Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengimbau masyarakat tidak panik membeli bahan pokok menjelang Lebaran 2026 karena stok pangan nasional dipastikan aman.
Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas Nita Yulianis menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan nasional. Pemerintah, kata dia, terus menjaga pasokan dan stabilitas harga melalui berbagai program, termasuk Gerakan Pangan Murah (GPM).
“Stok pangan saat ini dalam kondisi cukup, sehingga masyarakat tidak perlu panic buying. Membeli berlebihan justru dapat mengganggu distribusi di pasar,” kata Nita dalam keterangan tertulis, dikutip pada Minggu (8/3/2026).
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) Freddy menyatakan pasokan komoditas hortikultura, seperti cabai dan bawang merah, dipastikan tetap mencukupi hingga periode setelah Idulfitri.
Namun, dia menjelaskan, pergerakan harga yang terjadi selama ini lebih banyak dipicu oleh faktor cuaca yang dapat menghambat proses panen maupun distribusi.
“Secara produksi sebenarnya tersedia. Tantangannya lebih pada faktor cuaca yang kadang memengaruhi proses panen,” ujar Freddy.
Baca Juga
- RI Hadapi Ancaman El Nino, Begini Jurus Kementan Amankan Stok Pangan
- Mentan: Stok Pangan RI Cukup untuk 324 Hari, Produksi Terus Bertambah
- Lapor Prabowo, Zulhas Pastikan Harga dan Stok Pangan Terkendali Jelang Lebaran
Di sisi lain, Freddy juga mengajak masyarakat untuk meminimalkan pemborosan pangan dengan melakukan pengolahan sederhana di rumah, misalnya dengan membuat bumbu dasar atau pasta cabai agar bahan pangan dapat disimpan lebih lama. Selain itu, masyarakat juga didorong memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan dapur, seperti cabai.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan stok pangan nasional hingga Maret 2026 berada dalam kondisi aman.
“Insya Allah pangan kita aman. Pemerintah terus menjaga produksi dan distribusi agar kebutuhan masyarakat, khususnya menjelang Idulfitri, tetap terpenuhi,” ujar Amran.
Kementan mencatat, produksi beras nasional berkisar antara 2,6 juta—5,7 juta ton per bulan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata konsumsi nasional yang mencapai 2,59 juta ton per bulan.
Saat ini, total ketersediaan beras nasional tercatat sekitar 27,99 juta ton, yang terdiri atas stok Perum Bulog sebesar 3,76 juta ton, cadangan di masyarakat sekitar 12,50 juta ton, serta standing crop atau padi yang siap dipanen sebanyak 11,73 juta ton.
Adapun di luar produksi yang masih terus berjalan, jumlah stok tersebut diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan beras nasional hingga hampir satu tahun ke depan.
“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” terangnya.
Di samping itu, Amran menyatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah antisipasi untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena iklim. Salah satu upaya melalui program pompanisasi untuk lahan pertanian seluas 1,2 juta hektare, dan pada tahun ini akan ditambah pompanisasi untuk 1 juta hektare lagi.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan tambahan irigasi perpompaan (irpom) untuk 1 juta hektare lahan guna memastikan ketersediaan air bagi tanaman padi di tengah potensi musim kering.
“Potensi kekeringan sudah kita antisipasi sejak awal melalui pompanisasi. Tahun lalu sudah 1,2 juta hektare, dan tahun ini kita tambah lagi 1 juta hektare agar produksi tetap terjaga,” pungkasnya.




