Pembangunan ekonomi & lingkungan China di mata mahasiswa Indonesia

antaranews.com
23 jam lalu
Cover Berita
Nanchang (ANTARA) - "Pendekatan China untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan sangat layak untuk dipelajari," kata Rayhan Adinugraha, seorang mahasiswa Indonesia, saat membagikan pengamatannya mengenai kemajuan ekologi negara tersebut.

Dalam satu setengah tahun yang dihabiskannya di Jiangxi, dia melakukan banyak perjalanan ke berbagai kota dan tempat wisata di provinsi itu.

Mulai dari panel surya di area-area pedesaan hingga upaya konservasi di lokasi wisata, dia memperoleh pengalaman langsung tentang pembangunan hijau China.

Dia menuturkan bahwa "energi bersih dan teknologi ramah lingkungan telah terintegrasi secara mulus dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang sangat dibutuhkan Indonesia dalam pembangunannya saat ini."

Pemuda berusia 25 tahun itu merupakan mahasiswa di Universitas Sumber Daya Air dan Tenaga Listrik Jiangxi (Jiangxi University of Water Resources and Electric Power).

Sebelum datang ke Jiangxi, dia sudah memiliki kekaguman mendalam terhadap kemajuan teknologi China yang dilihatnya melalui konten media sosial.

Dengan dukungan orang tuanya, dia memilih melanjutkan studi di China, berharap dapat mempelajari teknologi mutakhir dan pengalaman pembangunan negara tersebut untuk berkontribusi terhadap perkembangan kampung halamannya di masa depan.

Selain kemajuan ekologi China, Rayhan juga terkesan dengan vitalitas perkotaan dan kemudahan dalam kehidupan sehari-hari di negara itu.

Dia melihat bahwa pembangunan mengalami percepatan baik di perkotaan maupun pedesaan, sementara berbagai aplikasi gaya hidup membuat aktivitas seperti bepergian dan berbelanja menjadi sangat mudah.

Menurut Rayhan, lingkungan yang terhubung ini memungkinkan dirinya, bahkan sebagai pendatang baru dengan kemampuan bahasa Mandarin yang terbatas, beradaptasi dengan cepat dan terlibat dalam kehidupan setempat.

"Jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di China terus meningkat pada 2025 dan diperkirakan akan melampaui 15.000," ujar Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Stella Christie, dalam KTT Kerja Sama Universitas-Perusahaan China-Indonesia kedua 2025 yang diadakan di Jakarta.

Pernyataan tersebut menggarisbawahi tren yang semakin berkembang, yaitu semakin banyak anak muda Indonesia pergi ke China untuk melihat langsung sebuah negara yang selama ini mereka kenal melalui buku teks dan layar.




Pada Oktober 2025, Rayhan bepergian ke Jingdezhen, ibu kota porselen China, tempat dia mendalami seni keramik. Di sebuah studio lokal, dia belajar bersama para perajin ahli, menguleni tanah liat, membentuk pot di atas roda putar, dan menggambar pola.

Dengan tangannya sendiri, dia melukis desain pada benda keramik polos yang belum diglasir, dengan saksama merasakan setiap tahap dalam proses pembuatan tembikar, satu goresan demi satu goresan.

Wilbert Tanjaya, seorang mahasiswa Indonesia di Universitas Jiaotong China Timur (East China Jiaotong University), memiliki pandangan yang sama dengan Rayhan. Dia terkesan dengan kenyamanan kereta cepat China yang tak tertandingi.

Tahun ini, dia mengikuti sebuah Gala Festival Musim Semi unik yang diadakan di dalam kereta cepat. Saat para penumpang pulang kampung untuk merayakan Tahun Baru Imlek, Wilbert menghibur mereka dengan permainan gitar serta memperkenalkan kuliner Indonesia, menciptakan momen pertukaran budaya pada kecepatan sekitar 300 kilometer per jam.

Wilbert memberikan contoh yang sangat jelas. Perjalanan kereta cepat dari Nanchang ke Gunung Lushan hanya memakan waktu satu jam, sementara untuk menempuh jarak yang hampir sama di Indonesia menggunakan mobil memerlukan lebih dari 10 jam.

Ini sebuah gambaran yang jelas mengenai kesenjangan dalam infrastruktur transportasi.

"Saya tahu kereta cepat pertama di Indonesia, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dibangun dengan bantuan China," ujarnya. "Saya berharap lebih banyak proyek kerja sama seperti ini akan terwujud di masa depan, sehingga meningkatkan kualitas hidup masyarakat di kedua negara."





Ariella Tahali Fairuz Dyas, yang berasal dari Provinsi Jawa Tengah, sedang mengunjungi China untuk pertama kalinya.

Saat Imlek, dia menghadiri sebuah perayaan di pedesaan di Fuzhou, Provinsi Jiangxi, China timur, di mana dia mendapati dirinya berada di tengah kerumunan yang penuh semangat saat menyaksikan pertunjukan warga desa setempat.

Ikut merasakan semangat perayaan, dia menerima camilan dari penduduk setempat dan, dengan senyum hangat, menggunakan gerakan tubuh untuk memulai percakapan, sebuah interaksi yang sederhana namun bermakna dan melampaui perbedaan bahasa, serta membawanya lebih dekat dengan inti tradisi China.

Saat datang ke China, Ariella sudah tahu bahwa negara itu sangat maju. Yang mengejutkannya adalah menemukan bahwa negara tersebut memadukan modernisasi dengan penghormatan mendalam terhadap tradisi, sebuah keseimbangan yang sangat dikaguminya.

Melalui kehidupan dan pengalaman mereka di Jiangxi, para mahasiswa Indonesia ini tidak hanya menyaksikan perkembangan dan transformasi China, tetapi juga mengidentifikasi peluang kerja sama yang melimpah antara kedua negara.

Rayhan melihat potensi bagi Indonesia untuk bekerja sama dengan China di bidang energi bersih dan sumber daya terbarukan, sementara mahasiswa Indonesia lainnya antusias untuk bekerja sama di bidang teknologi, ekonomi digital, pendidikan, dan infrastruktur.

Bersama-sama, mereka memperkirakan bahwa hubungan antara China dan Indonesia akan semakin erat di tahun-tahun mendatang.

Mereka sependapat bahwa pengalaman studi mereka di China terbukti sangat menguntungkan.

Tidak hanya memungkinkan mereka untuk memperoleh pengetahuan khusus, tetapi juga untuk meresapi budaya yang beragam dan menyaksikan kehangatan tulus masyarakat China.

Ke depannya, mereka akan membawa pengalaman mereka di China kembali ke Indonesia, berperan sebagai jembatan untuk pertukaran budaya dan kerja sama antara kedua negara, sehingga membantu lebih banyak masyarakat Indonesia memahami China secara autentik, demikian warta Xinhua.








Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jalan Menuju Dieng Putus Akibat Longsor
• 15 jam laludetik.com
thumb
Siapa Mojtaba Khamenei, Ulama Senior yang Tak Terdengar di Politik Iran
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Harga BBM di SPBU Masih Stabil di Tengah Lonjakan Harga Minyak Dunia
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
Prabowo Bicara Target Swasembada Protein & Energi di Tengah Gejolak Global
• 51 menit lalubisnis.com
thumb
Perempuan dalam Mesin Pertumbuhan Indonesia
• 18 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.