku pasar mengalihkan portofolionya ke aset yang dianggap lebih stabil. Arah kebijakan suku bunga The Fed Selain faktor geopolitik dan inflasi, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve juga menjadi salah satu faktor kunci yang menentukan pergerakan harga emas. Jika ekspektasi pasar mengarah pada kebijakan suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama, maka kenaikan emas berpotensi tertahan karena investor cenderung memilih aset dengan imbal hasil yang lebih menarik. 

"Sebaliknya, jika pasar mulai memperkirakan adanya pelonggaran kebijakan moneter, maka emas dapat kembali mendapatkan dorongan kenaikan yang lebih kuat," kata Andy.

Dari sisi teknikal, Andy Nugraha menilai tren bullish emas masih cukup solid selama harga mampu bertahan di atas area support penting. Dupoin Futures memproyeksikan bahwa apabila tekanan beli masih berlanjut, maka pasangan XAU/USD berpotensi kembali melanjutkan penguatan hingga menguji level resistance di sekitar USD5.400 pada pekan depan. 

"Level tersebut menjadi area krusial yang dapat menentukan apakah tren kenaikan emas akan berlanjut atau memasuki fase konsolidasi yang lebih panjang," lanjut dia.

Namun demikian, pelaku pasar juga perlu mencermati kemungkinan skenario alternatif apabila terjadi perubahan sentimen pasar secara signifikan. Jika harga emas mengalami reversal dan menembus key point di level USD4.630, maka tekanan jual berpotensi meningkat dan mendorong harga turun lebih dalam. 

"Dalam skenario tersebut, emas diperkirakan dapat bergerak melemah menuju area support berikutnya di sekitar USD4.415 pada pekan depan," ujar Andy.

Dengan berbagai faktor fundamental dan teknikal yang masih memengaruhi pergerakan pasar, Andy melanjutkan, investor disarankan untuk tetap memperhatikan perkembangan geopolitik global, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS. 

"Kombinasi dari faktor-faktor tersebut diperkirakan akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga memasuki perdagangan pekan depan," ungkapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Batara Surya Resmi Dilantik Jadi Rektor, Melinda Aksa Harap Unibos Kian Berdaya Saing Global
• 22 jam laluharianfajar
thumb
IHSG Anjlok 7,89% Sepekan, Saham ITMG, AADI, hingga UNTR Jadi Penahan
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Baznas RI-PBPI ajak warga berinfak lewat Padel Charity Tournament 2026
• 59 menit laluantaranews.com
thumb
Musibah Pergerakan Tanah Merusak di Sukabumi, Ratusan Warga Mengungsi
• 30 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Purbaya Buka Opsi Kenaikan Harga BBM Subsidi jika Tekanan Minyak Dunia Lampaui APBN
• 2 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.