Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran membuat harga minyak melonjak tinggi. Saat ini, harga minyak dunia sudah mendekati level USD 120 per barel.
Dikutip dari Bloomberg pada Senin (9/3), lonjakan harga itu terjadi akibat pemangkasan produksi beberapa produsen minyak di Timur Tengah, penutupan Selat Hormuz, dan AS yang mengancam akan meningkatkan eskalasi konflik.
“Level psikologis minyak di USD 100 mungkin hanya target harga jangka pendek sebelum bergerak ke level yang lebih tinggi jika konflik terus berlanjut. Produksi minyak dipangkas karena fasilitas penyimpanan penuh akibat kapal tanker tidak dapat memuat kargo,” kata Andy Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.
Harga Brent melonjak hingga 28 persen menjadi USD 118,73 per barel dan menjadi kenaikan dalam satu hari yang terbesar sejak April 2020. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 31 persen.
Kuwait dan Uni Emirat Arab saat ini mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan cepat penuh akibat penutupan Selat Hormuz. Irak juga mulai menghentikan sebagian produksinya sejak pekan lalu.
Selain itu, terhentinya pengiriman melalui Selat Hormuz yang jadi jalur logistik sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta serangan terhadap infrastruktur energi memang telah mendorong harga minyak dan gas alam naik.
Menurut analis JPMorgan Chase & Co, pemangkasan produksi minyak di Timur Tengah dapat meluas hingga lebih dari 4 juta barel per hari pada akhir pekan depan. Hal ini karena penyimpanan penuh dan hambatan logistik terus terjadi.
Sebagai respons, Pemerintah China telah memerintahkan kilang-kilang minyak terbesar di negara itu untuk menghentikan ekspor solar dan bensin. Selain China, Korea Selatan kini sedang mempertimbangkan kemungkinan menerapkan batas harga minyak untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Tanggapan Trump soal Naiknya Harga MinyakPresiden AS Donald Trump turut menanggapi lonjakan harga minyak melalui platform media sosialnya, Truth Social. Trump mengatakan pergerakan harga jangka pendek merupakan hal yang disebutnya sebagai ‘harga yang sangat kecil yang harus dibayar’ bagi AS, dunia, dan perdamaian.
Ia menilai harga akan turun dengan cepat ketika hal yang disebutnya sebagai ‘ancaman nuklir’ Iran berhasil dihancurkan.
Meski harga minyak naik, Trump tetap melanjutkan operasi perang. Ia menyatakan bahwa AS akan mempertimbangkan menyerang wilayah dan kelompok di Iran yang sebelumnya tidak masuk daftar target.





