BOGOR, KOMPAS.com - Pedagang kulit beduk mulai bermunculan di Jalan Pemuda, Kota Bogor. Kulit kambing jawa itu digantung pada seutas tali dan pagar luar pabrik di wilayah tersebut.
Jualan kulit untuk beduk menjadi kegiatan musiman menjelang Hari Raya Idul Fitri untuk menambah pendapatan keluarga saat hari kemenangan.
Selain digunakan untuk mengingatkan menjelang waktu ibadah bagi umat muslim, beduk juga biasa digunakan pada kegiatan takbiran.
Kendati begitu, beduk mulai tergantikan oleh sound system yang memutar gema takbir untuk meramaikan suasana malam takbir.
Baca juga: Warga Bogor yang Mudik Bisa Titipkan Kendaraan di Kantor Polisi Terdekat
Salah satu pedagang kulit, Eman (55) mengatakan, meski beduk bisa tergantikan oleh teknologi, bagi dia, hal itu dirasa kurang.
Sebab, beduk sudah menjadi tradisi setiap Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Idul Adha untuk malam takbiran.
"Jadi beduk tuh tradisi. Kalau enggak ada beduk mah sepi malem takbiran kan (menyambut) hari kemenangan itu pasti warga ngebeduk," kata Eman saat ditemui Kompas.com, Minggu (8/3/2026).
Tergesernya beduk oleh teknologi saat ini menghilangkan ciri khas dalam nuansa perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha.
Selain itu, bila mempertahankan beduk, para pemuda dapat menghidupkan suasana masjid di lingkungannya.
"Menurut saya ciri khasnya enggak ada itu mah, enggak ada seninya. Jadi anak-anak muda tuh enggak pada pergi jadi ngebeduk dulu," jelas dia.
Untuk mempertahankan tradisi tersebut, Eman telah menyiapkan stok kulit sapi dan kambing sekitar 250-300 lembar pada tahun ini.
Dia sudah mempersiapkan ratusan kulit beduk itu sekitar tiga minggu sebelum dimulainya bulan Ramadhan. Ia mengambil kulit tersebut dari penjagalan maupun Pasar Ciampea.
Ia menjual kulit kambing dengan harga bervariatif, mulai dari Rp 120.000 sampai Rp 150.000. Sedangkan untuk kulit sapi Rp 400.000.
Eman menyediakan ukuran beduk yang terbuat dari drum dengan diameter 90 cm. Per hari, ia membawa 10 stok kulit untuk diperjualbelikan.