Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan, Senin (9/3/2026), dan sempat menyentuh angka Rp17.001 per dolar AS.
Faktor pelemahan itu, yakni meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk off) di pasar global imbas dari kenaikan harga minyak dunia.
Lukman Leong analis mata uang mengatakan kekhawatiran pasar yang muncul akibat kenaikan harga minyak dunia juga dapat menekan perekonomian global dan peningkatan inflasi menjadi pemicu atas tekanan atas rupiah.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati 100 dolar AS per barel yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” kata Lukman dilansir dari Antara.
Lukman memprediksi pergerakan rupiah hari ini berada pada Rp16.900 bahkan hingga Rp17.050 per dolar AS.
Kenaikan harga minyak global yang menjadi salah satu pemicu terjadi di tengah eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Perang antara AS-Israel dengan Iran saat ini meluas ke berbagai wilayah, hingga menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi.
Penunjukkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran juga memperkuat pandangan pasar bahwa Iran kemungkinan tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah dalam konfliknya dengan AS dan Israel.
Eskalasi konflik juga berdampak terhadap negara-negara di Timur Tengah yang memotong pasokan ekspor minyaknya imbas penutupan Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga minyak global.
Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak Brent berada di 109,53 dolar AS per barel, naik sebesar 18,17 persen, sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) AS berada di 109,82 dolar AS per barel, naik sebesar 20,81 persen.
Peningkatan harga tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global yang berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. (ant/vve/bil/iss)




