Lewat Kamera Inovatif Ini, Manusia Kini Bisa Melihat Dunia dengan Mata Hewan

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

PERNAHKAH Anda membayangkan bagaimana seekor lebah melihat bunga atau bagaimana seekor anjing memandang taman rumah Anda? Selama ini, cara hewan mempersepsikan warna adalah misteri yang hanya bisa diperkirakan lewat teori. Namun, sebuah terobosan teknologi kamera terbaru kini memungkinkan manusia untuk melihat dunia persis seperti yang dilihat oleh berbagai spesies hewan.

Inovasi ini dipimpin Vera Vasas, seorang peneliti yang mendedikasikan bertahun-tahun waktunya untuk mempelajari penglihatan fauna. Berkolaborasi dengan Hanley Color Lab di George Mason University, tim ini menciptakan alat yang mampu menerjemahkan spektrum cahaya ke dalam unit persepsi yang sesuai dengan mata hewan.

Melampaui Batas Penglihatan Manusia

Perbedaan mendasar antara manusia dan hewan terletak pada sel fotoreseptor di mata. Jika manusia pada umumnya memiliki penglihatan trikromatik (sensitif terhadap merah, hijau, dan biru), banyak hewan memiliki kemampuan yang jauh lebih kompleks.

Burung, misalnya, memiliki penglihatan tetrakromatik yang memungkinkan mereka melihat sinar ultraviolet (UV). Kemampuan ini sangat krusial bagi mereka untuk mencari makan atau memilih pasangan. Di sisi lain, mamalia seperti anjing dan kucing memiliki penglihatan dikromatik, yang membuat mereka sulit membedakan warna merah dan hijau, mirip dengan kondisi buta warna pada manusia.

Sistem kamera yang dikembangkan Vasas hadir untuk mengatasi keterbatasan metode lama. Sebelumnya, visualisasi penglihatan hewan hanya bisa dilakukan melalui fotografi warna palsu (false color) yang memakan waktu dan tidak mampu menangkap objek bergerak.

"Sistem kami merekam dalam empat saluran warna: biru, hijau, merah, dan UV," jelas Vasas. "Data ini kemudian dikonversi menjadi 'unit persepsi', pada dasarnya menerjemahkannya ke dalam format yang mereplikasi penglihatan hewan berdasarkan data fotoreseptor yang telah diketahui."

Akurasi Tinggi dan Murah Biaya

Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah tingkat akurasinya yang mencapai lebih dari 92% dibandingkan dengan metode spektrofotometri tradisional. Hebatnya lagi, perangkat ini dirancang agar praktis. Alih-alih menggunakan peralatan laboratorium yang mahal, sistem ini dibangun menggunakan kamera komersial yang tersedia di pasar dengan casing modular hasil cetakan printer 3D.

Dampaknya bagi dunia sains dan sinematografi sangat besar. Para pembuat film dokumenter alam liar kini bisa menyajikan visual yang lebih akurat tentang bagaimana mangsa menghindari predator atau bagaimana serangga menavigasi pola bunga yang tak kasat mata bagi manusia.

Penting bagi Konservasi

Selain untuk edukasi, memahami cara hewan melihat dunia memiliki implikasi praktis bagi kelestarian lingkungan. Adaptasi visual hewan telah berevolusi selama jutaan tahun untuk membantu mereka bertahan hidup di habitat masing-masing.

"Memahami bagaimana hewan melihat dunia membantu kita membuat keputusan yang lebih baik mengenai konservasi dan manajemen habitat," ujar Vasas. "Hal ini dapat menginformasikan bagaimana kita merancang bangunan, jalan, dan bahkan pencahayaan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap satwa liar."

Studi lengkap mengenai teknologi kamera revolusioner ini telah diterbitkan dalam jurnal PLoS Biology. Dengan lensa baru ini, manusia tidak hanya sekadar mengamati alam, tetapi juga mulai memahami perspektif makhluk hidup lain yang berbagi planet dengan kita. (Earth/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun
• 22 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Tertarik Punya Alfamart Sendiri, Segini Biaya dan Balik Modal di 2026
• 23 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Meski Hujan, Pawai Ogoh-ogoh Nyepi di Bundaran HI Tetap Diserbu Warga
• 8 jam lalukompas.com
thumb
Ketut Subawa Bawa Pulang Mobil BYD Berkat IM3
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
Vidi Aldiano Meninggal Dunia, Wapres Gibran: Indonesia Kehilangan Talenta Muda
• 19 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.