Indeks bergengsi LQ45 babak belur hingga anjlok 3,59% pada perdagangan saham hari ini, Senin (9/3). Anjloknya indeks yang berisi 45 saham itu seiring merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka anjlok 3,43% atau 260,32 poin ke level 7.325.
Tak hanya itu IHSG bahkan anjlok 5,56% hingga ke dasar 7.163 pada pukul 09:12 WIB. Dari 45 saham di LQ45 hanya empat saham yang bertengger di zona hijau.
Pada perdagangan intraday pukul 11:20 WIB, saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 2,97% ke Rp 27.775. Kemudian diikuti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) naik 3,12% ke Rp 1.820.
Saham lain yang bertahan hijau adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) tumbuh 1,70% ke Rp 10.475. Lalu PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 0,40% ke Rp 1.260 dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) naik 1,95% ke Rp 1.305.
Dari sebelas sektor yang ada di BEI, seluruhnya bertengger di zona merah. Sektor yang mencatatkan penurunan terbesar yakni bahan baku dengan anjlok 5,56%, kemudian industri dengan merosot 4,58%, lalu konsumer siklikal yang tergelincir hingga 5,02%.
Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor Hendra Wardana mengatakan, eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mendorong lonjakan harga energi dunia, terutama minyak mentah jenis Brent yang sempat menembus US$ 93 per barel.
Bagi negara seperti Indonesia yang masih menjadi net importir minyak, kenaikan harga energi global berpotensi menekan neraca perdagangan, nilai tukar rupiah, serta meningkatkan beban subsidi energi dalam APBN.
“Kondisi ini membuat investor asing cenderung melakukan aksi jual di pasar saham negara berkembang, termasuk Indonesia, yang terlihat dari masih terjadinya arus dana keluar (foreign net sell) di pasar saham,” kata Hendra dalam analisisnya, Senin (9/3).
Rupiah Tembus Rp 17.000 per US$ Imbas Lonjakan Harga Minyak
Seiring dengan anjloknya IHSG, harga minyak acuan dunia mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Kenaikan ini terjadi seiring dengan meluasnya perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Harga minyak Brent naik 16,4% atau US$ 15,24 menjadi US$ 107,93 per barel pada Senin pagi (9/3).
Sementara Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 16,50, atau 18,2%, menjadi US$107,40 per barel.
Hal itu menyebabkan beberapa produsen minyak utama di Timur Tengah memangkas pasokan. Ketegangan ini juga memicu kekhawatiran gangguan berkepanjangan terhadap pengiriman minyak melalui Selat Hormuz yang merupakan titik krusial.
Irak dan Kuwait mulai mengurangi produksi minyak serta Qatar yang makin mengurangi produksi gas alam cair (LNG). Kondisi ini terjadi sebab perang Timur Tengah telah menghambat proses pengiriman produksi migas dari kawasan tersebut.
Di samping itu nilai tukar rupiah dibuka melemah menjadi Rp 17.019 per dolar AS, dikutip dari Bloomberg pada Senin pagi (9/3). Mata uang garuda diperkirakan terus melemah imbas kenaikan harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 0,56% dibanding penutupan Jumat (6/3) ke level Rp 17.019 per dolar AS.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang mencapai US$ 100 per barel lebih,” kata Analis Doo Financial Lukman Leong kepada Katadata.co.id, Senin (9/3).
Kenaikan harga minyak itu dikhawatirkan berdampak besar terhadap perekonomian global dan peningkatan harga barang-barang atau inflasi.




