Optimisme Cerdas Saat Konflik Global Memanas

republika.co.id
20 jam lalu
Cover Berita

Oleh : Prof Reniati, Pengurus PP ISEI Bidang Perumusan Kebijakan Makroekonomi dan Keuangan FG Inklusi Ekonomi Keuangan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Memanasnya konflik Israel–AS dan Iran menguji ekonomi Indonesia lewat dua jalur. Yakni gejolak pasar keuangan (dolar AS menguat, risk-off) dan potensi lonjakan harga energi dan logistik. 

Namun optimisme kita tidak boleh rapuh, harus berbasis data. Fondasi domestik masih cukup solid: ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen pada 2025 dan 5,39 persen persen (yoy) pada Triwulan IV-2025. Neraca eksternal juga memberi bantalan: neraca perdagangan Januari 2026 surplus 0,95 miliar dolar AS, sementara posisi cadangan devisa berada pada level tinggi. Di sisi harga, tekanan inflasi perlu dicermati: Februari 2026 inflasi 4,76 persen (yoy) dengan inflasi inti 2,63 persen (yoy) artinya gejolak harga lebih banyak bersumber dari komponen yang rentan terhadap gangguan pasokan, energi, dan distribusi.

Dari sini tampak tantangan utama adalah menjaga stabilitas agar ombak global tidak berubah menjadi badai domestik. Dalam jangka pendek, konflik biasanya mendorong pelaku pasar mencari aset aman sehingga dolar AS menguat dan mata uang emerging market lebih volatil. Rupiah berpotensi tertekan bukan semata karena fundamental, melainkan karena psikologi pasar yang sensitif. Pada saat yang sama, kenaikan harga minyak dan biaya pengiriman dapat memicu imported inflation seperti biaya transportasi naik, harga bahan baku meningkat, dan harga pangan tertentu terdorong lewat biaya distribusi. Bila kedua jalur ini bertemu, daya beli bisa melemah, margin usaha tergerus, dan pertumbuhan tertahan.

Di sinilah peran kebijakan menjadi penentu. Bank Indonesia menahan BI-Rate 4,75 persen dengan fokus menjaga stabilitas nilai tukar dan mengarahkan inflasi agar tetap pada sasaran. Ke depan, kebijakan suku bunga sebaiknya tetap data dependent yaitu penahanan suku bunga tepat selama ekspektasi inflasi terjangkar dan gejolak Rupiah bisa diredam melalui bauran instrumen. Stabilitas Rupiah tidak boleh hanya bertumpu pada “rate”; yang lebih efektif adalah kombinasi intervensi valas (spot dan DNDF), operasi moneter, pendalaman pasar uang valas, serta perluasan akses lindung nilai (hedging) bagi dunia usaha. Prinsipnya jelas bukan mengunci kurs pada angka tertentu, melainkan menurunkan volatilitas berlebihan agar pelaku usaha dapat merencanakan harga, produksi, dan pembiayaan secara wajar.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Namun stabilitas moneter tidak akan kokoh bila inflasi pasokan dibiarkan, oleh karena itu, pemerintah perlu menang di hulu: menahan inflasi dari sisi pasokan dan distribusi, terutama menjelang HBKN ketika permintaan meningkat. Langkah praktis yang bisa segera dieksekusi adalah (1) pengamanan stok dan kelancaran distribusi komoditas pangan strategis lintas daerah; (2) operasi pasar berbasis data harga dan wilayah rawan; (3) penguatan koordinasi TPIP/TPID agar respons cepat dan seragam; (4) mitigasi risiko energi melalui diversifikasi pasokan, efisiensi, dan kebijakan bantuan yang lebih tepat sasaran untuk melindungi kelompok rentan tanpa membebani fiskal secara berkepanjangan.

Optimisme yang cerdas juga menuntut disiplin mikro. Rumah tangga perlu menata prioritas belanja meningkatkan porsi kebutuhan pokok, mengurangi pembelian impulsif, dan memperkuat dana darurat meski kecil. UMKM perlu memperketat arus kas, mengelola stok, dan melakukan penyesuaian harga dengan strategi nilai (bundling, ukuran, layanan), bukan sekadar menaikkan angka. Institusi publik dan swasta dapat menekan biaya tanpa menurunkan layanan inti melalui efisiensi energi dan proses kerja.

Kesimpulannya, konflik global boleh memanas, tetapi Indonesia tidak harus ikut panas. Kuncinya adalah menjaga kepercayaan dengan kerja yang terukur, BI menstabilkan Rupiah dan mengarahkan ekspektasi inflasi, pemerintah memastikan pasokan pangan energi dan distribusi tetap lancar; masyarakat dan pelaku usaha merespons dengan tenang dan produktif. Optimisme yang membumi lahir bukan dari retorika, melainkan dari indikator yang bisa dilihat: volatilitas Rupiah menurun, inflasi inti terjaga, harga pangan kembali normal pasca HBKN, distribusi lancar, dan usaha tetap bergerak. Bila jangkar stabilitas kuat, masyarakat punya alasan rasional untuk optimis dan produktivitas nasional justru bisa menguat di tengah ketidakpastian.

Agar benar-benar operasional, ada lima paket kerja yang bisa langsung dipakai sebagai checklist nasional. Pertama, stabilisasi harga pangan berbasis data: Pemda mempublikasikan harga harian komoditas kunci, menetapkan ambang intervensi, lalu menggerakkan operasi pasar dan distribusi lintas-daerah sebelum lonjakan meluas. Kedua, perlindungan daya beli yang tepat sasaran: bansos dan bantuan pangan dipercepat pada kelompok rentan, disalurkan non-tunai agar cepat dan akuntabel, sekaligus mencegah kebocoran.

Ketiga, penguatan ketahanan energi: penghematan energi di transportasi dan industri didorong melalui insentif, serta diversifikasi pasokan untuk mengurangi ketergantungan pada rute yang rawan. Keempat, dukungan produktivitas UMKM: fasilitasi akses pembiayaan modal kerja, pelatihan manajemen kas, dan dorongan digitalisasi pembayaran agar biaya transaksi turun.

Kelima, satu suara komunikasi kebijakan: BI-Pemerintah menyampaikan peta risiko, langkah stabilisasi, dan pesan ketersediaan pasokan secara rutin, sehingga rumor tidak mengalahkan data. Pemerintah, juga perlu memonitor kembali program MBG yang banyak menggunakan dana APBN sehingga fiskal kita semakin sehat. Jika lima paket ini dijalankan konsisten, masyarakat tidak hanya diajak optimis, tetapi diberi alasan konkret untuk tetap bekerja, berusaha, dan tumbuh.

Pada akhirnya, krisis global selalu datang sebagai ujian tata kelola dan structural ekonomi Indonesia. Ketika koordinasi kuat, intervensi tepat sasaran, dan informasi jernih, guncangan eksternal tidak otomatis menjadi krisis domestik. Kita bisa menempatkan stabilitas sebagai prasyarat, bukan penghambat, stabilitas membuat pelaku usaha berani berproduksi, petani berani menanam, dan keluarga berani merencanakan masa depan. Itulah optimisme yang cerdas, tenang, terukur, dan menghasilkan. Ayo kita gaungkan semangat belanja bijak, produksi efisien, jangan panik dan percaya pada data.

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Yamaha XSR 250 Siap Ramaikan Pasar Indonesia
• 2 jam lalueranasional.com
thumb
Ekonom Prediksi Penutupan Selat Hormuz Bisa Bikin Defisit APBN Lampaui 4 Persen
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
SIWO PWI Pusat Kecam Intimidasi Wartawan di Laga Malut United vs PSM, Siap Adukan ke Kapolri
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Peristiwa 9 Maret: Kelahiran WR Soepratman hingga Hari Musik Nasional
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Lokasi Samsat Keliling di Jadetabek Hari Ini
• 4 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.