Fitch Beri Outlook Negatif, Menkeu Purbaya Bakal ke Luar Negeri Demi Hal Ini

jpnn.com
8 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi penilaian Fitch Ratings terhadap outlook utang Indonesia atau Sovereign Credit Indonesia.

Purbaya mempertanyakan alasan Indonesia menjadi sasaran penilaian negatif, padahal rasio utang, defisit anggaran, hingga pertumbuhan ekonomi nasional masih berada dalam posisi aman. 

BACA JUGA: Purbaya Bicara soal Kenaikan Harga Pertalite, Program MBG Bakal Kena Sasaran

Bahkan, Indonesia mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,11 persen pada tahun lalu, yang menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20.

"Jadi kalau saya hitung, sepertinya memang mereka ini sudah dengan konsep di kepala bahwa memang ada kelemahan struktural di anggaran kita."

BACA JUGA: Menkeu Purbaya Jamin Program Makan Bergizi Gratis Tak Memotong Anggaran Pendidikan

"Enggak tahu lihat yang dari mana, karena kalau dilihat dari rasio utang ke PDB, Indonesia aman. Dilihat dari defisit ke KPDB, kita aman. Pertumbuhannya juga aman," kata Purbaya di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (6/3).

Menkeu menduga keraguan lembaga internasional tersebut muncul, karena saat ini Indonesia masih berada pada masa transisi pemerintahan baru. 

BACA JUGA: Purbaya Jamin RI Bakal dapat Suplai Minyak, tetapi Harganya Bagaimana?

Selain itu, statusnya sebagai Menteri Keuangan baru kemungkinan membuat para pemeringkat merasa sanksi terhadap kemampuan pengelolaan anggaran negara.

"Mungkin masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru. Jadi, mereka sanksi, jangan-jangan Menteri Keuangan enggak bisa hitung," imbuh Purbaya.

Sebagai langkah responsif, Purbaya mengakui adanya strategi yang harus dilakukan untuk meyakinkan pasar global. 

Dia berencana melakukan kunjungan ke luar negeri pada April mendatang, untuk menunjukkan kualitas pengelolaan fiskal Indonesia secara langsung di mata internasional.

"Jadi, itu kesalahan saya juga karena saya engak keluar negeri kan. Saya pikir sebelum Indonesia tumbuh 6 persen, saya enggak akan keluar negeri," tuturnya.

Purbaya menekankan keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan ekonomi sepanjang 2025 bagian dari pencapaian luar biasa. 

Indonesia diklaim mampu membalikkan arah ekonomi hingga melampaui pertumbuhan negara-negara besar, seperti China, tanpa melanggar batasan fiskal yang ada.

Guna mematahkan keraguan tersebut, pemerintah berkomitmen mengejar pertumbuhan ekonomi yang lebih masif pada awal tahun ini. 

Purbaya menargetkan pertumbuhan pada triwulan pertama tahun 2026 dapat mencapai angka 5,5 hingga 6 persen untuk menciptakan impresi positif mengenai kesinambungan fiskal.

"Kalau kita lihat dari cara Pemerintahan Indonesia mengendalikan ekonomi tahun 2025 kemarin, sebetulnya luar biasa, tanpa menembus batas fiskal, batas keadaan fiskal, kita bisa membalik ekonomi yang tumbuhnya tertinggi ngalahin China segala macem."

"Namun, tetap saja tidak laku, artinya ada visi lain yang dinilai, yang masih belum meyakinkan para lembaga pemeringkat tadi," katanya panjang lebar. (mcr31/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gegara Hina Paspor RI, Alumni LPDP Bikin Kecewa Purbaya


Redaktur : M. Rasyid Ridha
Reporter : Romaida Uswatun Hasanah


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga BBM Subsidi Bakal Naik Jika Anggaran di APBN Nggak Kuat
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gara-gara AI, Banyak Gen Z Lebih Pilih Jadi Tukang Ketimbang Kuliah
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Henry Golkar Dukung Data Stok BBM Dibuka: Hindari Panic Buying
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Berangkat dari Hobi, Djamal Kini Bina 81 Anak Yatim dan Dhuafa Sejak 1989
• 7 jam lalumedcom.id
thumb
Rudal Balistik Iran Serang Kilang Minyak Arab Saudi dan Irak
• 8 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.