Dengan penurunan bantuan pembangunan global, pasar berkembang (growth market) membutuhkan kerangka kerja baru, yaitu Kalkulus Baru untuk Kemakmuran Global, untuk memungkinkan transformasi ekonomi dengan tujuan menciptakan kemakmuran berkelanjutan dari dalam.
Executive Director MIT Kuo Sharper Center, Dina H. Sherif, mengatakan pasar berkembang masih sangat bergantung pada praktik ekstraktif -- warisan kolonialisme. Untuk mendapatkan kembali kendali, pasar berkembang membutuhkan pendekatan baru yang menggeser perekonomian mereka dari ekstraksi sumber daya komoditas tunggal.
“Kendali kolonial menggeser banyak ekonomi kami menjadi pasar ekstraksi sumber daya tunggal, dan apa yang sebenarnya dilakukan itu adalah merampas kemampuan ekonomi lokal untuk mendiversifikasi basis industri mereka,” kata Dina dalam gelaran The New Calculus for Growth Markets: Scaling Innovation Entrepreneurship in Southeast Asia di Nur Corner S28, Jakarta Selatan, Kamis (26/2).
Menurut Dina, warisan ini menghambat kemampuan ekonomi lokal untuk mendiversifikasi basis industri, membangun keunggulan komparatif sendiri, serta mempertahankan nilai tambah di dalam negeri. Ia menjelaskan kebutuhan akan model baru juga muncul karena pendekatan pembangunan tradisional yang selama ini didorong lembaga pembiayaan pembangunan dan bantuan donor dianggap gagal memenuhi janjinya menciptakan kemakmuran berkelanjutan, adil, dan inklusif.
“Jadi paradigma lama -- dan saya mengatakan ini sebagai seorang ekonom -- bahwa kami telah menciptakan model yang dibangun atas kelangkaan, bukan kelimpahan, dan hal itu meninggalkan pola pikir yang tidak terbiasa menggunakan aset yang kami miliki untuk menciptakan kemakmuran yang berkelanjutan sekaligus inklusif,” jelas Dina.
Ia turut menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang memperkirakan sekitar USD 31 triliun kekayaan telah diekstraksi dari Indonesia selama 300 tahun penjajahan Belanda. Menurut Prabowo, angka itu setara hampir 18 kali produk domestik bruto (PDB) Indonesia saat ini yang sekitar USD 1,5 triliun.
“Jadi, pertanyaannya adalah siapa sebenarnya yang diuntungkan dari model pertumbuhan tersebut? Dan saya akan berargumen bahwa rakyat Indonesia tidak mendapatkan manfaatnya. Tetapi saya percaya bahwa keadaan sedang berubah,” tutur Dina.
Dalam pandangannya, model pertumbuhan lama tidak memberi manfaat signifikan bagi rakyat di berbagai strata sosial dan ekonomi, meski situasi mulai berubah seiring meningkatnya kesadaran akan perlunya pendekatan baru. Dina menambahkan, banyak pasar berkembang yang menyadari kewirausahaan dan inovasi dapat membalik ketergantungan pada bantuan donor menuju pola pertumbuhan ekonomi yang lebih mandiri.
“'Kalkulus baru' adalah kerangka kerja yang kami kembangkan untuk menggeser percakapan ke arah kemakmuran baru yang lebih adil. Kami ingin menegaskan bahwa babak pertumbuhan selanjutnya tidak boleh meniru Revolusi Industri di Barat, yang menghasilkan kejayaan yang sangat besar, tapi meninggalkan terlalu banyak orang di belakang," lanjut Dina.
Ia meyakini negara seperti Indonesia memiliki peluang besar untuk merancang jalur pertumbuhan alternatif yang inklusif, berkelanjutan, dimiliki secara lokal, sambil membangun ekosistem inovasi domestik yang cukup kuat tidak hanya untuk menyelesaikan tantangan global, tapi juga mengekspor solusi buatan dalam negeri dan bersaing dengan percaya diri di panggung global.
Peran Indonesia dalam Mendorong Inovasi-Entrepreneurship"Saya yakin Indonesia menawarkan contoh-contoh kuat para wirausahawan yang telah menetapkan aturan untuk perhitungan kemakmuran yang baru. Mereka telah menciptakan pasar yang sepenuhnya baru, menghasilkan lapangan kerja dan kekayaan yang berarti, dan membantu mentransformasi lanskap ekonomi negara. Tantangannya sekarang adalah memastikan bahwa keberhasilan ini terus tumbuh dan berlipat ganda,” ujar Dina lagi.
Program MIT Kuo Sharper Center telah mendukung lebih dari 15 pendiri dan inovator dari lebih dari lima negara di Asia Tenggara sejauh ini -- angka yang menurutnya harus diperluas lebih lanjut untuk memenuhi potensi penuh wilayah itu.
MIT Kuo Sharper Center for Prosperity and Entrepreneurship didirikan pada 2007 dengan keyakinan bahwa wirausahawan dan solusi inovatif mereka merupakan kunci untuk memajukan kemakmuran yang berkelanjutan dan inklusif di pasar pertumbuhan global.
Sejak 2007, MIT Kuo Sharper Center telah mendukung lebih dari 600 inovator global lewat berbagai program, termasuk lewat fellowship dan bootcamp.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang MIT Kuo Sharper Center for Prosperity and Entrepreneurship, bisa langsung menuju website https://mitsloan.mit.edu/ksc.





