Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Tokio Marine Indonesia memproyeksikan atau menargetkan pendapatan premi dari lini usaha kendaraan bermotor naik 9,3% (year on year/YoY).
President Director Asuransi Tokio Marine Indonesia, Sancoyo Setiabudi menyebut target tersebut didasarkan oleh dinamika penjualan kendaraan, pembiayaan, serta arah kebijakan pemerintah, termasuk kajian insentif otomotif yang diharapkan dapat menggerakkan pasar otomotif nasional.
“Dengan strategi distribusi yang makin kuat dan layanan yang makin baik, kami melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka lebar,” katanya kepada Bisnis, Jumat (6/3/2026).
Adapun, pada awal 2026 ini Tokio Marine Indonesia mencatat kenaikan premi asuransi kendaraan bermotor sebesar 11,1% YoY. Akan tetapi, dia tidak menyebutkan berapa besar nilai pastinya.
“Lini kendaraan bermotor berkontribusi sekitar 14% terhadap total portofolio perusahaan,” sebut Sancoyo.
Untuk terus mendongkrak premi kendaraan bermotor, Tokio Marine Indonesia akan terus memperkuat kerja sama melalui Value Chains Strategy, mulai dari dealer, leasing, broker, hingga mitra strategis.
Baca Juga
- Tokio Marine Life Bedah Lima Rumah Imbas Banjir dan Longsor
- Tokio Marine Indonesia Bayar Klaim Asuransi Properti Rp15,5 Miliar per Januari 2026
- Tokio Marine: Asuransi Kesehatan Jadi Tren Masyarakat Usia 30-40 Tahun
Pada saat yang sama, imbuh Sancoyo, pihaknya terus berinovasi untuk memberikan layanan yang lebih cepat dan mudah bagi para pelanggan dan calon pelanggan, termasuk menyiapkan solusi yang lebih relevan untuk pasar EV, seperti penguatan jaringan bengkel dan mitra ekosistem EV, serta layanan yang mendukung keadaan darurat saat di jalan (ERA).
“Dengan langkah ini, kami optimistis peluang pertumbuhan tetap terbuka seiring membaiknya pasar otomotif di awal 2026,” ucapnya.
Di lain sisi, dia turut membeberkan net incurred claim kendaraan bermotor per Januari 2026 turun 26,4% YoY menjadi Rp7,7 miliar. Adapun, klaim yang paling dominan cenderung berasal dari kecelakaan lalu lintas dan pada periode tertentu bisa juga dipengaruhi oleh banjir atau genangan serta pencurian di area tertentu.
“Di sisi kami, penguatan manajemen klaim dan pencegahan fraud terus berjalan agar proses berjalan cepat, tepat, dan akuntabel,” tegasnya.
Untuk diketahui, Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) melaporkan pendapatan premi asuransi kendaraan bermotor sepanjang 2025 terkontraksi 4,2% YoY menjadi Rp19,01 triliun.
Menurut Sancoyo, hal tersebut terjadi karena berdasarkan data Gaikindo, penjualan mobil nasional sepanjang 2025 tercatat lebih rendah dibanding 2024. Ini mencerminkan adanya penurunan permintaan kendaraan baru.
“Di saat yang sama, sebagian konsumen menunda pembelian kendaraan atau beralih ke kendaraan bekas. Hal ini menyebabkan permintaan polis baru juga cenderung melambat seiring pembiayaan kendaraan baru yang menurun,” pungkasnya.





