WASHINGTON – Video Gedung Putih dimulai dengan adegan dari "Call of Duty," gim tembak-menembak orang pertama yang penuh aksi. Video tersebut kemudian dengan cepat berpindah ke gambar jet tempur yang meluncur dari kapal induk, rudal yang melesat di langit, dan target yang meledak dalam gerak lambat—semuanya diiringi dentuman lagu "Bonfire" milik rapper Childish Gambino dan narator bersuara berat yang menyatakan, "kita memenangkan pertarungan ini."
Skor eliminasi (kill score) "Call of Duty," yang menunjukkan nilai numerik yang diperoleh saat melumpuhkan musuh, muncul setelah setiap ledakan. Ditonton lebih dari 58 juta kali, video tersebut merupakan bagian dari kampanye media sosial yang diluncurkan pemerintahan Trump untuk "menjual" kampanye pengebomannya terhadap Iran kepada publik Amerika Serikat (AS).
Grafik dan pengarahan (briefing) tenang yang mendefinisikan konflik masa lalu sebagian besar telah digantikan oleh kampanye hubungan masyarakat yang dirancang dengan nuansa video gim. Kampanye ini memamerkan kecanggihan teknologi dan mematikan militer AS, memperlihatkan pesawat siluman yang membelah awan dan target yang meledak layaknya film Hollywood saat bola api memenuhi layar diiringi musik.
Dirilis oleh Gedung Putih dan Pentagon di platform X, TikTok, dan Instagram, video-video tersebut sarat dengan referensi budaya populer, musik yang memacu adrenalin, serta cuplikan dari film aksi "berotot". Video-video ini telah ditonton jutaan kali dan dibagikan secara luas di media sosial oleh akun-akun pro-Trump.
"Dulu, ini membutuhkan waktu dan banyak pengetahuan," kata Craig Silverman, seorang peneliti dan salah satu pendiri Indicator, sebuah buletin dan situs web yang didedikasikan untuk mengungkap penipuan digital. "Sekarang, seorang manajer media sosial di Gedung Putih bisa bermain-main dengan salah satu alat ini selama setengah jam dan menghasilkan sesuatu yang terlihat cukup bagus."
Kritik Atas "Gamifikasi" Perang




