Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II, Fraksi Gerindra, Daerah Pemilihan Jawa Tengah VI
REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah hampir selalu mengenal kemenangan sebagai saat paling berbahaya bagi manusia. Ketika musuh telah kalah, ketika kekuatan tak lagi tertandingi, ketika dendam memiliki semua alasan untuk dibenarkan-di situlah wajah asli kekuasaan biasanya menampakkan diri. Namun Ramadhan tahun kedelapan Hijriah menghadirkan sebuah ironi yang mengguncang cara sejarah biasa bekerja.
Mekah, kota yang dulu mengusir, menghina, dan memburu, kini berdiri tanpa daya. Pasukan Muslim memasuki kota bukan sebagai legiun penuntut balas, melainkan sebagai pembawa keputusan moral. Dalam catatan sirah seperti dirangkum dalam Ar-Raheeq Al-Makhtum, Pembebasan Mekah berlangsung hampir tanpa pertumpahan darah. Dan justru di situlah bobot sejarahnya menjadi berat.
Ramadhan kembali hadir-bulan menahan diri-tepat ketika kemampuan untuk melampiaskan diri berada di puncaknya. Seolah sejarah ingin menguji pelajaran yang telah lama ditanamkan: apakah disiplin batin yang dilatih selama bertahun-tahun itu sungguh hidup, atau hanya berfungsi selama lemah.
Mekah dibebaskan, bukan direbut. Perbedaan kata ini bukan kosmetik bahasa, melainkan perbedaan arah peradaban. Kota itu tidak diperlakukan sebagai rampasan, tetapi sebagai amanah. Berhala-berhala dihancurkan, namun manusia dibiarkan hidup. Yang ditumbangkan adalah sistem kepalsuan; yang dipulihkan adalah martabat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Di titik ini, sejarah dipaksa mengakui sesuatu yang jarang terjadi: kekuasaan yang memilih tidak membalas. Nabi Muhammad ﷺ berdiri di hadapan orang-orang yang dahulu memaksanya meninggalkan rumahnya sendiri. Kalimat yang keluar bukan daftar hukuman, melainkan pengampunan. Bukan karena lupa, melainkan karena sadar bahwa dendam hanya akan mewariskan lingkaran kekerasan yang tak berujung.
Pembebasan Mekah memperlihatkan bahwa Islam tidak datang untuk mengganti satu rezim penindasan dengan rezim lain yang lebih saleh. Ia datang untuk memutus logika lama sejarah: bahwa kemenangan harus dibayar dengan darah. Di sini, kekuatan justru dibuktikan melalui pengekangan diri.
Ramadhan 8 Hijriah menjadi penutup satu siklus panjang: dari wahyu pertama di kesunyian, puasa sebagai disiplin sosial, Badar sebagai ujian keberanian, hingga Mekah sebagai ujian terakhir—ujian paling sulit: bersikap adil ketika tidak ada lagi yang bisa memaksa kita adil.
Sejarah modern sering merayakan revolusi yang menggulingkan, tetapi lupa bertanya apa yang terjadi setelah itu. Pembebasan Mekah menjawab dengan tenang: perubahan sejati tidak selesai saat kekuasaan berpindah tangan, melainkan saat cara memegang kekuasaan ikut berubah.
Maka Mekah tidak hanya dibebaskan dari berhala-berhala batu, tetapi dari satu berhala yang lebih tua dan lebih licin: keyakinan bahwa kekuatan memberi hak untuk membalas. Ramadhan, dengan puasanya, menjadi saksi bahwa menahan diri bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kedewasaan perjalanan umat manusia.
Pembebasan Mekah tidak mengajarkan cara menaklukkan kota. Ia mengajarkan cara menaklukkan diri sendiri setelah semua pintu kekuasaan terbuka.
Dan barangkali, di sanalah letak keabadiannya: sebuah kemenangan yang tidak meminta sorak,
karena ia tahu, pertempuran yang paling sulit dimenangkan adalah pertempuran di dalam hati manusia.




