Megawati, Ali Khamenei, dan Keadilan Dunia

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

KEMATIAN Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari 2026, dalam serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel bukan sekadar peristiwa politik regional. Ia segera menjadi isu moral global.

Pada 3 Maret 2026, Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menulis surat resmi belasungkawa kepada pemerintah dan rakyat Iran.

Surat bernomor 014/EX/KU/III/2026 itu kemudian diserahkan oleh Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan kepada Kedutaan Besar Iran di Jakarta.

Surat tersebut bukan sekadar protokol diplomatik. Ia adalah pernyataan politik tentang keadilan dunia. Megawati menegaskan beberapa hal penting.

Pertama, ia menyampaikan duka atas wafatnya seorang pemimpin yang selama lebih dari tiga dekade memimpin Iran di tengah tekanan geopolitik, sanksi ekonomi, dan ancaman militer.

Kedua, ia menyebut Khamenei sebagai sosok yang memadukan iman keagamaan, keadilan sosial, dan sikap anti-imperialisme dalam kepemimpinannya.

Ketiga, ia menegaskan kembali posisi Indonesia yang menolak segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara.

Di bagian lain suratnya, Megawati juga mengingatkan hubungan historis antara Indonesia dan Iran melalui pemikiran Sukarno.

Baca juga: Eksperimen Berbahaya Trump di Iran: Menakar Risiko Perang Tanpa Akhir

Ia menulis bahwa Khamenei sejak muda dikenal sebagai pembaca pemikiran Sukarno, terutama gagasan Pancasila dan semangat anti-imperialisme dari Dasa Sila Bandung yang lahir dalam Konferensi Asia-Afrika.

Karena itu, Megawati menegaskan satu prinsip yang telah menjadi tradisi diplomasi Indonesia sejak 1945: konflik internasional harus diselesaikan melalui dialog dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan dan penggunaan kekuatan bersenjata.

Prinsip tersebut sejatinya bersumber dari mandat konstitusional dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.

Kalimat itu bukan retorika moral, melainkan fondasi politik luar negeri Indonesia: membela kemerdekaan bangsa-bangsa dan menolak dominasi kekuatan militer dalam hubungan internasional.

Persahabatan Diplomatik

Hubungan Megawati dengan Ali Khamenei bukanlah hubungan simbolik yang muncul setelah kematian seorang pemimpin. Ia memiliki jejak sejarah yang nyata.

Pada Februari 2004, ketika masih menjabat Presiden Republik Indonesia, Megawati melakukan kunjungan resmi ke Teheran untuk menghadiri Konferensi negara-negara berkembang Developing-8 (D-8). Dalam kunjungan tersebut, ia bertemu langsung dengan Khamenei di ibu kota Iran.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana persahabatan yang hangat. Dalam surat dukanya, Megawati mengenang bagaimana ia merasakan “kharisma kepemimpinan” Khamenei ketika keduanya berdialog tentang hubungan bilateral dan masa depan kerja sama dunia Islam serta negara berkembang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Program CSR Ramadan, Adapundi Sasar Anak-Anak Disabilitas Ganda
• 4 jam lalurepublika.co.id
thumb
Aturan Ganjil Genap Jakarta Hari Ini 9 Maret 2026 Kembali Berlaku, Awas Semakin Ketat Jika Melanggar
• 9 jam laludisway.id
thumb
Jadwal Buka Puasa Batam Hari Ini 8 Maret 2026, Maghrib Jam Berapa?
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Tinggal 1 Hari, Manfaatkan Promo Ramadhan 50 Persen Tambah Daya Listrik via PLN Mobile
• 4 jam laluterkini.id
thumb
Daftar 16 Titik Banjir Jakarta Senin Pagi, Seluruhnya di Jakbar
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.