Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan telah memerintahkan militer negaranya untuk tidak menyerang negara mana pun yang tidak melakukan serangan terhadap Republik Islam tersebut di tengah konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Pezeshkian mengatakan dewan kepemimpinan sementara Iran telah memutuskan kebijakan tersebut pada Jumat (6/3/2026). Namun, hingga Sabtu (7/3/2026), belum terlihat tanda-tanda bahwa Iran menghentikan serangan proyektil ke sejumlah negara Teluk seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.
“Kami telah menginstruksikan angkatan bersenjata untuk tidak menyerang atau meluncurkan rudal ke negara tetangga kecuali jika serangan datang dari wilayah mereka,” kata Pezeshkian dalam pidatonya, Sabtu (7/3/2026), dikutip dari Bloomberg.
Dia juga menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga yang terdampak serangan tersebut. “Kami tidak memiliki niat menyerang negara tetangga. Mereka adalah saudara kami,” ujarnya.
Meski demikian, pada waktu yang hampir bersamaan dengan pidato tersebut, sirene peringatan serangan udara dan peringatan rudal dilaporkan berbunyi di Bahrain dan Qatar. Di Dubai, maskapai Emirates sempat menghentikan operasional penerbangan setelah rentetan proyektil kembali mengganggu aktivitas maskapai internasional terbesar di dunia itu.
Sementara itu, Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat sejumlah drone di wilayah gurun Empty Quarter yang mengarah ke ladang minyak Shaybah. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 1 juta barel minyak mentah per hari.
Baca Juga
- Arab Saudi Klaim Tangkis 2 Rudal dan Serangan Drone dari Iran
- Lapangan Kerja AS Turun 92 Ribu, Tingkat Pengangguran Naik jadi 4,4%
- DPR AS Tolak Resolusi Hentikan Perang Iran yang Diinisasi Trump
Sejumlah negara Teluk sebelumnya telah mendesak Iran untuk tidak melakukan serangan balasan terhadap mereka. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar juga menegaskan bahwa wilayah udara maupun teritori mereka tidak digunakan oleh Amerika Serikat maupun Israel untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Pezeshkian pada kesempatan tersebut juga menekankan bahwa penyelesaian konflik seharusnya ditempuh melalui jalur diplomasi, bukan melalui konfrontasi militer dengan negara-negara tetangga.
“Kita harus menyelesaikan situasi ini melalui diplomasi, bukan dengan bertempur dengan negara tetangga. Gagasan bahwa kami akan menyerah tanpa syarat adalah mimpi yang harus mereka kubur,” katanya.
Pada hari yang sama, pusat komando angkatan bersenjata Iran juga menegaskan bahwa operasi militer negara tersebut tidak ditujukan kepada negara tetangga. Menurut laporan kantor berita semi-resmi Tasnim, operasi Iran difokuskan pada aset Amerika Serikat dan Israel di darat, laut, maupun wilayah udara kawasan tersebut.
Konflik yang berlangsung selama sepekan terakhir juga mulai meluas hingga ke wilayah di luar Teluk dan Israel. Awal pekan ini, Azerbaijan menyatakan dua drone Iran menghantam wilayah Nakhchivan. Sementara itu, pasukan NATO dilaporkan menembak jatuh rudal balistik yang ditembakkan dari Iran menuju wilayah udara Turki.
Pezeshkian saat ini merupakan salah satu dari tiga anggota dewan kepemimpinan sementara yang memimpin Iran setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel sepekan lalu. Dua anggota lainnya adalah ulama senior Ayatollah Alireza Arafi dan Ketua Lembaga Peradilan Gholam-Hossein Mohseni-Ejei.
Belum jelas seberapa besar kendali dewan tersebut terhadap militer Iran. Negara itu diketahui menerapkan strategi pertahanan “mosaic”, yang dirancang agar operasi militer tetap berjalan meski tokoh-tokoh senior tewas dan komunikasi terganggu, dengan memberikan kewenangan lebih besar kepada unit militer untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Tak lama setelah pidato Pezeshkian, penyiaran pemerintah Iran mengutip juru bicara militer yang menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerang negara yang tidak memberikan ruang atau dukungan bagi agresi terhadap mereka.
“Sejak hari pertama agresi Israel, setiap wilayah yang menjadi sumber serangan terhadap kami akan menjadi target yang sah bagi Iran,” ujar juru bicara tersebut.
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa Arab Saudi juga meningkatkan komunikasi langsung dengan Iran untuk meredam konflik yang telah mengguncang kawasan Timur Tengah dan memicu tekanan terhadap pasar global. Menurut sejumlah pejabat Eropa, pembicaraan tersebut melibatkan lembaga keamanan dan diplomat kedua negara, meski belum jelas apakah pejabat tingkat tinggi turut terlibat.





