KLH Tuangkan 10 Ribu Liter Ekoenzim ke Sungai Jeletreng untuk Pulihkan Pencemaran Pestisida

pantau.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq bersama Generasi Muda Buddhis Indonesia dan Direktorat Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama menuangkan sekitar 10 ribu liter ekoenzim ke Sungai Jeletreng di Kota Tangerang Selatan pada Minggu 8 Maret 2026 sebagai upaya membantu memulihkan ekosistem sungai yang tercemar akibat kebakaran gudang pestisida.

Langkah tersebut dilakukan untuk membantu menurunkan tingkat pencemaran di sungai sambil melakukan pemantauan kualitas lingkungan secara berkala.

"Sambil kita luruhkan dulu semua pencemar ini sampai batas tertentu. Kita melakukan pengambilan data secara periodik. Jadi satu bulan lagi kita ambil lagi di sedimentasinya", ungkap Hanif Faisol.

Pencemaran Sungai Capai 22,5 Kilometer

Berdasarkan hasil penelitian serta pengecekan lapangan, tim penegakan hukum Kementerian Lingkungan Hidup menemukan adanya pencemaran cairan pestisida yang mengalir dari Sungai Jeletreng hingga ke Sungai Cisadane.

Pencemaran tersebut diperkirakan meluas hingga sekitar 22,5 kilometer dan meliputi wilayah Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, serta Kabupaten Tangerang.

Dampak pencemaran tersebut antara lain menyebabkan kematian berbagai biota akuatik yang hidup di sungai.

Kementerian Lingkungan Hidup juga telah melakukan pemeriksaan terhadap gudang milik PT Biotek Saranatama yang berada di Kawasan Pergudangan Taman Tekno BSD Serpong Blok K3 Nomor 37 Kecamatan Setu Kota Tangerang Selatan.

Gudang tersebut diketahui menyimpan pestisida jenis cypermetrin dan profenofos yang biasa digunakan untuk mengendalikan hama tanaman.

Dalam insiden kebakaran tersebut diperkirakan sekitar 20 ton bahan pestisida terbakar.

Air sisa pemadaman kebakaran yang bercampur dengan residu bahan kimia kemudian mengalir ke badan sungai sehingga memicu terjadinya pencemaran.

Inisiatif Masyarakat Bantu Pemulihan Lingkungan

Hanif Faisol menilai langkah masyarakat yang menebarkan ekoenzim hasil produksi organisasi Gemabudhi merupakan inisiatif positif dalam membantu pemulihan lingkungan.

"Kita melihat niat baik dan semangatnya yang luar biasa. Ini yang harus kita apresiasi karena dapat mendorong upaya pemulihan lingkungan secara bersama", ujarnya.

Ekoenzim sendiri dibuat dari limbah buah dan sayuran yang difermentasi selama kurang lebih tiga bulan.

Menurut Hanif Faisol, ekoenzim tersebut dapat membantu memperkaya kandungan oksigen di dalam air serta mendukung aktivitas mikroorganisme di perairan.

Meski demikian efektivitas penggunaan ekoenzim tersebut tetap akan diuji secara ilmiah melalui pemantauan berkala terhadap kualitas air serta sedimen sungai.

Di sisi lain pemerintah juga sedang menempuh proses hukum terkait kejadian pencemaran sungai akibat kebakaran gudang pestisida tersebut.

Hanif Faisol menjelaskan pengelolaan pestisida merupakan kewenangan Kementerian Pertanian.

Namun apabila bahan tersebut berubah menjadi limbah bahan berbahaya dan beracun maka penanganannya menjadi tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
25 Tahun Bina Bangsa School: Legacy of Stars yang Terus Bertumbuh Melalui Jaringan Kampus Nasional
• 16 jam laludisway.id
thumb
Riuh! Ribuan Warga Yaman Demo Dukung Iran dan Lebanon di Tengah Perang, Bawa Foto Khamenei | BERUT
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Kapolri Resmikan 57 Jembatan Merah Putih Presisi di Ogan Ilir untuk Permudah Akses Warga dan Tekan Biaya Logistik
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Semangat Kebersamaan Ramadan Hadirkan Senyum Anak Yatim
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kapolri Resmikan 57 Jembatan Merah Putih Presisi di Sumsel, Bantu Mobilitas Pelajar
• 22 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.