JAKARTA, KOMPAS - Banjir kembali mengepung Jakarta saat hujan lebat. Lebih dari seratus permukiman warga dan puluhan ruas jalan terendam air. Seorang warga juga dilaporkan tewas tertimpa pohon tumbang dampak hujan disertai angin kencang.
Hujan lebat mengguyur Jakarta dan sekitarnya sejak Sabtu (7/3/2026) hingga Minggu (8/3/2026). Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jakarta hingga Minggu pukul 12.00 WIB, sebanyak 148 RT yang tersebar di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Barat terendam banjir. Selain itu, terdapat 20 ruas jalan di berbagai lokasi tergenang air.
Di Jakarta Selatan, banjir melanda 55 RT di Jakarta Selatan. Kali Krukut, Kali Pesanggrahan, dan Kali Mampang meluap. Ketinggian air bervariasi dari 30 sentimeter (cm) sampai 1,5 meter. Wilayah terparah di Duren Tiga dan Pela Mampang.
Luapan kali membanjiri rumah-rumah warga karena penyempitan badan Kali Krukut. Bangunan mengokupasi sepanjang bantaran kali tersebut.
Di Pejaten Barat, Jakarta Selatan, sebanyak 46 keluarga atau 72 warga mengungsi ke Mushala Al Inayah. Seorang pesepeda motor juga dilaporkan tewas tertimpa pohon tumbang di Jalan Raya Lenteng Agung pukul 02.31 WIB.
Di Jakarta Timur, banjir merendam 60 RT yang turut dipicu oleh meluapnya Kali Ciliwung dan Kali Sunter. Titik terparah di Kampung Melayu dengan ketinggian banjir antara 80 cm sampai 1,25 meter serta di Cipinang Melayu setinggi 90 cm.
Wilayah terdampak banjir lainnya ialah 33 RT di Jakarta Barat. Rawa Buaya direndam banjir hingga 1,2 meter, sedangkan tinggi air di Kedoya Selatan dan Sukabumi Selatan mencapai 1 meter.
Selain permukiman warga, banjir setinggi 10 cm hingga 40 cm juga merendam 20 ruas jalan. Beberapa jalan utama yang terdampak antara lain, Jalan Daan Mogot, Jalan Ciledug Raya, Jalan Kapten Pierre Tendean, Jalan Bendungan Hilir dan Jalan Petamburan II, serta ruas jalan di Srengseng, Pesanggrahan, dan Kelapa Gading (Pegangsaan Dua).
"Hari ini di Jakarta dan sekitarnya, curah hujan itu 264 milimeter per hari. Itu termasuk curah hujan yang sangat, sangat, sangat tinggi," tutur Gubernur Jakarta Pramono Anung pada Minggu (8/3) pagi di Bundaran HI, Jakarta Pusat.
Menurut Pramono, pompa-pompa banjir disiagakan Dinas Sumber Daya Air Jakarta. Selain agar banjir cepat surut, ada potensi banjir kiriman dari hulu di Bogor, Jawa Barat.
Pramono juga menambahkan, normalisasi tiga sungai, yakni Ciliwung, Cakung Lama, dan Krukut berjalan sesuai rencana. Untuk normalisasi Cakung Lama, misalnya, ditargetkan tuntas pada 2027.
"Tetapi kalau kemudian menghilangkan sepenuhnya banjir di Jakarta, enggak mungkin. Karena permukaan air lautnya sekarang ini sudah lebih tinggi daripada permukaan tanah di Jakarta," ucap Pramono.
Terkait Kali Krukut, Dinas Sumber Daya Air Jakarta merencanakan normalisasi sepanjang 1,3 km. Pekerjaan dimulai dari segmen Tarakanita sampai Jembatan Tendean dengan area terdampak seluas 1,52 hektar dan kebutuhan pembebasan 65 bidang tanah.
Adapun untuk normalisasi Sungai Ciliwung ditargetkan sepanjang 4 km hingga akhir tahun 2027. Pembebasan tanah dikebut sepanjang tahun 2026 di Cawang, Rawajati, dan Pengadegan serta penetapan lokasi pada 10 kelurahan tersisa untuk mengejar target tahun 2027.
Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur Jakarta Yustinus Prastowo, dalam bincang media pada Jumat (6/3/2026), menyampaikan, bahwa drainase kurang memadai jadi salah satu penyebab banjir. Ini berdasarkan hasil identifikasi di lapangan.
"Drainase yang berkurang itu fakta karena pembangunan yang cukup masif dan mungkin tidak diiringi dengan pembuatan saluran-saluran baru yang lebih memadai," ujar Yustinus.
Identifikasi di lapangan juga menunjukkan dimensi saluran air sudah tidak cukup untuk menghadapi cuaca ekstrem. Ini jadi salah satu perhatian dalam Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Perencanaan.
"Didesain (saluran air) lagi agar lebih sesuai. Termasuk kaitan dengan ruang terbuka hijau (RTH) yang juga mulai berkurang dan akan melakukan revisi supaya lebih mengafirmasi upaya menjaga daya tahan lingkungan yang lebih baik," kata Yustinus.
Pemprov Jakarta, lanjut Yustinus, dalam skala lebih besar menambah waduk dan embung. Di samping itu pemerintah akan membangun tanggul laut raksasa (giant sea wall).
"Sekarang Jakarta mengerjakan yang bisa dikerjakan sekarang. Mudah-mudahan dengan skema-skema itu bisa lebih cepat," ujar Yustinus.





