Jakarta (ANTARA) - Tim mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UM Tapsel) menghadirkan berbagai inovasi pemulihan berbasis agroekologi, sociopreneurship, serta konseling trauma bagi masyarakat terdampak banjir bandang, di Desa Huta Godang, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir 2025 melalui Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
"Melalui pendekatan agroekologi, kami mengajarkan pembuatan bahan organik sebagai media tanam serta pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanaman di lahan yang terdampak banjir," kata Ketua Tim Pelaksana Program dari UM Tapsel Darmadi Erwin Harahap dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Darmadi menjelaskan mahasiswa bersama masyarakat melakukan persiapan lahan serta menanam berbagai komoditas hortikultura seperti bayam, sawi, kangkung, dan jagung.
Baca juga: Mahasiswa USK terapkan inovasi panel surya untuk masyarakat Pidie Jaya
Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan pembuatan pupuk organik cair sederhana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan tanaman. Pupuk ini dibuat dari fermentasi campuran telur, monosodium glutamat, dan air.
Darmadi memaparkan program yang dilakukannya juga mencakup pelatihan sociopreneurship untuk membantu masyarakat membangkitkan kembali aktivitas ekonomi setelah bencana. Warga dilatih membuat produk olahan makanan serta mempelajari cara memasarkan produk melalui media sosial.
Selain aspek ekonomi dan pertanian, mahasiswa dari program studi Bimbingan Konseling turut memberikan sosialisasi terkait pengelolaan trauma yang masih dirasakan sebagian masyarakat setelah banjir bandang.
Salah satu warga Desa Hutagodang, Mila Erlina Napitupulu, mengaku program tersebut membantu masyarakat melihat kembali peluang untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya terdampak banjir bandang.
Baca juga: BFLF salurkan zakat tunai untuk korban bencana banjir Aceh Tamiang
Ia mengaku bersyukur atas kehadiran mahasiswa dan dosen yang membantu masyarakat mulai bangkit kembali. Menurutnya, banyak hal seperti pengetahuan jenis tanah, menanam sayur, membuat pupuk, hingga mengembangkan kemampuan lain seperti pembuatan kue menjadi sangat bermanfaat dalam keseharian mereka.
"Kami bisa berkumpul, belajar bersama, dan mulai mencoba berjualan lagi. Kami berharap pendampingan seperti ini bisa terus berlanjut agar lahan di sini bisa kembali diolah dalam skala yang lebih besar," ucap Mila.
Terpisah, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, I Ketut Adnyana menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak 2026 merupakan bagian dari transformasi pendidikan tinggi agar semakin kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
"Mahasiswa dan pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat. Kehadiran para mahasiswa diharapkan dapat memberikan semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan, serta menumbuhkan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan lebih baik melalui pemanfaatan potensi dan teknologi yang ada di Aceh Tamiang. Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak," tutur I Ketut Adnyana.
Baca juga: Kemensos serahkan bantuan Rp241 miliar untuk korban bencana Pidie Jaya
Baca juga: Satgas PRR targetkan tak ada lagi pengungsi di tenda saat Lebaran
Baca juga: BPJN Sumbar pastikan Jembatan Kembar berfungsi total saat Idul Fitri
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya pemulihan pascabencana yang melanda sejumlah wilayah Sumatera pada akhir 2025 melalui Program Mahasiswa Berdampak yang diinisiasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
"Melalui pendekatan agroekologi, kami mengajarkan pembuatan bahan organik sebagai media tanam serta pupuk cair untuk meningkatkan kesuburan tanaman di lahan yang terdampak banjir," kata Ketua Tim Pelaksana Program dari UM Tapsel Darmadi Erwin Harahap dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Darmadi menjelaskan mahasiswa bersama masyarakat melakukan persiapan lahan serta menanam berbagai komoditas hortikultura seperti bayam, sawi, kangkung, dan jagung.
Baca juga: Mahasiswa USK terapkan inovasi panel surya untuk masyarakat Pidie Jaya
Selain itu, mahasiswa juga memperkenalkan pembuatan pupuk organik cair sederhana yang dapat dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesehatan tanaman. Pupuk ini dibuat dari fermentasi campuran telur, monosodium glutamat, dan air.
Darmadi memaparkan program yang dilakukannya juga mencakup pelatihan sociopreneurship untuk membantu masyarakat membangkitkan kembali aktivitas ekonomi setelah bencana. Warga dilatih membuat produk olahan makanan serta mempelajari cara memasarkan produk melalui media sosial.
Selain aspek ekonomi dan pertanian, mahasiswa dari program studi Bimbingan Konseling turut memberikan sosialisasi terkait pengelolaan trauma yang masih dirasakan sebagian masyarakat setelah banjir bandang.
Salah satu warga Desa Hutagodang, Mila Erlina Napitupulu, mengaku program tersebut membantu masyarakat melihat kembali peluang untuk memanfaatkan lahan yang sebelumnya terdampak banjir bandang.
Baca juga: BFLF salurkan zakat tunai untuk korban bencana banjir Aceh Tamiang
Ia mengaku bersyukur atas kehadiran mahasiswa dan dosen yang membantu masyarakat mulai bangkit kembali. Menurutnya, banyak hal seperti pengetahuan jenis tanah, menanam sayur, membuat pupuk, hingga mengembangkan kemampuan lain seperti pembuatan kue menjadi sangat bermanfaat dalam keseharian mereka.
"Kami bisa berkumpul, belajar bersama, dan mulai mencoba berjualan lagi. Kami berharap pendampingan seperti ini bisa terus berlanjut agar lahan di sini bisa kembali diolah dalam skala yang lebih besar," ucap Mila.
Terpisah, Direktur Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, I Ketut Adnyana menegaskan bahwa Program Mahasiswa Berdampak 2026 merupakan bagian dari transformasi pendidikan tinggi agar semakin kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
"Mahasiswa dan pemerintah akan terus hadir bersama masyarakat. Kehadiran para mahasiswa diharapkan dapat memberikan semangat dan optimisme bagi masyarakat untuk bangkit dari cobaan, serta menumbuhkan keyakinan bahwa kehidupan ke depan akan lebih baik melalui pemanfaatan potensi dan teknologi yang ada di Aceh Tamiang. Ini adalah bentuk nyata pendidikan tinggi yang berdampak," tutur I Ketut Adnyana.
Baca juga: Kemensos serahkan bantuan Rp241 miliar untuk korban bencana Pidie Jaya
Baca juga: Satgas PRR targetkan tak ada lagi pengungsi di tenda saat Lebaran
Baca juga: BPJN Sumbar pastikan Jembatan Kembar berfungsi total saat Idul Fitri





