Waste to Energy: Tak Sekadar Mengubah Sampah Menjadi Listrik

bisnis.com
15 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Persoalan sampah masih menjadi salah satu masalah lingkungan paling besar di Indonesia. Sebagian besar dari jutaan ton sampah yang diproduksi setiap tahunnya, hingga kini hanya berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).

Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi; TPA Piyungan, Yogyakarta; dan TPA Galuga, Kabupaten Bogor adalah gambaran betapa masih sulit dan besarnya tantangan pengelolaan sampah yang dihadapi oleh banyak daerah.

Tumpukan sampah tersebut bahkan telah menjelma menjadi 'gunung-gunung' sampah yang membentuk lanskap buatan berbahaya dan mematikan.

Tragedi Leuwigajah, Cimahi-Jawa Barat pada 21 Februari 2005 menjadi contoh nyata bagaimana persoalan sampah dapat menjadi ancaman nyata bagi lingkungan dan keselamatan manusia.

Tumpukan sampah setinggi kurang lebih 20 meter yang seketika bergerak seperti gelombang besar menyerupai ‘tsunami sampah’ telah menimbun ratusan jiwa, menenggelamkan rumah-rumah warga dan fasilitas umum di sekitarnya.

Berkaca dari Data Kementerian Lingkungan Hidup, timbunan sampah di Indonesia telah mencapai lebih dari 50 juta ton per tahun, sementara total akumulasi di TPA diperkirakan mencapai 1,6 miliar ton.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 60% belum terkelola dengan baik sehingga menimbulkan persoalan sosial, kesehatan, dan lingkungan, termasuk peningkatan emisi gas metana yang 28 kali lebih berbahaya dari karbon dioksida.

Realisasi pengelolaan sampah yang masih jauh dari target juga dihadapkan pada realita bahwa hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia telah ditetapkan dalam status darurat sampah melalui keputusan Menteri Lingkungan Hidup. Sementara itu, mayoritas fasilitas TPA belum memiliki kapasitas memadai dalam pengelolaan sampah.

Secara nasional, Indonesia memiliki 481 TPA, dengan 455 di antaranya telah didata secara lengkap. Namun, kapasitas timbunan sampah di fasilitas tersebut telah mencapai 141%.

Dari total timbunan tersebut, hanya sekitar 36.000 ton per hari atau 24,9% yang benar-benar terkelola melalui fasilitas yang direkomendasikan. Sisanya, sekitar 105.000 ton per hari atau 75% timbulan sampah harian nasional masih dibuang begitu saja di lapangan.

Dengan tantangan yang kian berat dalam pengelolaan sampah, Kementerian PPN/Bappenas bahkan memproyeksikan produksi sampah nasional dapat melonjak hingga 82,2 juta ton per tahun pada 2045. Di sisi lain, dengan pola kumpul angkut buang seluruh TPA eksisting akan penuh pada 2028.

Di tengah kondisi darurat sampah di hampir seluruh kabupaten/kota di Indonesia, konsep waste to energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) mulai difokuskan sebagai salah satu solusi.

Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan, menjadi landasan percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di berbagai wilayah.

Baca Juga : Benang Kusut Polemik Sampah di Indonesia, Persoalan Anggaran Jadi Hambatan?

Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa program tersebut disebut sebagai langkah strategis untuk mengatasi persoalan sampah yang kian menumpuk di berbagai kota di Indonesia.

Menurut Kepala Negara, persoalan sampah telah menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan berpotensi berubah menjadi bencana apabila tidak segera ditangani secara sistematis. Dia menilai, selama bertahun-tahun Indonesia belum berhasil merealisasikan proyek pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan.

“Sampah itu sudah menumpuk luar biasa. Ini sudah akan menjadi bencana. Belasan tahun tidak bisa kita wujudkan proyek sampah yang baik. Kita sekarang akan mulai,” kata Presiden Prabowo Subianto saat memberikan sambutan dalam peresmian Infrastruktur Energi Terintegrasi Pertamina Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1/2026).

Setidaknya ada 34 titik di 34 kabupaten/kota yang nantinya akan menjadi fokus pembangunan proyek waste to energy atau PSEL yang merupakan proses pengolahan sampah yang tidak dapat didaur ulang melalui teknologi untuk menghasilkan energi, seperti panas, listrik, atau bahan bakar alternatif.

Ekosistem Pengelolaan Sampah

Namun, tak hanya mengubah sampah menjadi listrik, proyek pengelolaan sampah yang terpadu dan berkelanjutan melalui pengembangan waste to energy juga diharapkan dapat menciptakan ekosistem pengelolaan sampah nasional.

Pemerintah daerah, industri, akademisi, komunitas, hingga masyarakat diharapkan dapat ikut terlibat dalam pengelolaan sampah secara sirkuler.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mencatat bahwa keberadaan untuk setiap 1 unit Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di setiap daerah akan memiliki dampak externalities sekitar Rp14 triliun.

Fadli Rahman, Direktur Investasi Danantara Investment Management (DIM) mengungkapkan bahwa dengan proyek PLTSa maka manajemen sampah di setiap kota bisa teratasi. Sejalan dengan itu, manfaat ekonomi yang bisa dihitung berdasarkan kajian independen, secara non moneter juga cukup besar dan berdampak pada pemerintah pusat, daerah maupun masyarakat.

“Harapannya setiap 1 unit PLTSa dampak externalities-nya [dampak non moneter] bisa Rp14 triliun,” kata Fadli di kantor Danantara, Jumat (6/3/2026).

Menurut Fadli, dengan pengelolaan sampah terpadu dan terintegrasi dengan listrik, banyak manfaat yang akan diperoleh, antara lain, terhindar dari penyakit akibat pencemaran sampah, penghematan dana kesehatan, infrastruktur pembuangan sampah menjadi sehat dan bersih karena dibangun fasilitas publik, dan konflik sosial menjadi minim.

“Tentu saja ini butuh dukungan semua pihak. Ini adalah sebuah gerakan akan sadar bahwa sampah sudah menjadi masalah kehidupan kita,” tuturnya.

Dia mencontohkan China yang pada 20 tahun lalu juga mengalami hal serupa dengan Indonesia, mengalami darurat sampah. Namun, dengan adanya proyek PLTSa dengan teknologi termutakhir bisa mengatasi persoalan tersebut.

Saat ini, kurang lebih terdapat 1.000 titik PLTSa di China, bahkan sampai kekurangan sampah untuk diproduksi di PLTSa. “Di kita [Indonesia], semakin tumbuh ekonomi 5% maka produksi sampah rumah tangga dan pabrik akan naik sekitar 1%—2%. Jadi PLTSa akan mendapat pasokan sampah yang memadai di setiap daerah,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, BPI Danantara pada Jumat (6/3/2026) telah menetapkan dua perusahaan asal China, Wangneng Environment Co., Ltd. (Bekasi) dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd. (Denpasar), sebagai pemenang lelang proyek PLTSa tahap pertama pada Maret 2026.

Kedua perusahaan yang nantinya akan bermitra dengan perusahaan lokal ini akan menyelesaikan proyek PLTSa dalam waktu 24 bulan, bahkan ada yang berkomitmen untuk mulai Commercial Operation Date kurang dari 24 bulan.

Baca Juga : Profil Pemenang Proyek Pembangkit Sampah Danantara di Bekasi dan Denpasar

Nantinya, Danantara akan memiliki badan usaha berupa Perseroan Terbatas yang akan menggenggam 30% saham anak perusahaan hasıl joint venture dengan pemenang lelang. Dengan kepemilikan saham itu, maka badan usaha yang dibentuk Danantara Investasi Managemen bisa menempatkan direksi atau komisaris.

Fadli menjelaskan pihaknya akan melakukan evaluasi ketat terhadap para operator PLTSa agar memenuhi teknologi, konstruksi, dan desain. Demikian pula mitra lokal yang akan digandeng oleh pemenang lelang tersebut. “Saya kira mitra lokalnya juga harus punya pengalaman untuk masalah sampah,” kata Fadli.

Terkait dengan kebutuhan sampah yang akan diolah, Fadli menyebut bahwa produksi sampah setiap harinya bisa mencapai 1.000 ton—1.200 ton untuk menghasilkan listrik sekitar 24 megawatt (MW).

Fadli menargetkan pada akhir 2027 atau akhir 2028 nanti kedua proyek yang sudah dibangun pada Juni atau Juli 2026 ini bisa beroperasi. Sementara itu, kontrak dari perjanjian penjualan listrik kepada PLN bisa mencapai 30 tahun dengan harga listrik dari setiap unit PLTSa sebesar US$20 sen per kWh. “Saat ini PLN juga sangat mendukung proyek ini,” ujarnya. (Akbar Evandio/Iim Fathimah Timorria)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kirana Larasati Cetak Rekor MURI! Berhasil Menyelam Sedalam 127 Meter
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Komunitas Madura di Malaysia gelar iftar, beri santunan anak yatim
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
10 Update Perang Israel-AS Vs Iran, Trump Ancam Hancurkan Iran
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
PSSI Jawab Kabar Dua Pemain Diaspora Incaran John Herdman untuk Perkuat Timnas Indonesia
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Pesantren Qur’an Anamfal Cirebon Menggelar Anamfal International Quran Competition MHQ 2026 Diikuti Peserta dari Tujuh Negara
• 10 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.