FAJAR, SURABAYA — Sabtu malam, 7 Maret 2026, Stadion Segiri di Samarinda menjadi saksi salah satu malam yang sulit bagi Persebaya Surabaya. Di hadapan publik tuan rumah, Green Force dipaksa menerima kekalahan telak 1–5 dari Borneo FC dalam lanjutan BRI Super League 2025/2026.
Kekalahan itu bukan sekadar soal tiga poin yang hilang. Ia membuka kembali perbincangan lama yang selama beberapa pekan terakhir mulai menguat di kalangan suporter: apakah Persebaya membutuhkan perubahan besar di dalam skuadnya?
Sorotan paling tajam langsung mengarah ke lini depan.
Sepanjang pertandingan, Persebaya sebenarnya tidak sepenuhnya tanpa peluang. Beberapa kesempatan berhasil diciptakan. Namun efektivitas menjadi persoalan utama. Dari sejumlah peluang yang hadir, hanya satu yang mampu dikonversi menjadi gol.
Di sisi lain, Borneo FC tampil jauh lebih klinis. Hampir setiap peluang berbahaya yang mereka bangun mampu diubah menjadi gol.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, tidak menutupi kenyataan tersebut. Dalam konferensi pers seusai pertandingan, ia mengakui bahwa timnya harus melakukan evaluasi besar setelah hasil buruk tersebut.
“Kami juga punya beberapa peluang, tetapi hanya mampu mencetak satu gol. Sekarang kami harus melihat kembali pertandingan ini dan menganalisis apa yang sebenarnya terjadi,” ujarnya.
Pernyataan itu terdengar seperti refleksi yang jujur. Tetapi di baliknya, tersimpan pertanyaan yang lebih besar: apakah masalah Persebaya hanya soal performa di satu pertandingan, atau memang ada persoalan struktural yang harus dibenahi?
Dalam beberapa pekan terakhir, isu mengenai kebutuhan penyerang baru memang mulai menguat. Produktivitas gol Green Force dianggap belum cukup konsisten untuk bersaing di papan atas.
Kekalahan telak di Samarinda seolah memperkuat narasi tersebut.
Spekulasi pun mulai bergerak ke arah bursa transfer musim depan. Sejumlah akun media sosial yang fokus membahas pergerakan pemain mulai menyebut beberapa nama yang dikaitkan dengan Persebaya.
Salah satu yang paling sering muncul adalah penyerang Timnas Indonesia, Ramadhan Sananta.
Nama Sananta sebenarnya bukan benar-benar baru dalam radar Persebaya. Striker berusia 23 tahun itu pernah dikaitkan dengan Green Force pada bursa transfer paruh musim 2025/2026 lalu. Namun hingga jendela transfer ditutup, kepindahan tersebut tidak pernah terwujud.
Kini rumor tersebut kembali mencuat.
Beberapa akun pengamat transfer di media sosial bahkan menyebut kemungkinan Sananta bergabung dengan Persebaya pada awal musim 2026/2027. Spekulasi ini tidak sepenuhnya tanpa dasar.
Salah satu faktor yang sering disebut adalah hubungan antara Sananta dan Bernardo Tavares.
Keduanya pernah bekerja sama saat berada di PSM Makassar. Pada musim 2022/2023, Sananta berkembang pesat di bawah arahan pelatih asal Portugal tersebut. Ia menjelma menjadi salah satu penyerang muda paling menjanjikan di sepak bola Indonesia.
Kedekatan profesional itu dinilai bisa membuka peluang reuni.
Selain faktor hubungan personal, situasi Sananta di klubnya saat ini juga menarik untuk diperhatikan. Striker Timnas Indonesia tersebut kini bermain untuk DPMM FC di kompetisi Malaysia.
Namun performanya musim ini belum sepenuhnya stabil. Dari 15 pertandingan yang dijalani, ia baru mencatatkan dua gol dan satu assist.
Situasi di dalam skuad DPMM FC juga berubah setelah kedatangan striker baru asal Nigeria, Christian Iboroso. Kehadiran pemain tersebut membuat persaingan di lini depan semakin ketat.
Di sisi lain, kontrak Sananta bersama DPMM FC akan berakhir pada 30 Juni 2026.
Kondisi itu membuka kemungkinan menarik di pasar transfer. Jika tidak memperpanjang kontraknya, Sananta bisa bergabung dengan klub baru secara bebas transfer pada awal musim 2026/2027.
Bagi klub seperti Persebaya, situasi tersebut tentu menjadi peluang yang patut dipertimbangkan.
Namun hingga saat ini, semua pembicaraan tersebut masih berada di wilayah spekulasi. Belum ada konfirmasi resmi dari manajemen klub mengenai rencana perekrutan pemain baru.
Yang jelas, kekalahan telak dari Borneo FC telah menjadi semacam cermin bagi Persebaya.
Ia memperlihatkan bahwa tim ini masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah—terutama dalam hal efektivitas serangan dan kedalaman skuad.
Apakah solusi dari persoalan itu adalah perombakan besar-besaran atau sekadar penyesuaian kecil, waktu yang akan menjawabnya.
Bagi para pendukung Green Force, satu hal yang kini hanya bisa dilakukan adalah menunggu: apakah rumor mengenai Ramadhan Sananta akan benar-benar berubah menjadi kenyataan, atau sekadar menjadi bagian dari dinamika bursa transfer yang selalu penuh spekulasi.





